Menciptakan Sustainable Franchise Brand

Bagi kebanykan orang ketika mendengar brand, mereka mengira brand adalah sebuah visualisasi semata, seringkali disebut logo. Bagi saya dan teman-teman di DM IDH (awalnya bernama DM IDHOLLAND) kami percaya brand memiliki arti lebih dari sekedar logo, brand merupakan sebuah aset, reputasi, janji dan masih banyak lagi peran yang terkandung dalam kata brand. Dalam pembangunan sebuah brand, tidak hanya di perlukan sebuah visualisasi yang bagu sata packaging yang bagus atau logo yang bagus, tetapi juga perlu ada visi dan aspirasi kemana brand ini akan dibawa.

Selain memiliki fondasi dan prospek finansial yang matang, franchisor juga perlu memiliki strategi yang  tepat dalam membangun brand-nya. Hal ini dimaksudkan agar brand yang telah di bangun tidak hanya akan bertahan short-term tetapi dapat menjadi Sustainable Franchise Brand. Dalam membangun brand, terlepas apakah akan dibuat Franchise atau tidak, standard dan fondasi yang dipakai tidaklah berbeda. Ada 3 hal dasar yang perlu kita bangun:

Pertama adalah, Pemikiran awal terhadap siapa brand kita dan apa yang membuat brand kita berbeda dengan kompetisi yang ada. Pertanyaan yang saya sering lontarkan adalah: Mengapa saya harus menggunakan atau mengkonsumi produk atau jasa anda jika di bandingkan dengan yang lainnya? Dan jawabannya tidak boleh hal yang dapat di miliki oleh orang lain, misalnya karena ayam goreng saya paling enak, paling renyah dan paling murah.

Baca Juga : 7 Disiplin Agar Brand Tetap Remaja

Jika jawaban yang tadi saya sebutkan merupakan jawaban Anda sekarang (sebagai franchisor) kepada franchisee Anda, tentunya Anda perlu melihat kembali kekuatan apa yang Anda miliki yang unik. Hal yang tadi saya coba sebutkan merupakan contoh jawaban yang sangat lemah karena hal tadi merupakan hal yang dapat di komunikasikan oleh competitor dan samasekali tidak unik.

Setelah Anda menemukan jawaban di hal pertama, hal kedua yang perlu dibangun adalah, bagaimana orang-orang yang bekerja dan menjua brand kita percaya atas apa yang kita percayai. Hal ini tidak mudah karena sering kali kepercayaan mereka terhadap brand tidak akan sekuat kepercayaan kita. Keunikan yang telah dibuat di langkahpertama sangat perlu di sosialisasikan kepada setiap orang yang terlibat agar mereka memiliki percaya diri yang tinggi terhadap brand yang akan mereka jual.

Hal ketiga yang perlukita buat adalah visualisasi yang kuat dan konsisten. Ketika saya menempatkan visualisasi di langkah ketiga, bukan berarti visualisasi tidak penting, tetapi sebuah visualisasi yang kuat dan konsisten harus dibuat berdasarkan sebuah keunikan yang kita miliki. Hal yang sering terjadi adalah brand owner merasa brand-nya kuat ketika visualisasinya lebih bagus dari visual competitor yang lain, tetapi buat saya itu adalah penilaian yang sangat subjektif. Visualisasi yang kuatperlu di bangun dengan fondasi, rasional dan studi yang tepat agar visualisasi tersebut dapat mencerminkan siapa brand kita.

Selain itu, visualisasi juga mempunyai peran yang penting dalam membangun sebuah brand karena hal itu dapat men-transfer kualitas dan kredibilitas. Sebagai contoh ketika tahun lalu saya pergike China, tepatnya di kota Quilin. Pada saat itu saya mengalami kebingungan apa yang saya akan makan akibat kendala bahasa, akan tetapi ketika saya berjalan terus saya menemukan ada sebuah gambar kakek tua memakai celemek berwarna merah dan menggunakan kacamata, kita semuatahu yang saya temukan adalah outlet KFC.

Baca Juga : Membangun Brand Waralaba yang Menarik Investor

Saat itu juga tidak berpikir panjang, saya langsung masukke KFC dengan sebuah persepsi ini aman dan rasanya sama persis dengan apa yang ada di Indonesia, tetapi ketika saya mencobanya ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang di Indonesia. Kejadian diatas merupakan sebuah contoh betapa kuatnya visual system yang konsisten. Bayangkan jika Kakek Tua yang saya lihat menggunakan apron berwarna kuning atau warna lainnya, saya mungkin akan berpikir 2 kali sebelum masuk dan makan di tempat itu.

Brand Franchise yang telah dimilik oleh Franchisee memiliki tantangan yang lebih besar karena, sistem monitoring yang berbeda dengan produk atau outlet yang langsung dimonitor oleh franchisor. Oleh sebab itu 3 hal dasar di atas perlu dibuat secara benar dan dibukukan dalam sebuah manual yang biasa kita sebut Brand Manual. Brand Manual akan menjadi buku yang sakral dalam menjadi panduan pembangunan sebuah brand yang kuat.

Joseph Eko

General Manager DM-IDHOLLAND