
Pria asal tegal ini jeli melihat perubahan bisnis dan trend konsumen yang tengah berkembang. Ia mengubah konsep bisnis warteg konvensional naik kelas menjadi kelas modern. Kalangan masyarakat menengah atas pun tidak sungkan makan di wartegnya. Kini ia memiliki 400 warteg lebih tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Bagaimana kisahnya?
Usaha warteg sudah tidak asing lagi bagi pria yang bernama Anang ini. Pengusaha yang akrab disapa Mas Anang ini lahir dari keluarga yang menekuni usaha warteg di daerahnya, Tegal. Selepas SMP dirinya ikut keluarga membantu usaha warteg di daerah Jakarta. Selama 6 bulan ia mengenal seluk beluk usaha warteg.
Selama kurun waktu tersebut Anang mempelajari semua hal tentang usaha warteg. “Jadi saya tidak hanya paham bisnis tapi juga bisa masak. Waktu itu usia saya sekitar 16 tahun lulus dari SMP. Saya sudah bercita-cita ingin menekuni usaha warisan keluarga suatu saat nanti,” kenangnya.
Gayung belum bersambut. Anang lebih memilih bekerja di saudaranya yang punya usaha ATK di daerah Jakarta. “Selepas dari karyawan saya merintis usaha ATK pada tahun 1998. Selama 2 tahun saya menggeluti usaha ATK dan memiliki 8 karyawan,” tuturnya.
Setelah memiliki cukup modal, Anang meninggalkan usaha ATK tersebut dan memilih menekuni usaha warteg yang resepnya sudah dikantonginya. Pada tahun 2000-an Anang mendirikan warteg konvensional di Bilangan Greenville, Jakarta dengan modal Rp 60 juta. “Usaha warteg sudah mejadi cita-cita saya sejak lama, karena ingin melestarikan usaha leluhur di Tegal,” ucapnya.
Sukses mengembangkan usaha warteg, Anang membuka warung kopi di sekitaran kampus Binus, Jakarta. Ia juga pernah membuka usaha buka ayam bakar. Namun usaha tersebut gulung tikar karena tangan dinginnya belum beruntung sebagaimana di usaha warteg.
Pada tahun 2014 ia kembali mendirikan warteg yang bernama Putra Bahari di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Warteg tersebut berjalan cukup sukses karena pemilihan lokasi yang tepat. Namun ia merasa belum puas karena wartegnya hanya dikunjungi kelas menengah bawah saja dari kalangan pekerja, supir taksi, tukang ojek dan lain sebagainya.
“Saya ingin warteg yang saya punya dikunjungi juga oleh kalangan menengah atas seperti PNS, pejabat, kalangan kantoran dan sebagainya. Maka pada 2018 Warteg Putra Bahari saya ubah menjadi kelas modern. Saya ubah warteg yang tadinya kumuh, kurang bersih menjadi modern, bersih dan hygenis dengan lampu yang terang,” ujar Anang.
Untuk mengembangkan usahanya, Warteg Putra Bahari menawarkan peluang franchise. Dalam waktu singkat di bawah naungan Putra Bahari Group, Warteg Putra Bahari memiliki 400 cabang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Di bawah Putra Bahari Group Anang terus mendirikan brand warteg modern menyesuaikan pangsa pasarnya. Yang terbaru ia mendirikan Warteg Prima Bahari pada Mei tahun 2025. Baru tiga bulan berjalan outletnya sudah mencapai 23 cabang. “Saya launching Warteg Prima Bahari dengan desain model baru, untuk saya tawarkan dengan konsep kemitraan. Rata-rata outlet Warteg Prima Bahari tersebar di Jabodetabek,” jelasnya.
Bagi yang berminat mejadi mitra bisnisnya, Warteg Prima Bahari menawakan investasi mulai Rp 160 juta untuk franchise fee. “Kalau total dengan luas 4 meter panjang 10 meter kurang lebih total Rp 200 jutaan investasinya, sudah termasuk sewa kios,” terangnya.
“Omzet rata-rata mitra bisnis Warteg Prima Bahari 2-3 juta seharinya. Kalau dihitung estimasinya, mitra bisnis Warteg Putra Bahari bisa mencapai BEP dalam kurun waktu sekitar 2 tahun, itu sangat sehat untuk sebuah usaha. Dari pusat hanya mengambil management fee 3% dari net profit,” sambungnya.
Lalu apa saja kewajiban mitra bisnis selain management fee? “Dari pusat yang wajib dibeli hanya beras. Kalau lauk pauk dan saur mayur mitra bisnis Warteg Bahari bisa membeli sendiri di pasar terdekat. Untuk awal, mitra bisnis bisa mempekerjakan 3-4 karyawan. Kalau omzet tinggi bisa nambah karyawan,” ujar Bapak satu anak ini.
