Anita Feng, Pehobi Brand yang Sukses Kembangkan Royal Garden Spa

Sebagai wanita yang hobi mengelola brand, tangan dinginnya pun terbukti ampuh begitu memainkan bisnis spa. Di tangannya, Royal Garden Spa berkembang menjadi waralaba spa terdepan dan mendapatkan penghargaan sebagai waralaba paling siap go global. Seperti apa kisahnya?

Sejatinya wanita cantik dan energik yang satu ini adalah seorang spa lover. Meski demikian ia memulai bisnis pertamanya dengan membuka bisnis catering ketika dirinya baru hijrah ke Jakarta. Bisnis tersebut terus dilakoninya di sela-sela waktunya sebagai profesional yang tengah meniti karir cemerlang sebagai Brand Manajement di perusahaan multinasional.

“Kebetulan saya waktu itu menjadi profesional sebagai brand management. Karena saya senang mengelola brand. Sebelumnya saya juga jadi trainer, pernah sebagai brand marketing termuda, head manager termuda, kemudian orang nomor satu marketing di perusahaan multinasional kurir logistik,” ujar Anita Feng, ST, MM.
Sebagai Brand Management, ia memang punya hobi membangun brand, ingin melahirkan brand lokal kebanggaan Indonesia. Maka pada tahun 2010 ia mendirikan bisnis spa dengan nama Royal Garden Spa di bilangan Jakarta Selatan.

Tangan dinginnya mulai terlihat di sektor bisnis spa. Royal Garden Spa berkembang dari satu outlet menjadi dua outlet. Saat Royal Garden Spa mendirikan outlet ketiganya ia pun memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai profesional di perusahaan multinasional tatkala karirnya tengah mentereng.

Ia ingin fokus mengembangkan Royal Garden dan menjadikannya sebagai bisnis terdepan di bidang kecantikan spa. “Usaha catering saya masih jalan namun kini dialihkan kepada pihak ketiga baik SDM-nya maupun peralatannya. Saya pun berhenti sebagai profesional dan benar-benar konsentrasi membesarkan Royal Garden,” jelas Sarjana S1 Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret dengan predikat lulusan tercepat ini.

Diakuinya, dirinya memang seorang spa lover, dalam satu minggu bisa dua kali treatment spa. Namun demikian, Anita Feng melihat fenomena bahwa spa premium mahal sekali harganya bisa 700 ribu rupiah untuk satu kali treatment. “Sementara itu spa yang ekonomis terkadang ada resiko iritasi, stafnya tidak berseragam, outletnya berisik. “Di situ saya melihat celah kalau spa harus dikelola secara profesional,” katanya.

Nah kehadiran Royal Garden Spa memenuhi kebutuhan yang selama ini tidak terdapat di bisnis spa menengah bawah, menawarkan jasa dan produk premium dengan harga terjangkau. Merek Spa ini sudah dilengkapi lebih dari 50 item produk dari bahan aktif alami dan sudah memiliki nomor badan POMnya, lulus uji toksikologi, demartomologi sehingga aman untuk anak di atas satu tahun sekalipun.

“Produk kita sangat lengkap mulai dari body  care, beauty center untuk slimming anti aging, hair remove supaya bulu tidak tumbuh lagi, perawatan kepala dan kulit rambut. Ada pula hair treatment sampo, hair spa, untuk wajah, masker wajah. Untuk bodi mulai dari massage oil, massage whitening, massage lulur green tea, lulur cokelat dan sebagainya,” papar Sarjana S2 magister management Prasetiya Mulya with Dean’s list predicate ini.

Untuk paket waralabanya, Royal Garden Spa menawarkan paket combo kombinasi body care dan beauty center, juga paket one stop solution kombinasi body care, beauty center dan beauty clinic. “Investasi waralabanya mulai dari harga Rp 416 juta. Untuk lebih detailnya bisa kunjungi website kita,” ujar Anita Feng.

Anita Feng merasa waktu berjalan begitu cepat, Royal Garden Spa tidak terasa sudah berusia 14 tahun. Hebatnya lagi, Royal Garden Spa kini sudah memiliki 69 outlet dan meraih berbagai penghargaan bergengsi dengan memenangkan 33 penghargaan tingkat nasional antara lain dari SWA, Bank Mandiri, Prasetya Mulya dll. “Outlet kami tersebar di seluruh wilayah Indonesia mulai Jakarta,  Cibubur, Madiun, hingga di Gorontalo, NTT dan daerah lainnya,” terangnya.

