Bisnis F&B: Mudah untuk Memulai, Tak Serta-merta Gampang Mengakses Pasar

Bisnis F&B di Indonesia  adalah bisnis yang paling banyak diminati,  dan dari sisi jumlah paling besar angka pemainnya. Kategori di bisnis ini pun terus meningkat karena para pemainnya menciptakan berbagai varian produk dan layanan yang terus berkembang. 

Selain itu, Entry barrier untuk memulai bisnis F&B sangat rendah. Punya meja, kursi, sofa, teras dan halaman rumah yang cukup eksotis sedikit saja, orang bisa langsung buka kafe. Makanan dan minuman yang biasa dibuat dan dikonsumsi di rumah pun bisa menjadi produk utamanya.

Bije Widjajanto, Konsultan Franchise dari BenWarg Consulting mengatakan   sangat mudah memulai bisnis F&B, tetapi sebetulnya tidak gampang untuk sukses apabila sukses ini dilihat dari sustainability dan profitability. “Perlu konsep dan strategi yang cermat untuk menjadikan bisnis F&B sukses,” katanya.

Di Franchise,  bisnis F&B tidak mengandalkan hanya sekedar punya meja, punya kursi, atau teras yang bisa disulap menjadi gerai. Masih ada beberapa persyaratan yang dibutuhkan untuk sukses. Setidaknya, menurut Bije, ada tiga hal, pertama adalah bagaimana pasar atau konsumen mendapatkan produk atau menikmati layanan dari suatu bisnis (delivery concept). Kedua adalah bagaimana delivery concept tersebut dapat dilaksanakan mulai dari orang-orang dan aneka keterampilan yang terlibat, alat-alat dan fasilitas yang harus disediakan (operational concept). Dan yang ketiga adalah bagaimana konsep bisnis tersebut dikomunikasikan kepada pasar (communication concept).

Berikut wawancara Zaziri dari Majalah Franchise dengan Bije Widjajanto dari Benwarg Consulting mengenai bisnis F&B. Petikannya: 

Di semua sektor bisnis, baik itu franchise atau bukan, sektor food & beverage (F&B) selalu mendominasi dari sisi jumlah masupun market size? Mengapa ini terjadi?

Sederhana saja, Berapa kali kita makan setiap hari? Dan setiap makanan habis setelah dikonsumsi. Dan juga makanan yang dikonsumsi satu orang tidak bisa lagi digunakan oleh orang lain. Sehingga setelah dimakan harus beli lagi, beli lagi dan beli terus. Dan tidak pandang bulu, setiap orang butuh makan minimal dua kali sehari. Coba bandingkan dengan berapa kali kita harus beli koran. Meskipun setiap hari terbit koran baru, tetapi koran dapat dibaca oleh orang kedua, ketiga dan seterusnya. Jadi makanan adalah bisnis yang bersifat highly and uniquely consumable

Diperkirakan lebih dari 60% konsumsi per capita dunia terjadi untuk barang dan jasa yang terkait dengan makanan. Kalau anda pernah berjalan-jalan ke Pasar Induk Kramatjati misalnya, barang-barang yang menggunung setiap malam itu tidak sampai siang sudah habis dikonsumsi. Itupun hanya sebagian kecil mencakup konsumsi Jakarta. 

Di industri franchise, baik di Indonesia maupun di  luar negeri, sektor makanan pun mendominasi. Menurut Anda, mengapa para pemain bisnis franchise lebih banyak memilih bisnis di sektor ini?

Saya melihat setidaknya ada dua pertimbangan mengapa banyak orang memilih bisnis di sektor F&B. Pertama, tidak terlepas dari statistik peluang bisnis yang tersedia. Seperti tadi telah saya katakan, penyediaan makanan merupakan peluang bisnis yang sangat besar. Kedua, menurut saya bisnis ritel makanan jadi atau F&B merupakan bisnis yang relatif lebih mudah untuk di-reinvent

Maksudnya?

