BUKAN AYAM BANGKOK

Saya sedang ada di Chiang Mai-Thailand ketika menuliskan artikel ini. Bersama peserta dari berbagai negara anggota yang mengikuti workshop Asian Productivity Organization, kami sempat makan malam ‘ngemper’ di salah satu hypermarket disini. Sebelumnya kami sempat berputar-putar mencari makanan yang cocok untuk semua tapi gagal karena selera berbeda-beda.  

Ada kawan yang pesan semacam mie laksa dan mendapat lauk ayam suwir. Ada juga yang dapat sayap dan nyaris hanya tulang dibungkus kulit karena dagingnya sedikit, dan ada juga yang dapat ‘dengkul’ ayam karena kebagian paha ayam berukuran mini. Maka nyeletuklah salah satu rekan peserta “Bukan ayam Bangok sih”. Maksudnya kalau ayam Bangkok mustinya berukuran besar.

Dari sudut pandang pengelolaan usaha dengan sistim waralaba, kejadian di atas memberi beberapa makna akan pentingnya beberapa hal berikut:

1.          Standarisasi

Sebagai pelaku usaha waralaba, kita paham bahwa standarisasi merupakan salah satu esensi penting bagi penjual dan pembeli. Kalau seandainya malam itu kami makan di restoran KFC, tentu akan mendapat jenis makanan, kualitas dan ukuran ayam yang relatif homogen.

Memang tidak semua konsumen KFC minta ayam berukuran besar. Ada yang minta ‘paha kanan’, ada juga yang sukanya ‘paha kiri’. Waktu masih jadi anak kos jaman kuliah S1 dulu, kalau ke KFC saya mintanya ‘dada kanan’ atau ‘paha kanan’. Maksudnya minta yang berukuran besar, seperti kawan saya yang minta ‘ayam Bangkok’ tadi. Maklum kalau menggunakan analogi pemain bulu tangkis (kecuali yang kidal), biasanya otot tangan yang kanan berukuran lebih besar dari yang kiri.

Standarisasi pada sistim waralaba tidak sekedar pada hal-hal yang bersifat fisik seperti interior atau ukuran menu makanan; tetapi lebih dalam lagi pada wacana, sikap mental maupun pemahaman dari franchisor dan franchisee terhadap bisnisnya.  

2.          Layanan berkualitas

Kalau jual makanannya di emperan toko, cukup menyediakan tikar atau bangku kecil dan konsumen makan sambil bercengkerama sesukanya. Sesekali nyamuk dan lalat ikut juga ‘numbrung’. Sementara di restoran waralaba disediakan meja dan kursi yang sudah diperhitungkan aspek ergonomis dengan suasana yang nyaman karena standar layanan termasuk yang mendapat perhatian besar.

3.          Merek bagus

Ketika rekan saya menyebutkan kata “ayam Bangkok”, maka yang ada di benak pikirannya adalah sederetan nama merek yang menggunakan kata Bangkok seperti: durian Bangkok, jambu Bangkok, lengkeng Bangkok dan bangkok-bangkok yang lain.  “Bangkok” dikenal luas dan dipersepsi punya makna berkualitas bagus, khususnya untuk produk pangan.

Merek dalam pengelolaan bisnis dengan sistim waralaba merupakan hal yang mutlak.  Boleh dikata kalau belum punya merek yang kuat maka semestinya bisnis bersangkutan belum layak diwaralabakan.

Corporate Strength

Lalu bagaimana bisnis dengan sistim waralaba semestinya dikembangkan? Dengan menggunakan model The 5 Corporate Strategy, maka salah satu yang perlu dilakukan oleh franchisor dan franchisee adalah membangun Corporate Strength and Competence.

Beberapa unsur Corporate Strength yang perlu dimiliki oleh franchisor untuk ‘ditularkan’ kepada franchisee adalah: 

1) Personnel Competency

Personnel competency diukur dari segi knowledge, skill dan attitude. Sertifikasi kompetensi merupakan salah satu pola pengembangan kompetensi yang perlu dipertimbangkan oleh para pengelola sistim waralaba.

2) Financial Sustainability

Mendapatkan positive cash flow yang berkelanjutan perlu mendapat perhatian apalagi di jaman susah seperti sekarang, karena menggambarkan kelanggengan keberadaan perusahaan dan kemampuannya untuk terus tumbuh di jangka panjang.

3)         Distribution Network

Distribution network sebagai corporate strength tidak hanya dipetakan secara ‘horisontal’ dalam bentuk distribution coverage, tetapi juga harus secara ‘vertikal’  dalam bentuk penguasaan lapisan-lapisan distribusi dan supply chain management termasuk aplikasi teknologi informasi. 

4)         Brand Power

Kehebatan Brand Power sebagai sumber Corporate Strength bisa diukur dari kinerja brand awareness, brand knowledge, brand image, brand preference dan brand admire.

5)         Innovation and Technology

Keunggulan teknologi sebagai corporate strength bisa diukur dari faktor penguasaan teknologi, pemanfaatan dan pengembangan. Sementara Inovasi terkait dengan keberadaan budaya kreatif, sistem penghargaan atas inovasi dan track record inovasi. 

Sinergi dari beberapa corporate strength di atas menghasilkan Corporate Core Competence, yang menjadi kekuatan khas peusahaan franchisor yang bisa ‘ditularkan’ ke para franchisee dalam rangka membangun kemampuan bersaing berkelanjutan.  

Jadi mengelola perusahaan dengan sistim waralaba memang tidak bisa hanya bermodalkan persepsi ‘ayam Bangkok’ semata. Tidak bisa hanya nekad membangun jaringan franchise dari ‘wangsit’ saat tidur semalam. Dituntut tanggung jawab yang lebih besar dari para franchisor yang didasarkan pada pembangunan corporate core competence.

Handito Joewono

Chief Strategy Consultant ARRBEY