Membeli Waralaba; Hati-hati Yes, Takut No

Mengapa harus takut membeli hak waralaba? Membeli hak waralaba  justru menjadi peluang besar untuk sukses di bisnis bagi siapapun, tidak perlu pengalaman bisnis sebelumnya.

Yang penting dan harus dikerjakan sebelum membeli hak waralaba adalah “investigative before investing.” Jadi, telitilah segala sesuatunya terkait dengan investasi waralaba dan potensi  pasar  waralaba yang hendak Anda beli itu.

Misalnya, teliti mengenai hitungan investasi (dan berapa lama ROI-nya). Kemudian seberapa besar  potensi pasar  atau potensi pelanggannya. Bagaimana rekam jejak Pewaralaba, isi perjanjian, dan lain-lain.

Di dalam waralaba tidak ada janji pasti sukses atau tidak ada jaminan terwaralaba pasti sukses. Kalaupun ada yang memberi jaminan sukses maka itu adalah bentuk dari  “penipuan terselubung” dan “praktek bisnis tidak sehat”.

Yang perlu diketahui publik dalam investasi waralaba adalah track record pewaralaba. Pewaralaba hanya perlu menyampaikan bahwa berdasarkan pengalaman Pewaralaba secara empiris, usaha waralabanya sukses”. Karena dalam waralaba tidak ada jaminan.
Nah, pengalaman pewaralaba yang sukses itulah yang harus menjadi keyakinan terwaralaba untuk bisa sukses menjalankan bisnis waralaba.

Jadi yg ditekankan disini adalah track record, bukan janji kesuksesan. Oleh sebab itu, sekali lagi,  tidak ada jaminan bahwa usaha tersebut (waralaba) pasti sukses. Yang ada adalah, pemberian atau penyajian  data empiris dari Pewaralaba, bahwa usaha tersebut sukses.

Dengan begitu, tidak ada alasan bagi mereka yang berminat untuk menjadi terwaralaba takut dan ragu untuk terjun di bisnis waralaba.

Bisnis Waralaba itu justru memberi pelung sangat besar. Namun sekali lagi, dalam berinvestasi waralaba para franchisee harus “investigate before investing.”

Yang jelas, bisnis waralaba memiliki plus dan minus. Plusnya, membeli  waralaba adalah membeli pengalaman sukses. Jadi kita tinggal belajar dari pengalaman tersebut. Dan pengalaman adalah guru yang baik.

Minus-nya, membeli waralaba itu  tidak bebas. Sistem waralaba sudah mengatur semuanya, Anda tinggal mengikutinya.

Pengamat franchise dari BenWarg Consulting, Bije Widjajanto menjelaskan, menjadi terwaralaba bukan soal takut atau berani. “Bisnis itu semua ada pertimbangannya. Orang mau beli franchise tentu pertimbangan utamanya adalah potensi bisnis dan profitabilitasnya. Dengan menggunakan analisa bisnis yang benar tidak ada itu istilah takut atau berani. Kalau hasil analisanya mengijinkan, mereka akan masuk, sebaliknya kalau tidak ada potensi atau profitabilitasnya rendah ya mereka tidak akan masuk. Sesederhana itu dalam bisnis,” katanya.
 
Bije juga mengakui, franchise itu bukan janji. “Saya pikir masyarakat harus diedukasi ke arah sana. Bisnis yang difranchisekan seharusnya memenuhi syarat-syarat teknis seperti: terbukti menguntungkan, memiliki sistem manajemen efektif, mampu memberikan dukungan manajemen berkualitas, punya brand yang kuat dan lain-lain. Itu semua yang harus ditunjukkan oleh franchisor kepada setiap calon franchisee. Jadi bukan janji-janji,” katanya.

