Stevanus Roy Saputra; Pengalaman Gagal Jadi Cambuk Sukses Berbisnis Fried Chicken

Stevanus Roy Saputra, Kegagalan Menjadi Cambuk Suksesnya Berbisnis Fried Chicken

Tekadnya yang pantang menyerah mengantarkan pria ini pada keberhasilan bisnis. Pengalaman gagal berbisnis fried chicken menjadi penyemangat dirinya membuat bisnis fried chicken. Dengan brand Chicken Crush, ia berhasil mengembangkan bisnis fried chicken berkualitas premium.

Chicken Crush, bisnis yang didirikannya pada Maret 2017 kini total memiliki 40 cabang tersebar di Indonesia, dari Medan Batam, hingga Lombok. Pada 2018 ia berhasil menjual 1 juta pcs ayam. Chicken Crush juga mendapatkan penghargaan dari Gofood sebagai 3 besar pejuang pandemi di Indonesia.

Cerita keberhasilan Stevanus Roy Saputra tentu tidak datang begitu saja. Di masa lalu, ia pernah mengalami kegagalan dalam berbisnis fried chicken. Kegagalan tersebut justru memotivasi dirinya untuk membuktikan diri. “Saya mendirikan Chicken Crush atas dasar emosi dan dendam untuk membuktikan bahwa saya bisa berhasil di bisnis fried chicken,” ujar Founder Chicken Crush Indonesia ini.

Dari situlah tekad untuk dapat membuat fried chicken dengan kualitas premium namun memiliki harga yang terjangkau dengan brand identity yang kuat terwujud. “Saya percaya tidak ada guru yang lebih baik dari pengalaman dan rekan yang berpengalaman. Saya juga percaya dalam berbisnis selalu ada faktor keberuntungan. Saat awal memasarkan Chicken Crush saat itu sedang booming-nya ayam geprek,” katanya.

“Dengan riding the wave-nya saya rasa saat itu kami sangat terbantukan tanpa perlu mengeluarkan budget yang banyak dalam mengedukasi pasar. Kebetulan juga saat itu masih belum ada ayam geprek yang menawarkan dengan kualitas baik. Waktu itu ayam geprek selalu dibuat dengan ayam tepung asal-asalan,” sambungnya.  

Maka di Chicken Rush, kata dia, dimulai dengan mimpi memberikan fried chicken dengan kualitas terbaik dan tetap bisa digeprek. “Tentu saja selalu ada masalah seperti rasa yang tidak stabil di awal, knowledge alat yang masih kurang sehingga terjadi repitition pengujian product. Karena di awal yang mencoba harus dari saya sendiri, sehingga berat badan menajdi korban naik 4kg,” ujarnya sambil tersenyum sumringah.

Stevanus menuturkan, faktor pendukung keberhasilan bisnis Chicken Crush ini juga tidak lepas dari support yang diberikan berbagai lapisan. Mulai dari kebijakan pemerintah, situasi, tingkat daya beli, pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, katanya lagi, yang tidak kalah penting adalah proses. “Kami dapat membuat berbagai penyempurnaan proses salah satunya karena dari pengalaman kami. Kami harus rela untuk rugi ribuan potong ayam busuk hingga bisa menemukan sop yang terbaik untuk storage dan pengiriman ayam dst. “Bagi saya faktor eksternal tidak pernah lebih berbahaya dibandingkan faktor internal perusahaan,” jelasnya.

“Dasarnya sebelum saya mendirikan Chicken Crush, saya ada di industri startup yang di mana saya implementasikan di Chicken Crush yaitu saya tes pasar terlebih dahulu dengan modal seadanya sampai mendapatkan respon positif dari pasar, lalu dilanjutkan pilot project dan baru dikembangkan,” lanjutnya.

Stevanus mengatakan, modal awal yang dikucurkan untuk mendirikan bisnis ini sekitar Rp 60 juta. “Saat di awal analisa yang saya lakukan dari cita rasa apa yang sesuai untuk mass market di indonesia dan price range di berapakah yang paling sesuai untuk segmen saya. Perhitungan biaya sangatlah simpel, hanya dihitung dengan teliti dan tingkat kecenderungan perubahan harga bahan,” katanya.

