Franchise Fraud

Fraud memiliki arti penipuan, kecurangan. Sama dengan kartu kredit yang rawan dengan fraud, waralaba juga rawan dengan fraud.

Sejarah di Amerika

Ketika Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat menerapkan regulasi waralaba yang ketat pada bulan Juli tahun 1979, dalam waktu 30 hari ada lebih dari separuh perusahaan yang biasa mengiklankan peluang waralaba di harian Wall Street Journal (sebelum adanya regulasi tersebut).

Regulasi waralaba yang ketat tersebut mewajibkan setiap penawaran kerjasama yang mengandung “unsur-unsur hubungan waralaba”, harus mendaftarkan proposal penawarannya yang dikenal dengan Franchise Disclosure Document (FDD) ke pemerintahan setempat. FDD ini dulu dikenal luas dengan istilah UFOC (Uniform Franchise Offering Circular).

Calon investor berhak atau memiliki waktu minimal 14 (empatbelas) hari untuk mempelajari dokumen penawaran waralaba tersebut.

Berbeda dengan regulasi waralaba di Indonesia yang justru menekankan pada larangan penggunaan istilah waralaba bila tidak memenuhi sederet persyaratan operasional dan teknis lapangan, regulasi waralaba di Amerika tersebut menekankan pada pendaftaran dokumennya. Yang penting transparansi dan kebenaran mengenai informasi dan identitas pewaralaba. Teknis operasional dibedakan dari urusan pendaftaran dokumen tersebut.

Secara sederhana, “unsur-unsur hubungan waralaba” itu antara lain: hak untuk menggunakan merek milik pewaralaba, standar operasional yang ditetapkan oleh pewaralaba, kegiatan pemasaran (marketing dan promosi) oleh pewaralaba, dan adanya sejumlah uang yang harus dibayar di muka. Setiap hubungan kerja sama yang mengandung 3(tiga) dari 4(empat) unsur tersebut diwajibkan mendaftarkan FDD. Tidak peduli detail teknis operasional bisnisnya seperti apa nantinya.

Klaim Tingkat Sukses

Klaim tingkat sukses bisnis waralaba yang mencapai 95% masih sering anda dengar? Klaim ini sudha diakui menyesatkan oleh yang mengeluarkan klaim tersebut.

Mengapa? Karena dalam penelitian tersebut tidak terlacak bisnis waralaba yang merugi, bahkan yang terwaralabanya bangkrut, apabila gerai-gerai yang gagal itu beralih kepemilikan dan tidak sampai mengalami tutup dulu sebelum beralih kepemilikan.

Janji Balik Modal yang Fiktif

Janji balik modal yang fiktif merupakan modus paling sering dijumpai. Ada yang memasang target penjualan yang tidak pernah dicapai oleh pewaralaba itu sendiri, atau memasang target penjualan yang hanya dicapai oleh satu gerai pewaralaba yang memang luar biasa bagus sekali sehingga pada akhirnya tidak realistis di lokasi gerai terwaralaba.

Klaim balik modal yang fiktif ini bisa juga dikarenakan berbagai hal lain seperti biaya operasional pewaralaba yang super duper hemat, gaji pegawai yang jauh di bawah UMR, atau sewa lokasi yang tidak diperhitungkan sebagai biaya operasional dengan alasan ruang usaha atau bangunan itu milik sendiri.

Di titik paling ekstrim, klaim balik modal yang keliru (kalau tidak mau disebut fiktif) adalah dengan menganggap “modal” yang diperoleh kembali dalam jangka waktu balik modal itu adalah “hanya” sejumlah uang yang dibayarkan kepada pewaralaba. Biaya-biaya investasi yang tidak masuk kantong pewaralaba tidak diperhitungkan. Akibatnya, setelah bisnis berjalan setahun, ketika ada laporan keuangan, semua kekeliruan ini terkuak dengan jelas (namun “sudah terlambat” bagi investor atau terwaralaba).

Masalah Pasokan

Pernah ada waralaba atau BO retail susu bayi yang sempat meledak. Banyak yang berminat. Mungkin karena nilai investasinya rendah. Banyak toko yang dibuka dalam waktu singkat.

Pewaralaba tidak memperhitungkan kemampuannya untuk memasok toko-toko dari terwaralaba atau mitra BO-nya. Dalam waktu beberapa bulan saja, pewaralaba angkat tangan, menyatakan tidak sanggup menyediakan pasokan, mempersilahkan para terwaralabanya mencari sendiri pasokan untuk toko-toko mereka.

Mengembangkan waralaba yang mirip distribusi produk seperti ini harus mempertimbangkan kemampuan menyediakan pasokan.

Semoga tulisan ini memberi inspirasi yang bermanfaat bagi anda.

Sukses selalu !!!

Utomo Njoto

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com