Salah satu kunci keberhasilan mitra bisnis adalah mencari lokasi strategis yang sudah ada marketnya. Semisal sudah ada tempat kos-kosan, sudah ada pabrik atau tempat kerja, ada rumah sakit dan perkantoran. “Itu tempat-tempat yang bagus bila ingin membuka usaha warteg seperti Warteg Prima Bahari,” beber Anang.
Selain itu, faktor penunjang bisnisnya adalah memberikan pelatihan kepada para SDM. “Kita sudah ada traning SDM, jadi sudah ada standar cara memasak, sehingga kualitas rasa sama di berbagai cabang. Kami memiliki sekitar 40-50 menu sehingga punya banyak pilihan bagi pengunjung yang datang. Orang makan bila ada banyak pilihan tidak jenuh, harga juga terjangkau,” ujar Anang.
Anang merupakan typikal pengusaha yang otodidak, namun mampu belajar dari mana pun. “Saya belajar secara otodidak. Belajar dan melihat trend perkembangan warteg di Indonesia. Saya bergabung di Himpunan Warteg Indonesia. Maka saya kembangkan warteg modern. Faktor penunjang juga melihat teman yang berhasil, bagaimana mereka bisa sukses, mengapa saya tidak bisa seperti mereka. Itu menjadi penunjang semangat saya,” tegasnya.
Menurutnya, warteg bukan makanan musiman, sehingga investor banyak yang minat. Jadi mitra bisnis tidak perlu khawatir karena bisnis warteg sepanjang masa dan terbukti tahan krisis. “Terbukti, di masa pandemi banyak usaha-usaha kuliner gulung tikar, saya malah membuka 100 cabang. Karena orang butuh imun, makanya warteg terus buka. Kesempatan bisa diambil di masa sulit,”ungkapnya.
“Kebijakan saya waktu karena harus jaga jarak maka prioritasnya makan dibungkus. Saya malah menambah karyawan di waktu pandemi karena menambah cabang terus di tahun 2021. Saya memasarkan lewat digital marketing, Facebook, TikTok, Instagram, dan juga website,” ujar pria yang sempat sekolah di SMPN Tugu Turi, Tegal ini.
Lalu apa faktor penghambat bisnis ini? “Faktor penghambat di bisnis warteg ialah faktor lokasi karena marketnya sudah berkurang. Misalkan ada pabrik yang pindah atau pengurangan karyawan, atau ada kantor yang pindah otomatis karyawannya pergi. Maka solusinya pindah lokasi, membantu relokasi. Jadi ketika pindah lokasi biaya renovasi saja untuk bangunan baru,” jawabnya.
Kesulitan lainnya adalah usaha faktor SDM, tapi itu sudah umum bukan masalah yang berat. “Misalnya keluar masuk karyawan. Tapi untuk mengelola usaha dari pagi hingga malam sudah siap mental. Supaya karyawan betah bagaimana mensiasatinya memberikan fasilitas, kenyamanan, dan tips. Komunikasi juga sejajar agar tercipta suasana kekeluargaan,” kata Anang.
Diakui Anang, ketika memulai bisnis ia butuh perencanaan. Tapi cukup sederhana, misalnya saya harus punya modal dahulu, kemudian mencari lokasi yang starategis termasuk biaya sewa. “Baru dihitung apakah biaya sewanya terjangkau dengan asumsi omzet warteg. Kalau tidak cari lahan yang tidak membebani biaya sewa,” ungkapnya prian kelahiran Tegal, 1984 ini.
Saat ini Anang memilik kurang lebih 1200 di bawah Putra Bahari Group. Dalam berbisnis dirinya senantiasa memegang prinsip percaya diri dan jujur. “Itu menjadi modal penunjang keberhasilan bisnis saya,” ujar pehobi jalan-jalan, dan menjalin relasi dengan orang lai ini.
Kedepannya Anang ingin membuat warteg semi resto yang konsumennya dari kalangan atas. Sementara untuk Warteg Prima Bahari ia menargetkan membuka 100 cabang Mitra Bisnis.
“Tips bagi orang yang ingin menekuni dunia usaha yang penting punya tekad dan niat yang kuat. Setelah itu take action. Kalau sudah ada tekad nanti modal datang sendirinya, ada jalan entah minjem, atau dari mana. Meminjam bagi awal jangan, kalau sudah jalan tidak masalah untuk pengembangan,” pungkasnya.