Menurutnya, menjadi masalah kalau franchisor tidak dapat menunjukkan syarat-syarat teknis tersebut karena memang mereka juga tidak terlalu menguasai seluk beluk bisnisnya, atau syarat-syaratnya belum semuanya terpenuhi.
Lebih lanjut Bije menjelaskan,  bagi orang yang tepat, franchise tidak ada negatifnya baik bagi franchisor maupun franchisee. “Malahan menurut saya franchise juga merupakan praktek bisnis yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia yang dinyatakan dalam UUD 1945. Franchise bagi franchisee membuat setiap orang bisa ikut memiliki jaringan bisnis yang besar dengan membuka satu outlet. Coba bandingkan apabila mereka memulai bisnis sendiri? Bagi franchisor, franchise memungkinkan untuk mengembangkan jaringan yang besar dengan jumlah outlet banyak dan cakupan pasar yang luas walaupun modal yang dimiliki terbatas,” katanya.

Jadi, tambahnya, asalkan secara bisnis baik dan dijalankan menggunakan norma-norma yang bermartabat, franchise sangat baik dan positif di jalankan di Indonesia.

Hanya saja, akunya, pemahaman masyarakat luas dan pemerintah masih belum sampai ke sana. Masih banyak salah pemahaman sehingga mereka menjalankan franchise malah merugikan orang lain dan merugikan diri sendiri.

“Yang dijalankan dengan baik, franchise telah membawa beberapa bisnis brand nasional mampu berkembang menjadi bisnis besar yang bersaing setara dengan brand-brand global dan perusahaan-perusahaan besar yang punya pengalaman puluhan tahun, organisasi besar dan modal yang kuat,” katanya.

Sementara itu, pengamat franchise dari FT Consulting, Utomo Njoto menjelaskjan, saat ini memang informasi yang masih simpang siur, peminat terwaralaba perlu hati-hati dalam memilih bisnis franchise untuk investasi.
 “Harus diakui pula bahwa ada beberapa orang yang punya pengalaman traumatik dengan waralaba abal-abal, atau waralaba yang benar tapi kebetulan kurang beruntung,” kata Utomo.

Menurut Utomo, Waralaba sesungguhnya waralaba hanya menjanjikan kemudahan “memulai” usaha. “Mirip dengan menggunakan jasa “start-up business consultant” (seperti konsultan bisnis restoran) maupun jasa pendampingan memulai usaha yang diberikan oleh pemasok industri tertentu (pemasok mesin cuci memberikan paket pendampingan persiapan usaha laundry),” katanya.
 
Bedanya, tambahnya, waralaba memberikan lebih dari sekedar pendampinan memulai usaha. Waralaba memberikan hak menggunakna merek yang seharusnya sudah cukup dikenal dan punya pasar potensial sehingga penerima waralaba akan menikmati kemudahan mencapai omset penjualan tertentu pada masa awal bisnisnya. Demikian juga ketika sudah menjalankan bisnisnya, penerima waralaba bisa berkonsultasi kepada pemberi waralaba ketika terbentur hal-hal tertentu.

Namun,kata Utomo, jangan berharap pada jaminan keuntungan maupun jaminan jangka waktu balik modal. “Tidak ada pula jaminan lebih mudah mejalankan bisnis waralaba dibandingkan bisnis non-waralaba, meski sudah ada buku Pedoman Operasional yang dikenal sebagai SOP. Semua bisnis mengandung resiko dan harus dijalankan dengan tekun,” katanya.

Waralaba Bisnis Proven
Waralaba itu merupakan bisnis yang proven, yang artinya memberi peluang bagi terwaralaba untuk sukses. Namun diakui, di Indonesia, waralaba lokal masih sangat sedikit dibandingkan asing.

Mengapa, perusahan lokal dan perusahaan kecil sedikit dalam waralaba?
Karena, untuk memenuhi ketentuan atau persyaratan hukum sebagai pewaralaba, memang tidak mudah.

Misalnya soal ketentuan laporan keuangan wajib diaudit oleh akuntan publik, untuk sebagian perusahaan lokal cukup sulit. Sebagian lainnya, karena tenaga kerja yang memahami waralaba secara teknis, baik dan benar, memang masih terbatas.

Sementara itu, peluang industry waralaba di Indonesia sangat potensial dilihat dari data mereka yang terjun ke bisnis terutama UMKM, yakni sebanyak 65 juta UMKM. Angka ini bisa menjadi indicator yang kuat untuk perkembangan franchise ke depan.