Dalam bisnis F&B ada banyak kesempatan untuk menciptakan hal-hal yang baru. Sama-sama produk Soto Ayam tetapi ada tidak berhingga alternatif cara menjual sehingga masing-masing menjadi produk yang unik. Reinvention ini sangat penting dalam bisnis, selain sebagai strategi positioning, juga dilakukan untuk mengakomodasi perubahan atau pergeseran pasar. Bisnis F&B lebih mudah untuk disesuaikan dengan permintaan pasar, baik dalam hal produk maupun layanannya. Dua hal tersebut yang saya lihat sebagai alasan utama mengapa bisnis F&B menjadi bisnis favorit di dalam dunia franchise.

Gampangkah menjalankan bisnis makanan dibandingkan sektor lain? 

Saya pikir susah atau gampang itu sangat relatif dan kasuistik. Misalnya, bagi saya setiap hari belanja ke pasar induk memasak setiap hari dan lain-lain adalah hal yang sangat menyiksa. Tetapi tentu tidak bagi orang-orang yang punya passion dalam bidang ini. Bagi mereka bisa jadi belanja ke pasar induk adalah kebutuhan yang bisa dinikmati. Jadi bagi mereka yang memiliki passion di bidang F&B tentu menjalankan bisnis F&B jauh lebih mudah daripada bisnis otomotif misalnya. 

Pasarnya sendiri menurut Anda bagaimana?

Pasar industri makanan sangat jelas. Tadi saya katakan bahwa setiap orang butuh makan minimal dua kali sehari. Nah bagi para pekerja, apakah karyawan, profesional ataupun entrepreneur di kota-kota, kebutuhan makan mereka tidak seluruhnya bisa dipenuhi dengan makan di rumah. Misalnya makan siang, tentu sangat sedikit orang yang punya kesempatan untuk makan siang di rumah. Juga sangat sedikit orang yang punya kebiasaan membawa makanan dari rumah. Tapi toh mereka tetap harus makan juga. Di Jakarta malah lebih hebat lagi, makan malampun banyak orang yang tidak punya kesempatan untuk makan di rumah. Nah kebutuhan makan di luar rumah ini yang menjadi pasar utama bisnis F&B. 

Bukankah persaingannya sangat ketat? Apakah itu artinya tidak mudah sebenarnya berhasil di bisnis F&B?

Benar sekali, hal yang menarik dan mudah selalu banyak peminatnya. Entry barrier untuk memulai bisnis F&B sangat rendah. Kalau Anda punya meja, kursi, sofa, teras dan halaman rumah yang cukup eksotis sedikit saja, Anda langsung bisa buka kafe. Makanan dan minuman yang biasa Anda buat dan konsumsi di rumah bisa menjadi produk utamanya. Karena itu, keberhasilan bisnis F&B memang memerlukan beberapa syarat, apalagi apabila ini merupakan bisnis franchise, atau akan difranchisekan. 

Jadi mudah untuk memulai dan mengakses pasar memang tidak serta-merta mudah untuk sukses apabila sukses ini dilihat dari sustainability dan profitability. Perlu konsep dan strategi yang cermat untuk menjadikan bisnis F&B sukses.

Menurut Anda, apa yang harus dicermati ketika bermain di sektor ini?

Begini, menurut prinsip bisnis yang berpeluang besar sukses adalah bisnis yang arahnya dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam. Seorang entrepreneur, sang penggagas bisnis, tentu adalah manusia yang memiliki berbagai keunggulan di dalam dirinya, apakah itu berasal dari bakat alami atau intuisi, curiosity, adversity ataupun imajinasinya. Dari dalam diri tersebut terciptalah produk atau jasa. Sementara di luar sana ada banyak manusia lain yang mempunyai berbagai kebutuhan. Nah, ketika apa yang diciptakan dari dalam itu ketemu dengan kebutuhan di luar, maka ini sudah menjadi salah satu dimensi terpenting dari bisnis yang sukses. Nah, apakah berarti ada bisnis yang tidak seperti itu? Ada banyak. Terkadang orang hanya melihat dari satu sudut, yaitu peluang yang ada di luar. Setelah mendapatkan peluang yang paling potensial kemudian menyusun konsep bisnis tanpa memperhatikan apakah bidang tersebut merupakan kekuatan dirinya atau bukan. 

