Tips Menjadi Manajer Franchise

Franchising membutuhkan cara pengelolaan tersendiri. Kenapa demikian? Karena penanganan cara pemasaran dengan sistem franchise ini berbeda dengan cara penanganan berbisnis pada umumnya. Dalam bisnis secara umum, semua kesempatan (opportunity) menjadi target pencapaian diri sendiri. Semua ini dikejar untuk dimiliki oleh bisnis itu sendiri. Semua ini dicapai untuk meningkatkan sales sehingga dapat memberikan keuntungan bagi bisnis itu sendiri. Paradigma bisnisnya adalah terciptanya Sales untuk diri sendiri.

Dalam franchising adalah terbalik halnya. Semua kesempatan (opportunity) dikejar, tetapi bukan untuk diri sendiri. Untuk siapa? Untuk para Franchisee. Paradigma bisnisnya adalah menciptakan Sales dan atau keuntungan untuk Franchisee. Atau dengan kata lain paradigma bisnisnya adalah Service.

Dalam menjalankan penanganan sistem franchise seperti tersebut diatas, dibutuhkan pelimpahan hak untuk dapat mengambil keputusan secara mandiri. Dan pengambil keputusan tersebut tentunya harus memiliki paradigma bisnis yang berbeda, yaitu service. Dengan demikian baru pengambil keputusan tersebut dapat menjalankan misinya (sistem franchise) secara benar dan tepat.

Apa pangkat pengambil keputusan dalam hal operasional di sebuah wadah organisasi? Dalam sebuah wadah organisasi yang besar, secara karir atas kemampuan pelaksanaan kerja/ operasional, pangkat tertinggi adalah General Manager. General Manager dan para Manager adalah orang-orang pelaksana yang mendapat kuasa Direksi untuk mengambil keputusan sesuai arahan tujuan perusahaan. Akibatnya, dibutuhkan minimal seorang Manager untuk memimpin operasional franchising.

Apa dilema seorang Manager Franchise dalam melaksanakan tugasnya? Dilemanya adalah bahwa dia (bersama team kerjanya) adalah orang-orang yang cara berpikirnya berbeda dengan orang-orang dari divisi lainnya. Padahal mereka berada dalam satu wadah organisasi yang sama. Perbedaan ini timbul karena paradigma bisnis yang berbeda. Contoh, bagi divisi distribusi, pemenuhan stok pada toko sendiri adalah lebih penting dari pada pemenuhan stok toko “orang lain” (Franchisee). Sedangkan bagi divisi franchise, kepentingannya adalah sama dan harus adil.

Bagi divisi Training, pelatihan bagi karyawan sendiri adalah lebih penting dari pada karyawan “orang lain” (Franchisee). Tetapi tidak demikian bagi divisi franchise. Malah lebih penting pelatihan bagi karyawan “orang lain” (Franchisee) dari pada karyawan sendiri. Hal ini disebabkan dalam tubuh organisasi “orang lain” (Franchisee) tidak memiliki ahli-ahli operasional seperti yang ada pada “perusahaan sendiri” (Franchisor). Dilema ini sering menjurus kepada pertengkaran dan hanya dapat diredakan oleh orang yang mengerti sistem franchise.

Sebenarnya, akan lebih efektif bila “divisi” franchise merupakan sebuah organisasi yang mandiri (perusahaan tersendiri), karena tidak ada faktor lain (internal) yang “menghambat” misi yang dijalankan. Atau akan menjadi efisien bila “divisi” franchise dipimpin oleh seorang direksi.

Tapi, bila tidak memungkinkan, seperti apa kualifikasi seorang manager franchise? Pertama, memiliki paradigma bisnis service sesuai keterangan diatas. Kedua, tidak mudah terpengaruh (sehingga berubah) oleh paradigma bisnis divisi lain. Ketiga, dapat mengerti penolakan divisi lain, serta mampu mengatasi secara baik. Keempat, menguasai bisnis model yang dipasarkan secara franchising.

Selamat berbisnis,


Royandi Yunus, IFBM Consulting