Bije Widjajanto menjelaskan, di Indonesia ini setiap tahun ada ribuan, mungkin bisa mencapai angka belasan ribu outlet franchise baru. Fakta ini menjelaskan bahwa franchise di Indonesia sudah sangat marak. “Sudah banyak sekali penerapan franchise di Indonesia. Hanya saja mereka itu tidak semuanya menerapkan prinsip dan norma-norma franchise yang baik dan bermartabat, sehingga banyak yang gagal, baik franchisor maupun franchiseenya,” katanya.

Bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini terjadi penurunan, akunya, itu lebih karena penerapan franchise yang belum dewasa seperti saya sampaikan tadi. Dan ini akan merugikan secara ekonomi apabila berkelanjutan. Tugas kita semua untuk mendudukkan kembali franchise ke dalam posisi yang seharusnya.

Namun, tandas Bije, sesungguhnya peluang bisnis bari terwaralaba sangat besar. “Mungkin salah satu terbesar di dunia. Jumlah orang yang belanja atau istilah kerennya consuming class, di Indonesia ini saat ini ada 60 juta orang. Ke depan, 15 tahun lagi akan menjadi 125 juta. Ini angka yang sangat fantastis. Mari kita hitung. Apabila rata-rata setiap outlet bisnis, baik franchise maupun bukan, setiap hari dikunjungi oleh 100 orang, nanti akan dibutuhkan 1,25 juta outlet bisnis di Indonesia. Kalau 20% saja dari outlet bisnis itu franchise nasional, maka dibutuhkan 250 ribu gerai franchise di Indonesia. Kalau setiap brand franchise rata-rata punya 250 gerai, dibutuhkan 1000 brand franchise berskala nasional. Jadi luar biasa besar potensinya,” katanya.

Menurut Bije, mereka yang mulai dari sekarang dengan sungguh-sungguh akan menuai manfaat 5 – 10 tahun yang akan datang. “Jadi para pelaku franchise di Indonesia harus melihat dan berpikir secara jangka panjang. Bukan urusan jangka pendek semata. Kalau sekarang masih menjalankan bisnis franchise dengan pikiran jangka pendek, nanti 3 – 4 tahun yang akan datang akan menjadi penonton atau harus memulai lagi. Rugi waktu,” katanya.

Franchise dan BO
Pun di franchise.  investasi di Business Opportunity (BO) pun bagi peminat invetasi harus tetap teliti. . Mottonya harus Teliti, Teliti, Teliti.

Bije Widjajanto menjelaskan, sejauh ini masyarakat umum masih tidak bisa membedakan mana franchise mana BO. Mereka melihat semuanya adalah franchise. Mereka selalu dapat menemukan informasi tentang BO di dalam domain franchise dan sebaliknya. Dalam pemahaman masyarakat umum di mana mereka menemukan informasi tentang BO mereka juga bisa mendapat informasi tentang franchise. Franchise dan BO ini terjadi linkage atau keterkaitan.

“Jadi para pelaku BO itu yang harus berusaha berbenah dan mentransformasikan bisnisnya menjadi franchise beneran. Kalau ternyata tidak bisa ditransformasikan menjadi franchise, ya sebaiknya harus keluar dari domain franchise. Supaya masyarakat bisa mendapat informasi franchise di dalam domain franchise, tidak perlu berpikir-pikir dan pilih-pilih lagi,” katanya.

Bije menegaskan, sangat  penting untuk membangun pemahaman tentang franchise yang baik di Indonesia.  “Karena kalau pemahaman masyarakat tentang franchise Indonesia itu buruk dan yang baik malah franchise asing, ini celaka. Potensi yang besar di Indonesia bagi pertumbuhan bisnis franchise nantinya akan  yang menikmati oleh franchise asing.

Menurutnya, ada sebagian masyarakat yang punya pandangan franchise dari luar negeri itu lebih baik dari franchise Indonesia. “Itu tidak benar, franchise sama saja, ada yang baik ada yang buruk,” katanya.

Utomo juga menjelaskan, sesungguhnya baik franchise maupun BO merupakan peluang investasi. BO pun memberi kesempatan untuk sukses. Menurut Utomo, selama dikelola oleh manajemen yang  baik, BO pun menjanjikan keberhasilan.