Apa yang akan terjadi jika bisnis tidak tidak dimulai dari apa yang ada di dalam diri pelakunya?

Maka proses bisnis yang terjadi hanya akan berjalan seperti mesin atau robot yang sudah diprogram. Ketika terjadi masalah-masalah yang menyangkut rasa, tidak bisa menemukan solusi atau strategi yang tepat. Juga tentang kualitas produk, karena sang entrepreneur tidak memiliki perasaan tentang produk yang baik, maka produk itu hanya akan menjadi produk rata-rata. 

Bisa dijelaskan lebih sederhana?

Apa yang baru saja saya jelaskan adalah tentang passion. Kalau mau sukses di bisnis F&B, maka juga harus memiliki passion di bidang F&B juga. Ini merupakan hal yang utama, masterpiece product muncul dari passion. Selebihnya, dalam pemikiran saya ada dua hal lagi. Pertama adalah tentang konsep bisnisnya dan kedua adalah profesionalisme manajemen organisasi yang mengoperasikan bisnis tersebut. 

Bagaimana pengaruh bisnis ini dari sisi produk terhadap kesuksesan? Bagaimana pula pengaruh dari sisi konsep?

Produk yang unggul belum jaminan satu bisnis akan sukses. Banyak kasus yang muncul, bisnis dengan produk sangat bagus harus kandas gara-gara tidak diterapkan pada konsep yang tepat. Juga sebaliknya sebuah konsep bisnis yang sangat baik tidak bisa bertahan karena produk yang ditawarkan kualitasnya tidak mendukung. Dalam dunia F&B, konsep bisnis generik yang dapat kita lihat antara lain: food counter, dining corner, warung, kafe, fast food resto atau dining resto.

Seperti yang sama katakan tadi, produk adalah kristalisasi dari keunggulan internal atau passion. Di sisi yang lain, konsep bisnis merupakan cara yang disusun bagaimana supaya produk bisa sampai kepada pasar sesuai dengan segmentasi yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam menyusun konsep bisnis itu sendiri, ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan: Pertama adalah tentang bagaimana pasar atau konsumen mendapatkan produk atau menikmati layanan dari suatu bisnis, saya sebut bagian ini adalah delivery concept. Kedua adalah bagaimana delivery concept tersebut dapat dilaksanakan mulai dari orang-orang dan aneka keterampilan yang terlibat, alat-alat dan fasilitas yang harus disediakan. Saya menyebut bagian ini adalah operational concept. Dan yang ketida adalah bagaimana konsep bisnis tersebut dikomunikasikan kepada pasar, saya menyebut bagian ini adalah communication concept. Yang terakhir ini sangat penting dalam menyusun strategi pemasaran. 

Di bisnis franchise sektor F&B  masing-masing punya sub-kategori sebut saja bakso, bakmie, resto padang dll.  Menurut Anda  tetap besarkah peluangnya?

Peluang tetaplah peluang. Jadi produk-produk F&B-pun tersebar dalam beberapa kategori seperti kopi, jus, snack, makanan sela, makanan utama dan lain-lain. Masing-masing produk memiliki pasar sendiri-sendiri. Jadi, tidak semua bisnis F&B berkompetisi secara langsung. Banyak juga bisnis F&B yang dapat bersimbiosis, misalnya warung kopi dengan snack corner atau juice bar dengan bakso. 

