Autopilot ?
Beberapa waktu lalu, dan mungkin sampai dengan hari ini, kata-kata “autopilot” menjadi trend dalam gimmick untuk menjual jasa konsultasi, coaching, bahkan waralaba. Autopilot tersebut bermakna, “ketika anda jalan-jalan, bisnis anda bisa tetap jalan.” Meski demikian, sesungguhnya resiko terjadinya penyimpangan tetap ada. Operated by franchisor Istilah “autopilot” ini mungkin cocok untuk bisnis yang operated by franchisor (dijalankan oleh pewaralaba). Dalam hal ini, kualitas autopilot ini sangat bergantung pada jam terbang pewaralaba. Autopilot ini sebenarnya memiliki konsekuensi yang lumayan tinggi bagi pewaralaba yang menjadi operator-nya. Akurasi laporan keuangan merupakan salah satu konsekuensi logis dari janji autopilot. Di sisi lain, rendahnya kualitas pengawasan bisa berakibat pada terjadinya kehilangan barang, rendahnya mutu pengelolaan stok barang, hingga perilaku tidak disiplin dari para pegawai. Pewaralaba yang menjanjikan autopilot harus mampu meminimalkan terjadinya hal-hal tersebut. Masa kritis 2 minggu pertama Seorang pebisnis restoran yang cukup berpengalaman mengatakan bahwa dua minggu pertama setelah pembukaan gerai merupakan masa kritis. “Anything can happen,” ia menjelaskan. Artinya sebaik apapun persiapan opening atau launching itu, seringkali terjadi hal-hal yang tidak terduga, sehingga keputusan yang cepat dan tepat harus segera diambil saat “peristiwa luar biasa” itu terjadi. Untuk itu, ia akan melakukan pengawasan ketat selama dua minggu pertama. Hal ini ia lakukan dengan hadir secara fisik maupun dengan meminta laporan setiap hari dari manager yang bertugas, atau mengawasi melalui internet CCTV. Masa kritis 1-2 tahun Ada pendapat bahwa suatu bisnis memerlukan waktu 1-2 tahun untuk menemukan konfigurasi tim kerja yang tepat. Dalam 2 tahun pertama biasanya terjadi keluar masuk pegawai. Hal ini bisa terjadi karena pegawai yang tidak disiplin, tidak memenuhi target kinerja penilaian, atau pegawai tersebut mengundurkan diri atau ia menghilangkan diri alias kabur begitu saja. Saya menyebut ini sebagai masa kritis 1-2 tahun. Dalam konteks autopilot, tentu masa kritis ini harus mendapat perhatian lebih. Sistem yang baik tidak bisa berjalan tanpa kehadiran orang-orang yang tepat. Kebocoran Ada pula pendapat bahwa perusahaan yang besar, yang seolah sudah autopilot melalui kepemimpinan para profesional, seringkali banyak kebocoran dan korupsi di dalamnya. Mungkin pendapat seperti ini dilontarkan para pebisnis yang mencoba memasok produk dengan harga yang lebih kompetitif tapi tidak berhasil, sehingga pendapat ini tergolong subyektif. Meski demikian, hal kebocoran tersebut bisa saja benar kalau sistem autopilot itu tidak memiliki prosedur kontrol dan cross check yang ketat. Kondisi normal Fakta: “fitur autopilot tidak bisa menggantikan peran pilot”. Autopilot cocok untuk kondisi yang normal. Ketika terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan, maka ketrampilan pilot sangat dibutuhkan. Ketika panel-panel di ruang cockpit memberikan informasi yang mencurigakan, pilot harus mengambil keputusan yang tepat dengan cepat. Hal ini berarti kehadiran anda sebagai entrepreneur selalu dibutuhkan, entah di lapangan atau di kantor pusat. Dan sebagai pilot yang tak tergantikan oleh fitur autopilot, anda harus jeli membaca laporan dan rasio-rasio keuangan setiap gerai milik anda maupun milik terwaralaba anda. Anda harus jeli melihat kejanggalan, dan segera mengambil keputusan yang tepat dengan cepat. Mengapa perlu autopilot Bila tetap perlu pilot, mengapa di pesawat ada fitur autopilot? Mungkin pertanyaan ini terlintas di pikiran anda sekarang. Kimberly Weisul, di majalah Inc, dengan baik menjelaskan bahwa fitur autopilot di pesawat misalnya, memungkinkan pesawat “berjalan sendiri” ketika terbang di ketinggian 30.000 kaki. Pilot bisa rileks dan memberikan kemampuan terbaiknya di saat-saat penting seperti tinggal landas, ketika dalam proses mendarat, dan waktu terbang di tengah turbulensi. Pewaralaba, dan pebisnis pada umumnya, dengan memiliki Standar Pedoman Operasional (dengan tim yang solid), bisa memusatkan perhatian pada hal-hal yang kritis dan tidak terkuras waktunya dengan terlibat pada detail operasional sehari-hari. Semoga bermanfaat. Utomo Njoto-Senior Franchise Consultant FT Consulting
TERUJI
Ada satu kata yang paling saya suka dalam waralaba: TERUJI. Sayangnya, tidak sedikit pebisnis yang mewaralabakan bisnisnya ternyata mengabaikan pentingnya keterujian ini. Teruji pencapaian omse
Read More
Salah Kaprah!
Ada banyak salah kaprah dalam waralaba yang perlu diluruskan. Salah kaprah ini telah menimbulkan konflik-konflik yang seharusnya bisa dihindari, atau setidaknya diminimalkan. Dalam kesempatan ini saya
Read More
Selalu Ada Pilihan
Beberapa pewaralaba memilih untuk “tiarap” ketika melihat pewaralabaan bisnisnya tidak segera tinggal landas, atau ketika mengalami stagnasi di tengah pertumbuhannya. Mereka enggan untuk meneruska
Read More
Melewati Krisis
Setiap krisis memiliki dimensi dan dampak yang berbeda. Krisis tahun 1997-1998 misalnya, berdampak besar pada bisnis perbankan dan konglomerasi di Indonesia. Saat itu tercatat sedikitnya ada 16 bank d
Read More