“Proses memasarkannya kebetulan cukup simple. Tanpa gimmic marketing atau embel embel apa pun. Karena produk kami memiliki fundamental yang kuat. Rasa yang enak, kualitas yang terjaga dan harga yang terjangkau. Dengan sendirinya customer kembali,” jelasnya.

Meski demikian, Stevanus senantiasa melakukan modifikasi dan pembenahan product. “Dari awal hingga saat ini demi mengejer kualitas yg lebih baik dari sebelumnya, namun tetap saja tidak keluar dari fundamendal value kami,” katanya.

Diakuinya, persaingan di bisnis ini semakin ketat. Selalu bermunculan brand baru dan brand kuat dari luar kota yang menyaingi bisnisnya dengan didirikan dengan modal yang pas-pasan. “Sangat susah bagi kami untuk ekspansi ketika pertama kali berdiri, namun menjadi nilai lebih juga karena kami jadi sangat berhati hati saat membuka cabang. Fokus kami memiliki banyak cabang sehat dibandingkan mengejar jumlah outlet. Mindset ini yang membuat Chicken Crush bertahan saat pandemi covid datang,” katanya.

“Namun kami memiliki mimpi untuk dapat menyebarkan cita rasa kami ke seluruh indonesia dengan cepat, maka jalan franchise lah yang kami pilih. Di samping itu, saat memulai Chicken Crush kami juga memiliki mentor yang sudah sangat berpengalaman di dunia franchise apotek yang memberikan kami banyak sekali saran-saran berharga, sehingga kami dapat tumbuh tahun demi tahun,” terangnya.

Menjaga Cash Flow Saat Pandemi

Sebelum covid melanda, pertumbuhan bisnis Chicken Crush selalu triple digit dibanding tahun sebelumnya. “Namun tentu saja saat ini dalam segi outlet tidak terlalu bertambah seperti sebelumnya namun dalam pembenahan internal kami yang sangat difokuskan. “Kala itu, sebelum covid kami mampu menjual 1 juta pcs ayam pertama kami saat akhir 2018,” jelas Stevanus.

Namun bukan berarti kinerja Chicken Crush juga tidak baik. Buktinya Ia mampu menjual dengan angka yang cukup menggembirakan “Kami kebetulan mendapatkan penghargaan dari Gofood sebagai 3 besar pejuang pandemi di indonesia. Saat awal pandemi yang kami lakukan lasung membuat frozen product,” katanya.  

“Titik terendah tentu saja saat ada mitra yang terpaksa harus menutup gerai dan memberhentikan staff-nya. Saat pandemi ini masih ada beberapa outlet yang berperforma di bawah target dan untuk mensiasati PHK banyak di lakukan shifting staff,” sambungnya.

“Untuk di beberapa kota hilang sampai 50% namun ada juga yang sudah kembali seperti semula. Saat pandemi jauh lebih penting cash flow dibandingkan profit. Business mati bukan karena rugi tapi kehabisan cash,” kata Stevanus melanjutkan.

Chicken Crush juga secara kontinyu menyampaikan kepada konsumen soal sop kebersihan dan protokol kesehatan. “Makin banyak product ready to cook, makin banyak produk yang fokus take away, banyak peralatan makan yang lebih tidak terkspose. Tantangan tentu saja bertahan. Bagaimana irama menjaga cash, pengeluaran, ekspansi, jam masuk diatur,” katanya.

“Dengan mengkomunikasikan protokol kesehatan dan mengajak konsumen untuk bisa lebih membungkus dari pada makan di outlet,” katanya lagi.

Saat ini Chicken Crush berencana membuat secondary brand yang bisa lebih terjangkau dalam segi investasi dan dapat membuat Chicken Crush menjadi holding dari beberapa brand lain melalui pengalmaan yang dimilikinya. “Bagi yang tertarik dengan franchise Chicken Crush, kami menawarkan peluang bisnis dengan license fee sebesar Rp 450 juta untuk dengan perkiraan ROI di 1-3 tahun,” kata Stevanus.

Pria yang hobi membalap memiliki prinsip bisnis, bahwa bukan yang paling rame yang bisa bertahan paling lama, tapi yang paling efisien.

Zaziri