Bertahan dengan BO

Harus diakui, sistem bisnis opportunity  (BO ) tidak sekuat di franchise. Namun BO bisa bertahan lama dan terbukti oleh sebagian pelakunya menjadi mesin uang. Bagaimana BO bisa lebih sustain?
 
Menurut Royandi Yunus, pengamat bisnis franchise dan BO dari IFBM Consulting, ada dua hal utama yang umumnya terjadi mengakibatkan gagalnya bisnis BO dan juga franchisee. Pertama, tidak adanya perhatian franchisee pada bisnis tersebut yang mereka anggap hanya sebagai pasif income. Dan kedua, justru karena terlalu banyaknya campur tangan franchisee dalam usaha mengembangkan bisnisnya serta pemaksaan kehendak yang franchisee fikir adalah sebuah terobosan dan kreatifitas yang menguntungkan, tetapi belum dapat dibuktikan secara bisnis, baik oleh franchisor maupun oleh franchisee itu sendiri.
 
Karena itu, mencegahnya adalah dengan melakukan kolaborasi serta toleransi yang baik antara franchisee dan franchisor.
 
Kemudian, melakukan novasi produk, memberi support dan atau pembelajaran atas dasar hasil monitoring progress franchisee dan selalu menjaga reputasi brand. Sebuah brand yang sudah terkenal atau katakanlah sukses, sangat mungkin untuk jatuh bila pemilik brand gagal untuk “menyampaikan” value/ nilainya (failure to deliver value), serta gagal dalam beradaptasi dengan keadaan sesuai perubahan waktu (failure to adapt with changing time).
 
Selanjutnya, para mitra harus menjalankan bisnis tersebut sepenuh hati dan menjadikan pengalaman yang anda dapat sebagai pembelajaran untuk tidak diulangi.
 
Pietra Sarosa dari Sarosa Consulting juga mengatakan, Kreativitas pelaku bisnis menjadi faktor kunci. Bagi BO (apalagi yang modalnya kecil dan tanpa continuous assistance dari prinsipal) maka diperlukan kreativitas ekstra dari si pelaku bisnis dalam mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya. Untuk itu, prinsipal juga diharapkan memberikan ruang kebebasan yang cukup bagi mitranya untuk berkreasi sendiri.
 
Menurut Pietra, ada 6 hal yang harus dilakukan oleh prinsipal agar bisnis para mitranya bisa terus berkembang. Pertama, kerjasama yang baik dengan franchisee, lakukan tugas dan kewajiban masing-masing; jangan hanya menuntut hak saja. Kedua, memerikan monitoring dan extra advise bagi outlet-outlet yang underperformed. Ketiga, mengunakan pendekatan personal bagi franchisee yang agak “sulit” . Keempat, mengirim orang ke outlet untuk mengamati apa masalah yang terjadi, diskusikan dengan Franchisee mengenai solusinya. Keenam, melakukan promosi nasional mengenai produk baru dengan menuliskan lokasi keseluruhan outlet-outlet. Dan ketujuh, jangan melakukan kesalahan yang dapat mengakibatkan keseluruhan citra brand menjadi rusak dan dijauhi pelanggan.
 
Sedangkan untuk para mitra atau franchisee, menurut Pietra, ada 5 langkah yang harus dilakukan agar bisnis mereka tetap berjalan. Pertama, kerjasama yang baik dengan franchisor, lakukan tugas dan kewajiban masing-masing; jangan hanya menuntut hak saja. Kedua, melakukan internal control, terutama keuangan dan stok. Ketiga, jangan pelit melakukan local marketing karena meskipun ada dukungan promosi dari franchisor, si franchisee adalah tetap yang paling mengerti mengenai kondisi pasar di wilayahnya. Keeempat, melaksanakan SOP dengan konsisten, jangan mengurangi kualitas hanya untuk mengejar profit yang lebih besar namun membuat pelanggan enggan datang lagi. Dan kelima, harus menyadari bahwa bisnis ini adalah miliknya sendiri (meskipun “menyewa” merek dan sistem franchisor), sehingga tanggung jawab utama pengembangan bisnis adalah di Franchisee dengan selalu berkoordinasi dengan Franchisor.
 
Dalam banyak kasus, kata Pietra, kegagalan gerai para mitra di bisnis BO umumnya karena  kerjasama franchisor-franchisee tidak berjalan harmonis sehingga dapat dikatakan itu kesalahan kedua belah pihak.