Lisensi, Bisnis Kepercayaan

Lisensi merupakan salah satu cara pengembangan merek atau produk lebih cepat. Karena lisensi sebenarnya bertujuan untuk meleverage volume penjualan.
 
Lisensi merupakan salah satu pola bisnis yang dilakukan oleh para pelaku usaha di dunia. Di Indonesia, kata Ketua Kehormatan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar, lisensi sudah berkembang di Indonesia sejak jaman kemerdekaan. Salah satu merek tertua yang dikembangkan dengan membeli lisensi di Indonesia adalah Arrow.
 
Seringkali, orang berpandangan lisensi selalu terkait dengan merek luar negeri atau merek global. Pandangan seperti itu tidak sepenuhnya salah. Sebab, perkembangan lisensi di Indonesia lebih banyak dikuasai oleh merek-merek luar negeri.
 
Namun sesungguhnya, sebuah merek lisensi bisa berkembang tidak terikat pada persyaratan dari mana asal merek tersebut. Perkembangan merek lisensi sangat ditentukan oleh kekuatan merek tersebut untuk menarik pasar atau konsumennya. Tujuan utamanya adalah mempercepat penetrasi pasar dan meningkatkan volume penjualan.
 
Dengan kata lain, sebuah merek lisensi ditentkan oleh seberapa kuat merek tersebut dengan keunggulannya mampu menghasilkan profit bagi para licsenceenya. Dengan demikian, baik lokal maupun luar negeri bukanlah penentu utama.
 
Produk local pun bisa memiliki keunggulan seperti itu, tergantung kepada pemilik mereknya.
 
Faktanya memang harus diakui, perkembangan paling kuat terjadi pada merek-merek lisensi global di Indonesia. Sekali lagi, perkembangan paling kuat itu bkan karena ditentukan oleh asal merek tersebut, melainkan dari kekuatan merek tersebut yang dicreat oleh pemiiknya.
 
Lalu, apa sebetulnya lisensi itu? Anang Sukandar menjelaskan, lisensi tidak jauh berbeda dengan waralaba. Hanya saja, pada lisensi tidak menyentuh program marketing. Sementara franchise memasukkan itu tersebut dalam operasionalnya.
 
Sementara itu, berdasarkan UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemilik Merek terdaftar kepada pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada pemberian hak (bukan pengalihan hak) untuk menggunakan merek tersebut, baik untuk seluruh atau sebagian jenis barang dan/atau jasa yang didaftarkan dalam jangka waktu dan syarat tertentu.
 
Bila disederhanakan dalam pengertian yang lebih sempit, lisensi mengacu kepada perusahaan atau seseorang (licencor) yang memberi hak kepada pihak tertentu (licensee) untuk memakai merek/hak cipta/paten (Hak milik kekayaan intelektual) untuk memproduksi atau menyalurkan produk/jasa pihak licencor. Imbalannya licensee membayar fee. Lisencor tidak mencampuri urusan manajemen dan pemasaran pihak licensee.
 
Jika dibandingkan dengan waralaba, lisensi hanya hanya memberikan ijin  untuk menggunakan  hak kekayaan intelektual tertentu saja. Dengan demikian, waralaba jauh lebih luas dibandingkan lisensi. Karena dalam waralaba, selain disertai dengan penggunaan hak kekayaan intelektual, juga disertai system kerja, keterampilan dan berbagai system pelayanan lainnya alias secara operasional juga termasuk dalam perikatan. Sehingga, dalam waralaba ada penekanan untuk menggunakan system, metode, tata cara, prosedur, metode pemasaran dan penjualan dan berbagai hal lain yang terkait dengan operasional usaha.
 
Mengapa lisensi?
Perjanjian lisensi memiliki beberapa varian, bisa eksklusive bisa juga tidak. Menurut Utomo Njoto dari FT Consulting, pada umumnya lisensi diberikan oleh lisencor kepada lisenceenya bersifat eksklusive, misalnya untuk produk tertentu atau untuk wilayah tertentu.  Pola seperti ini dimaksudkan agar tidak terjadi benturan antara satru lisencee dengan lisencee lainnya.
 
Lalu mengapa lisensi? Bagi lisensor, tentu saja lisensi lebih mempercepat sebuah produk untuk menyebar di pasar. Lagipula, lisensi sangat membantu bagi principal yang minim modal untuk mengembangkan mreknya di pasar yang lebih luas.
 
Yang jelas. apapun alasan licensor dalam mengembangkan bisnis lisensi, sesungguhnya lisensi memberikan banyak manfaat. Bagi lisensor, manfaat itu antara lain, menghemat biaya modal dalam mengembangkan bisnis dan lisensi menjadi jalan agar dapat lebih cepat berkembang.
 
Sedangkan bagi lisencee, manfaat lisensi antara lain, tidak perlu memulai bisnis dari produk atau merek yang nol. Lagipula, lisensi mengandalkan sebuah produk atau merek sudah cukup kuat, sehingga bagi lisencee kemungkinan berhasil jauh lebih cepat.

Selanjutnya, merek lisensi harus bisa memberikan manfaat bagi lisencee, terutama dari sisi menghasilkan profit. Dalam bahasa Utomo Njoto, merek tersebut harus memiliki daya ungkit. Arinya, merek tersebut mampu meleverage volume penjualan. “penjualan. Bila Mereknya tidak punya daya ungkit, ngapain bayar Lisensi,” tandas Utomo.
 
Hindari kasus
Menjalin bisnis dengan membeli atau menjual lisensi berarti mengaindaikan adanya kepercayaan satu sama lain antara lisencor dan lisencee. Karena sebenarnya perjanjian lisensi dibangun di atas pondasi win win konsep dan saling percaya.
 
Lisensi menjadi salah satu kemitraan bisnis yang berkembang secara global karena terbukti telah memberikan manfaat bagi para pelakunya. Akan tetapi, namanya bisnis selalu ada interes yang bisa saja menghancurkan kerja sama di tengah jalan.
 
Kamudian selama kerja sama itu  memberi saling untung dengan rasa saling percaya dan terbuka satu sama lain, maka perjanjian lisensi bisa dikembangkan dalam waktu yang panjang. Apalagi lisensi adalah sebuah konsep untuk sama-sama mendapatkan manfaat.
 
Tetapi, bagaimanapun juga, di setiap bagian hidup yang menghajatkan interaksi dengan dua pihak yang saling berkepentingan, selalu ada kasus yang menyertainya. Di lisensi juga demikian, tidak sedikit hubugan putus di tengah jalan antara lisencor dengan lisenceenya.

Menurut Anang Sukandar, pemutusan hubungan berhenti di tengah jalan bisa disebabkan oleh faktor lisencee yang tidak menjalankan standart yang diterapkan oleh licensor. Bisa juga karena terjadi pemalsuan atau target penjualan yang tidk tercapai. Atau bisa juga karena manipulasi laporan keuangan.