Diestha Cindy Martha, Sukses Buka Peluang Bisnis Mie Njerit hingga Ratusan Cabang

Kala itu tahun 2010, selepas lulus sekolah SMK. Wanita kelahiran Madiun tahun 1992 ini harus menerima kenyataan pahit, bisnis orang tuanya mengalami kebangkrutan. Rumah dan mobil orang tuanya disita. Ia pun menghentikan pendidikannya yang baru satu semester di bangku kuliah.

Peristiwa kelam itu masih membekas dalam ingatannya. Namun demikian hidup harus terus berjalan. Ia singsingkan lengan bajunya.  Untuk menyambung hidup ia bekerja di toko Supermarket sambil jualan skin care, sepatu dan lain lain dropshop vai onlineshop.

Baru di tahun 2013, setelah dinikahi sang pacar ia memberanikan diri terjun ke dunia usaha yakni berjulan bubur, singkong, es teh dan apa saja untuk menyambung hidup keluarga kecilnya.

Hingga pada 2016, ia dipinjami tempat usaha di sebuah grasi rumah selus 5×10 meter untuk berjualan bubur bayi MPA dari pukul 6 hingga 9 pagi. Rupanya usaha tersebut belum membuatnya puas.

Maka di tahun yang sama ia meyakinkan diri membuka usaha Mie Njerit dengan modal 15 juta rupiah. “Modal itu hasil dari kerja dan usaha bubur. Saya berpikir usaha mie lebih menjanjikan,” ujarnya.

Menurutnya, mie merupakan kuliner yang disukai hampir semua orang dari berbagai usia dan lapisan masyarakat. “Mie membuat orang kecanduan,” ungkap wanita yang akrab disapa Diestha ini.

Tidak ada guru maupun orang terdekat yang mengajarinya resep membuat mie. Produk tersebut hasil kreasinya yang memang hobi mie dan juga memasak. Butuh waktu 6 bulan bagi Diestha untuk menemukan resep yang benar-benar pas.

Nama Mie Njerit sendiri sengaja digunakan agar mudah dikenal. “Idenya agar orang tahu makan mie pedas, ada nuansa teriak dan menjerit,” jelasnya.

Produk Mie Njerit memang tidak main-main. Mienya seperti spaghetti yang lembut dengan tekstur yang kecil. Ada beragam produk dengan sensasi rasa yang bergumul di dalamnya. Menu Mie Spesial misalnya berbumbu gurih, pedas, asin dan manis. “Ini merupakan menu favorit kita yang banyak dipesan konsumen,” kata Diestha.

Menua favorit kedua, kata dia, adalah Mie Ayam Jamur.  Sedangkan yang ketiga yaitu menu Mie Seblak. “Selain itu kita juga ada menu ramen, samyam, mie mozzarella, dan lain lain,” jelasnya.

Harga menu Mie Njerit dibandrol berkisar Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Cukup terjangkau untuk segmen kalangan menengah bawah sekalipun. Ada pula menu minumn kopi dan es krim sebagai nilai tambah.

Dengan keunggulan tersebut, Mie Njerit berkembang pesat memiliki 300 cabang lebih tersebar di Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Serang, Papua, Nunukan, hingga Banjarmasin. Dalam sebulan rata-rata sekitar 3000-5000 pengunjung setiap outlenya.

Bagi yang berminat menjadi mitra bisnisnya, Mie Njerit menawarkan investasi mulai dari yang paling terjngkau yaitu paket investasi Rp 25  juta. Paket investasi ini mitra bisnis mendapat produk dan peralatan masak. “Namun belum mendapatkan peralatan usaha seperti meja, kursi dan sebagainya,” terang Diestha.

Yang kedua, paket investasi Rp 75 juta, Rp150 juta hingga Rp 500 juta. “Paket investasi ini mitra mendapatkan produk yang lebih lengkap, mendapat peralatan masak dan usaha. Untuk investasi 150-500 juta mendapatkan renovasi tempat dan lain lain,” jelas wanita berparas cantik ini.

Diestha kini merasa bersyukur dengan perkembangan bisnisnya. Tidak terbayang bisa sepesat ini pertumbuhan bisnisnya. Terlebih lagi bila mengingat perjuangan di awal usaha dimana ia memulai dari garasi rumah orang tuanya.

“Pelan-pelan saya renovasi tempat itu agar layak jadi tempat usaha. Karena kekurangan dana saya berhutang ke toko bangunan untuk beli kramik, semen, dan sebagainya dengan cara dicicil pembayarannya,” kenangnya.

Di tahun 2018, kata Diestha, Mie Njerit yang bermarkas di Madiun Jl. Utama Mulya booming. “Tahun itu banya peminat yang membeli franchise kami. Di tahun itu kami buka cabang franchise banyak sekali,” kata wanita yang membuka tawaran franchisenya pada 2017.

Cuti Hamil dan Pandemi

Di saat bisnisnya berkembang pesat tiba-tiba dikejutkan oleh pandemi. Bisnisnya yang semula buka banyak cabang pun harus direm. “Paling buka satu cabang ketika masa pandemi datang. Omzet bisnis pun turun 50%,” kata Diestha.

“Waktu itu saya lagi hamil besar anak kedua. Jadi cuti hamil. Akhirnya otak saya tidak jadi cuti meski fisik tetap cuti, karena harus memikirkan bisnis agar tetap bertahan dan tidak ada pengurangan karyawan,” jelasnya.

Diestha pun mengambil kebijakan pengurangan jam kerja. “Dalam satu Minggu karyawan hanya masuk tiga kali, hal itu untuk pengurangan gaji. Saya pun menggaji mereka dari hasil tabungan saya sendiri, karena omzet tidak stabil,” kenangnya.

Tidak sampai disitu, agar omzet bisnis tetap berjalan ia membuat paket menu untuk penjualan online. “Saya putar otak bagaimana agar produk terjual di online, cukup banyak orang yang order di online,” ujarnya.

Dalam bisnis, Diestha berprinsip untuk senantiasa berbuat yang terbaik dan bersikap baik kepada semua orang. “Dari sikap itu ada saja jalan rezeki Yang yang diberikan Tuhan,” tutur wanita berpenampilan jilbab ini.

Bagi yang ingin terjun ke duni bisnis ia berwasiat untuk pantang menyerah. “Tekuni saja bisnis yang sedang dijalani, dengan sendirinya kesuksesan mencari jalannya sendiri,” pungkasnya berwasiat.

Zaziri

93 thoughts on “Diestha Cindy Martha, Sukses Buka Peluang Bisnis Mie Njerit hingga Ratusan Cabang”

Comments are closed.