Terkait dengan franchise, saya masih tetap pada keyakinan saya bahwa franchise akan menjadi platform bisnis berbasis ritel di masa mendatang. Jadi franchise makanan mungkin masih akan tetap menarik di masa mendatang. Para pemilik bisnis F&B non-franchise mungkin akan berpikir untuk mengkonversi bisnisnya dengan mengambil salah satu produk franchise yang sesuai, misalnya warung bakso diubah menjadi outlet franchise bakso dan seterusnya. Karena memang ada beberapa keuntungan dengan mengikuti franchise, seperti jaringan lebih luas sehingga brand awareness lebih tinggi, program pemasaran lebih efektif dan biayanya bisa terdistribusi ke seluruh jaringan, sehingga beban per outlet menjadi jauh lebih murah.

Pada saat nanti sebagian besar sudah franchise, maka penentu suksesnya adalah seperti yang tadi saya sampaikan di atas: franchise mana yang produknya dibangun di atas passion F&B yang kuat, konsepnya paling tepat, dan yang sangat penting adalah franchisor mana yang memiliki sistem manajemen yang handal dan profesional. Jadi pada akhirnya para franchisor yang memegang kendali sukses atau tidaknya jaringan bisnis franchise yang mereka bangun.

Kalau saya amati, franchise F&B nasional lebih terkonsentrasi pada konsep food counter. Dengan konsep ini hemat saya menyediakan ruang yang sangat terbatas untuk mengeksplorasi delivery concept. Dengan demikian satu-satunya senjata untuk memenangi persaingan hanya dari produk. Sementara kekuatan produk bukanlah satu hal yang handal dalam bisnis untuk dapat mempertahankan hidup bisnis itu sendiri.

Oleh karena itu, saya selalu menyarankan kepada para franchisor untuk meng-upgrade konsep bisnis mereka sehingga bisa mengakomodasi nilai-nilai lain di luar produk agar menjadi kekuatan dalam bisnisnya. Selain itu, para franchisor perlu mempertimbangkan untuk meningkatkan profesionalisme tim dan organisasinya, sehingga mampu menjalankan sistem manajemen franchise dan mengembangkan strategi-strategi untuk menyukseskan bisnisnya.

Dan yang paling penting adalah para franchisor harus mengembangkan sistem bisnis yang kuat dan handal, sehingga tim dalam organisasinya dapat bekerja secara terstruktur dan terkendali. Sistem bisnis bukanlah sesuaitu yang otomatis tercipta sendiri, ini perlu proses pembentukan yang menuntut komitmen dan kemauan para franchisor sendiri. 

Bagaimana dengan ketatnya persaingan?

Perlu kita ingat bahwa pasar bukanlah sesuatu yang mantap, melainkan sistem yang dinamis, bergerak dari waktu ke waktu. Setiap masa ada momentumnya sendiri-sendiri di mana pada saat itu produk dan konsep bisnis tertentu yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian, padatnya persaingan dalam satu masa bukanlah parameter bahwa pemain baru tidak bisa masuk ke dalam industri itu. Justru sebaliknya, ketika persaingan mulai padat, maka peluang memunculkan produk dengan konsep yang baru sangat besar. Begitu ada satu bisnis yang mampu tampil sebagai sosok yang berbeda, pasar akan menyambut dengan antusiasme yang sangat tinggi. 

Dari sisi mana diferensiasi yang harus diperkuat agar bisa tetap eksis di bisnis di sektor ini?

Nah, kalau masalah ini seperti yang saya kemukakan sebelumnya, bahwa ada tiga elemen yang dapat dikembangkan untuk merancang bisnis yang sukses. Pertama adalah produk yang bernilai dan berkualitas, kedua konsep bisnis yang sesuai dengan karakteristik target pasar utamanya, dan ketiga adalah sistem manajemen yang memungkinkan bisnis tersebut dioperasikan dengan baik dan jaringan yang luas.