Agung Nugroho Susanto, Pionir Pengusaha Waralaba Laundry Kiloan

Pria yang satu ini tak asing lagi di industri franchise. Ia merapakan pengusaha yang pionir mewaralabakan laundry kiloan. Memulai usaha sejak di bangku kuliah hingga harus menggadaikan BPKB motor kesayangannya, kini sukses menjadi penguasa waralaba laundry kiloan.

Adalah Simply Fresh Laundry, nama usaha laundry yang didirikanya pada 28 Februari 2006. Ia masih duduk di bangku kuliah di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta ketika mendirikan usahanya. Usaha tersebut lahir dari idenya sebagai mahasiswa perantau yang sering menggunakan jasa laundry. Ia melihat potensi dan peluang yang tersimpan dalam usaha tersebut.

Waktu itu, kata dia, masih banyak laundry yang dikerjakan secara konvensional di rumahan. Lalu ia berpikir bagaimana kalau bisnis laundry dikonsep dengan berisi value tentu akan lebih maksimal lagi.

“Dengan mengonsep laundry di tempat representatif (sewa ruko), diberikan value kelebihan yang belum dijalankan oleh kompetitor seperti silahkan pilih sendiri 6 pilihan aroma pewangi sesuai selera, cuci kilat 4 jam jadi, dan lain-lain,” ujar pemilik nama lengkap Agung Nugroho Susanto, S.H ini.

Ia memulai usahanya dengan modal awal sekitar Rp 40 juta untuk sewa tempat. Sisanya, Rp 20 juta untuk membeli mesin cuci dan mesin pengering, setrika, meja, rak , dan peralatan perlengkapan. “Biaya produksi yaitu biaya listrik, detergen, softener pewangi, dengan HPP sekitar 40% dari harga jual saat itu,” bebernya.

Karena masih mahasiswa, modal usaha pria yang akrab disapa Agus ini dibantu oleh orang tua. “Saya sempat juga gadaikan BPKB sepeda motor.Tenaga kerja kesulitan yang mau kerja di bidang usaha laundry, akhirnya mendapat pegawai ibu-ibu sekitar tempat kerja,” kenangya.

Baca juga : Dokter Yang Sukses Berbisnis Kopi

Untuk mendapatkan alat penunjang usaha Agus banyak bertanya-tanya kepada yang sudah lebih dulu menjalankan usaha laundry. “Untuk diawal bahan baku chemical masih ambil beli jadi tidak produksi sendiri. Lalu akhirnya ikuti pembelajaran kepada ahli chemical dan akhirnya bisa membuat produksi bahan baku sendiri,” jelasnya.

Tidak punya pengalaman berbisnis laundry, Agus pun memulai bisnis laundry dengan cara otodidak belajar ke yang orang sudah berpengalaman dan proses trial error. “Sebagai pemula di bisnis ini tentu saya mengalami proses trial error terlebih dahulu,” tandas Sarjana Hukum yang pernah berbisnis distro dan konter handphone, yang juga mengalami kegagalan karena masih belum ada pengalaman bisnis dan belum bisa atur cash flow.

Sebab otodidak, banyak persoalan yang mesti dihadapi Agus. Mulai dari komplain baju pelanggan rusak yang harus ganti rugi, mengatur karyawan, belajar proses laundry yang cepat, sampai dengan karena jumlah mesin yang terbatas harus lembur hampir 24 jam untuk menggiling pakaian di mesin cuci.

Ketika itu, ia sempat berpikir untuk berpindah ke bisnis lain. Namun akhirnya ia memantapkan diri untuk tetap fokus berusaha di bidang laundry. “Kendala yang saya alami yaitu kerugian usaha karena penentuan harga yang terlalu rendah, ditambah harus beberapa kali ganti rugi pelanggan yang pakaiannya rusak,” bebernya.

Namun dari kendala tersebut ia bisa memetik pelajaran. Salah satunya ia bisa mengedukasi dari para pelanggan terkait pakaian luntur, untuk diberikan info terlebih dahulu. “Karena yang terjadi ketika luntur kena pakaiannya / pelanggan lain otomatis kita jadi harus ganti rugi. Kemudian seiring waktu dibuat aturan bahwa pakaian luntur yang tidak diberitahu dan kena pakaiannya sendiri yang lain maka outlet tidak mengganti rugi,” jelasnya.

Untuk memasarkan bisnisnya, Agus menggunakan ilmunya sewaktu berbisnis distro pakaian anak muda sebelumnya. “Saya melakukan pemasaran dengan gaya bisnis distro, mulai dari tampilan outlet yang full branding, lalu adakan inovasi-inovasi yang belum dilakukan kompetitor, sebar brosur, sampai melakukan terobosan mendapat REKOR MURI sebagai laundry kiloan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi ultraviolet,” terangnya.

Kemudian, ia juga mengikuti kompetisi kewisarusahaan yang diselenggarakan oleh BUMN,Kementrian Pemuda dan sebagainya, yang akhirnya mendapat juara dan sering diliput media nasional baik televisi maupun media cetak nasional. “Yang kemudian juga dapat rekor MURI sebagai WARALABA Laundry Kiloan Pertama di Indonesia,” sambungnya.

Faktor pendukung bisnis lainnya, kata Agung, menajalin relasi Dengan menjalin kedekatan kepada pelanggan berupa lakukan kegiatan Customer Relationship Management secara berkesinambungan. “Pemasaran saat ini sangat terbantu dengan teknologi sehingga bisa iklan di sosial media dan google,” bebernya.  

“Produksi kami jugasudah terpusat ada tempat produksi sendiri juga beserta gudang penyimpanannya,” tambahnya pria yang punya hobi baca buku dan mengikuti pengajian ini.

Saat ini, Simply Fresh Laundry terus berkembang dan sudah menginjak 14 tahun serta sudah memiliki pangsa pasar tersendiri, sehingga  tidak harus banting-bantingan harga, sesuai segment target yang dipilih.

Total outlet Simply Fresh Laundry pun kini sudah berjumlah 352 outlet yang tersebar di 100 kota di seluruh indonesia dari Aceh hingga Papua.

Dengan harga jual berkisar dari 6500 per kilogram sampai dengan 15.000 per kilogram tergantung kotanya, omzet per outlet Simply Fresh Laundry variatif tergantung usia outlet dan lokasi. “Berkisar sampai dengan 18 juta – 45 juta per bulan  per outlet,” kata Agus seraya berkata, “Rata-rata balik modal usaha ini

sekitar 1,5 tahun – 2,5 tahun,”

Agus mentargetkan usahanya untuk lebih fokus kepada sistem franchise full kelola oleh management (full management) supaya standarisasi lebih terjaga, yang berdampak pada kepuasan pelanggan.

Ia memberikan tips singkat, bila ingin bisnis laundry jangan hanya bergantung pada value harga yang murah, namun bangunlah value sesuai target segmen yang diincar dengan diberikan spesialisasi, misal fokus laundry karpet, spesialis cuci sepatu, spesialis bedcover, dan sebagainya. “Sehingga miliki pangsa pasar kue yang tidak head to head dengan yang sudah banyak pada umumnya,” tutupnya (ZR).