BISNIS DIKAYUH, SIAPKAN SDM TANGGUH!

Pertumbuhan bisnis waralaba yang meroket dalam beberapa tahun belakangan sesungguhnya di satu sisi membawa dampak positif kepada penyerapan tenaga kerja yang tidak sedikit. Namun di sisi lain, keterbatasan kualitas tenaga kerja, yang diperparah oleh minimnya pelatihan dan pembinaan, mengakibatkan langkah waralaba menjadi seret dan rentan ambruk.

Banyak perusahaan yang berkonsultasi dengan kantor saya baik melalui telpon maupun sms untuk mendiskusikan mengenai strategi maupun organisasi bisnis, mulai dari perusahaan kecil, menengah sampai perusahaan besar. Belakangan di antara perusahaan kecil dan menengah banyak pula yang mencanangkan strategi pengembangan bisnis melalui pola lisensi atau waralaba. Bahkan ada pula perusahaan besar yang mengembangkan pola kemitraan dengan wirausahawan untuk membentuk unit-unit penjualan dengan pola waralaba. Selain mendiskusikan strategi bisnis, branding & marketing, taktik operasional, kerap saya ajak membahas aspek organisasi dan sumber daya manusia. 

Saya selalu mengingatkan bahwa pola waralaba bukan main-main dan jalan pintas untuk cepat kaya seenaknya. Maklum, mayoritas waralaba lokal memang berskala kecil, dikelola pribadi (suami isteri), tanpa manual manajemen, bahkan tanpa organisasi. Lihat saja di pameran-pameran, walaupun gerai sudah belasan, puluhan, bahkan ratusan, masih samar manajemen model apa yang diterapkan, professional atau tidak, apalagi mengingat semua masih ditangani ’suami isteri’. Salah sih tidak, tapi mungkin agak aneh kalau bisnis diakui berkembang tapi manajemennya tidak. Tidak heran bila banyak waralaba lokal dikeluhkan karena layanan purnajual minim, akibat minimnya tenaga professional yang dimiliki untuk membina hubungan yang berkelanjutan dengan para terwaralaba.

Jelas sekali waralaba bukan hanya sekedar masalah kecepatan balik modal, popularitas karbitan, cepat naik daun cepat pula pudar, namun juga organisasi bisnis yang jelas, lanskap bisnis yang memiliki orientasi jangka panjang, serta kualitas sumber daya manusia yang memadai, atau setidaknya dipersiapkan seksama. Saya memberikan pencerahan kepada banyak pegawai pra-pensiun, mahasiswa ataupun sarjana baru serta mereka yang ’banting setir pindah kwadran’ dari karyawan menjadi pebisnis. Umumnya saya membahas mengenai kewirausahaan, peluang bisnis dan waralaba. Saya selalu tidak lupa menekankan aspek SDM. Saya mengingatkan pula bahwa lemahnya SDM bisa merontokkan bisnis, kualitas SDM yang memble karena dibayar murah ibarat ’give the peanut and get the monkey’.  Mungkin beberapa hal pokok berikut dapat menjadi acuan.

Persiapkan SDM yang handal dan kompeten

Kalau Anda berbisnis makanan, sebaiknya ada SDM yang memahami bidang yang relevan. Pelayannya pun harus merupakan SDM yang sudah terlatih, bukan asal maksa kualitas, misalnya pembantu rumah tangga disulap menjadi waitress resto atau cafe. Rekrutmen karyawan harus memiliki model dan aturan yang baku, mengacu kepada kualifikasi kompetensi serta proses seleksi yang seksama. Demikian pula bila Anda berbisnis pendidikan, salon, apotik atau apapun, kompetensi merupakan syarat mutlak. Apotek saja bila tanpa apoteker yang aktif dan full-time, dapat dianggap kurang memenuhi syarat.

Pelatihan yang berkelanjutan.

Sejauh ini saya sering melihat bahwa nilai indeks prestasi formal tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kinerja yang dihasilkan. Konsep dan teori akan sangat jauh berbeda ketimbang praktek. Perubahan-perubahan berjalan cukup cepat dan pelatihan merupakan hal penting untuk membuat SDM tetap ’updated’ dengan pengetahuan dan ’stay fresh’.

Libatkan SDM secara aktif dalam inovasi

Salah satu kunci memenangkan persaingan adalah inovasi yang membuat produk atau layanan akan kian unik, berbeda dan kompetitif. Inovasi lahir dari terobosan-terobosan yang kadangkala liar dan gila, namun tetap harus di-manage. Pembiasaan melibatkan SDM agar memikirkan hal-hal baru, menggagas perubahan dan penyegaran, akan membuat mereka juga dinamis, tidak terbiasa dengan kenyamanan yang akhirnya susah berubah dan lamban.

Kaderisasi

Struktur organisasi dengan peta kompetensi yang jelas tentunya akan membantu kita memiliki panduan melakukan kaderisasi professional yang tangguh, agar bisnis berkembang, organisasi SDM juga menjadi pilar yang kokoh untuk menopang. Sudah mulai banyak pewaralaba yang mengembangkan pusat pelatihan, membuat program pengembangan manajemen, mempersiapkan SDM untuk ditempatkan di gerai-gerai, memiliki modul-modul pelatihan yang terstruktur dan sistematis. Biasanya pewaralaba global jauh lebih siap dalam hal ini, sementara pemain lokal seperti seperti Alfamart, Furnimart, Farmakita dan beberapa lainnya.

Penghargaan

Salah satu kelemahan pokok dalam manajemen SDM perusahaan lokal termasuk perusahaan keluarga adalah dalam hal sistem kompensasi dan penghargaan. SDM yang tangguh, kompeten dan professional pasti dapat diukur prestasinya secara signifikan, bukan hanya loyalitasnya. Dan prestasi tersebut perlu dihargai, bukan hanya secara materi, namun juga secara moril dan psikologis, rasa nyaman, bangga, dan mendapat pengakuan, akan membuat SDM senantiasa terpacu untuk berbuat lebih dengan rasa memiliki yang tinggi.

Jadi, apa bisnis Anda sudah dipersiapkan dengan SDM yang tangguh, atau masih ’one-superman-show’ yang tangguh…….

Jahja B Soenarjo

DIREXION Strategy Consulting