Johannes Agus Taruna, Sukses Kembangkan Bisnis Pendidikan Berbasis Entrepreneurship

Pria asal Palembang ini sejatinya seorang pendidik sejati. Sejak usia muda ia sudah membaktikan diri pada dunia pendidikan. Ia pun sukses mengembangkan pendidikan TK, SD dan SMP dengan kurikulum entrepreneurship sejak tahun  2010 dengan nama Super Briliant Kidz Center (SBK CENTER).

Kini SBK CENTER tengah berkembang amat baik. Hal ini karena diferensiasi yang ditawarkan. Tidak banyak sekolah di Indonesia yang memiliki konsep pengajaran entrepreneurship sejak TK. “Saat ini outlet kita ada di Palembang dan di Gading Serpong Tangerang,” kata pemilik nama lengkap Johannes Agus Taruna.

Untuk outlet di Tangerang baru saja dibuka. Outlet tersebut jelasnya, untuk dijadikan prototype. Nantinya outlet tersebut diharapkan berkembang dan difranchisekan di seluruh Indonesia. “Sekarang kami terus fokus diresearch menciptakan kurikulum yang makin update sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Selain itu, Johnnes juga membuat standarisasi agar manajemen bisnis SBK CENTER semakin rapi. Tidak sampai di situ, untuk merealisasikan ekspansi bisnisnya, pada pertengahan tahun 2024 ini dirinya akan masif memfranchisekan SBK CENTER lewat expo-expo dan publikasi di media offline dan online.

Dengan demikian SBK CENTER siap membuka cabang franchise di berbagai daerah Indonesia. Terlebih lagi SBK CENTER sudah membuktikan diri sebagai bisnis sekolah yang menguntungkan. Dengan biaya sekolah Rp 5 juta per bulan, SBK CENTER membukukan omzet Rp 12 miliar pertahun.

Sekedar informasi, SBK CENTER menawarkan investasi franchise total Rp 1, 5 miliar. Dengan rincian biaya Franchise Rp 150 juta/5 tahun. Sementara royalty Free 12 %. “Berdasarkan pengalaman rata-rata balik modal kurang dari satu tahun,” ungkap Johannes.

Keberhasilan Johannes mengembangkan SKB CENTER keuletannya menggeluti dunia pendidikan. Ia mulai menekuni bidang pendidikan saat ayahnya mengalami kecelakaan pada 1995. Saat ia masih kuliah semester 5. “Waktu itu saya memberanikan diri mengajar privat dari rumah ke rumah, lalu berkembang merekrut banyak teman-teman mahasiswa untuk bergabung dalam satu tim,” kenangnya.

Akhirnya Johannes punya lembaga non formal yang berkembang dengan sangat pesat. Dan di tahun 2010 akhirnya membuka sekolah TK, SD dan SMP dengan kurikulum entrepreneurship sejak kecil. “Melatih dan mengajarkan jiwa dan karakter kepada anak-anak Indonesia,” bebernya.

Menurutnya, jasa pendidikan adalah bisnis jasa yang berkembang karena adanya trust. Dan sekolah di Indonesia harus punya keunikan dan diferensiasi. Pendidikan tidak mencetak manusia untuk menjadi robot. “Fungsi sekolah adalah membantu siswa untuk mengeksplor dan memaksimalkan potensi-potensi nya masing-masing,” tuturnya membeberkan kunci sukses memasarkan bisnis pendidikannya.

Johannes mengatakan, alasan kuat ia memulai bisnis ini karena beberapa hal. Pertama waktu melanjutkan kuliah. Kedua, keinginan yang kuat, dengan visi membawa Indonesia menjadi negara No.1 di dunia dengan jumlah entrepreneur terbesar di dunia.

“Entrepreneur muda yang unggul dan tangguh, yang mampu menjadikan Indonesia yang sejahtera, karena banyak nya peluang kesempatan berusaha yang diciptakan dari para entrepreneur -entrepreneur muda yang muncul. Saya rindu banyak guru yang punya sekolah, dokter yang punya rumah sakit dan sebagainya,” tandasnya.

Diakuinya, pengetahuan dan keterampilan menjalankan bisnis pendidikan karena punya kebiasaan sejak mahasiswa setiap bulan minimal harus baca tiga buku, lalu sering ikut seminar dan workshop nasional dan internasional. “Misalnya hanya Kepercayaan, saya memulai usaha ini hanya dengan memasang iklan kecil dari sebuah surat kabar lokal,” ungkapnya.

Meski demikian bukan berarti tidak ada perencanaan. “Analisa bisnis yang dilakukan di awal antara lain Pasar yang sangat besar, Keunikan sekolah yang dibangun, Konsep yang kuat, dan Kebutuhan pasar,” ujar pria yang hobinya membawa buku dan mengajar ini.

Selanjutnya, untuk mengembangkan kurikulum Johannes tentunya koordinasi dengan Departemen pendidikan Nasional dan kemudian inovasi-inovasi yang update berdasarkan research and development

Selama proses mengembangkan bisnis pendidikan menurutnya, kendalanya ada pada kualitas dan mutu pendidikan yang minim mencetak tenaga pengajar yang handal, punya kemampuan mengajar dengan bahasa Inggris dan memiliki wawasan entrepreneurship, masih cukup sulit. “Solusinya membuat tim yang fokus di Training Center (Diklat),” pungkasnya singkat.

Zaziri