Tidak sampai di situ saja, Royal Garden juga kini bergerak di tiga bidang utama yaitu bidang IT, waralaba, dan kontraktor sipil dan interior dimana customernya ada HM Sampoerna Philips Morris, Reksa Medika, L’oreal, Sinarmas, dan deretan perusahaan nasional maupun multinasional lainnya.

Lalu apa kunci suksesnya? “Saya percaya belajar berenang terbaik adalah langsung terjun ke kolam berenang bukan belajar dari luar kolom berenang. Karena itu begitu memulai bisnis saya langsung terjun ke bisnisnya mulai dari survei lokasi, layout, sambil continuous improvement. Maka dengan mengambil waralaba ini sudah siap SOP dan SOF,” tutur Anita Feng.

Selain itu, kata dia, bisnis yang dijalaninya mengandalkan one team work bukan one man show. “Maka kami membuat operasional manajemen, marketing management, customer service, tim gudang, tim IT semuanya saling support.

“Kami juga sudah memiliki outlet training center sendiri, memiliki data base puluhan ribu sehingga kami bsa broadcast dan engagement dengan customer. Kami juga punya kurikulum sendiri baik ujian lisan maupun tulisan sehingga memastikan training center menjadi profesional terapis,” bebernya.

Dalam hal administrasi, lanjutnya, Royal Garden Spa punya royal Integrated Resource Planning (IRP) dilengkapi dengan HRIS yaitu sistem informasi sumber daya untuk Human Resource, “kami percaya sistem kontrol yang terintegrasi membantu semua outlet dan semua sistem,” tandasnya.

Sementara untuk pemasaran, Anita Feng percaya dengan the value of Brand itu sendiri bahwa brand kami selalu melakukan continuous improvement, passion for excellence, never give up spirit dan deal dengan cara menjadikan brand dengan value tertinggi. “Sehingga menjadi brand pilihan franchisee. Brand itu berproses yang penting kita konsisten melakukannya,” ungkapnya.

Anita Feng sendiri memulai bisnis Royal Garden Spa dengan modal 100 juta untuk biaya sewa ruko dalam setahun. “Karena bajet mepet kita negosiasi bagaimana bila sewa 3 tahun dengan pembayaran 6 bulan sekali karena di Jakarta Selatan memang sewa mahal. Namun kami bersyukur untungnya outlet kita sudah menguntungkan, kita bisa dapat 8 customer perhari saja potensi profit sudah bisa lebih dari 30 juta perbulan,” jelas.

Kendati demikian bukan berarti bisnisnya lancar-lancar saja. Pertama memulai bisnis Anita harus melalui proses uji coba terlebih dahulu. “Seperti bahan baku itu kita melalui proses trial and error, dimana baru kita bisa membuat SOP dan SOMnya. Namun setiap proses kita sudah terlatih untuk terbiasa mencari solusinya karena saya sudah punya pengalaman mengelola brand di sebuah perusahaan sebelumnya,” ujarnya.

Pandemi Sebagai Pencarian Solusi
Pandemi umumnya dipandang sebagai ancaman bagi banyak para pebisnis. Namun tidak demikian bagi Anita Feng. Ia memandang Pandemi Covid19 sebagai salah satu taqdir yang harus dihadapi. “Saat pandemi kami tidak menyalahkan keadaan, karena kami terbiasa untuk mencari solusi dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Karena pandemi di awal begitu ketat di Jakarta dan Jawa, katanya, maka ia mencari solusi dengan memanfaatkan membuka outlet- outlet di luar di pulau Jawa. “Sementara di Jakarta kami fokuskan untuk membangun basis online yang kuat, hingga kini basis online ini menjadi penopang outlet-outlet luar pulau Jawa,” ungkapnya.

Selepas pandemi Anita Feng semakin leluasa melakukan pergerakan untuk memperkuat dan memperluas pasar  Royal Garden Spa di luar negeri. Pasalnya, produk kecantikan Indonesia sudah dikenal luas terutama di Asia. “Untuk kecantikan di Indonesia itu one of the best in the word, waktu kami pameran di Hongkong bersama AFI pengunjung di sana berucap kecantikan terkenal itu Thailand dan Indonesia,” katanya.

Rencana kedepan, ia mempersiapkan ekspansi ke luar negeri terlebih lagi Royal Garden Spa telah mendapatkan penghargaan sebagai waralaba paling siap go global, “dan untuk dalam negeri memantapkan diri menjadi pemain waralaba terdepan di bidang kecantikan,” tandasnya.

Selain membaca firman Tuhan di pagi dan siang hari, Anita Feng juga hobi menonton film baik di bioskop maupun di Netflix, karena dari situ seringkali dirinya mendapatkan perspektif baru dan ide-ide kreatif.

Zaziri