Paket Investasi Di Franchise Lazimkah?

Paket Investasi Di Franchise Lazimkah?

Bukanlah suatu kelaziman dalam bisnis franchise investasi dibuat secara berpaket untuk dipasarkan ke calon investor. Bukan hanya karena tidak ada standar yang menentukan tapi memang istilah itu tidak dikenal dalam franchise.

Belakangan ini, banyak pelaku dari industri franchise yang membuat paket investasi dalam menawarkan peluang bisnisnya kepada para calon franchisee. Selain ingin memberikan banyak pilihan pada calon franchise dalam memilih paket bisnis sesuai dengan modal yang dia punya, paket investasi juga dibuat untuk tujuan menyasar segmen pasar di lokasi daerah tertentu.

Tapi sejatinya, paket investasi dalam bisnis franchise itu kebanyakan berasal dari bisnis belum layak disebut franchise yaitu business opportunity (BO). Biasanya, mereka (para pemain BO) membuat hal demikian untuk menarik minat investor dengan tujuan memberikan penawaran yang menarik bagi investor semata. Itu hanya strategi kosong belaka yang tidak ada dasarnya, apalagi bisnis mereka umumnya tidak lama alias timbul dan tenggelam tanpa jejak.

Lalu bagaimana yang lazim paket investasi di bisnis franchise? Dalam  standar franchise yang ada itu adalah istilah start up capital, initial fee atau biaya investasi awal yang mencakup biaya renovasi, perlengkapan usaha, biaya promosi dan franchise fee di luar biaya lokasi atau tempat usaha. Pengertian start up capital mau memberitahukan berapa besar dana untuk membuka suatu gerai diluar tempat.

Baca juga : Harus Cermat Membeli Paket Waralaba

Franchise yang benar akan menjelaskan untuk membuka gerai ini nilai investasinya sekian. Misal Es Teler 77 nilai investasinya Rp 850 juta, meliputi biaya renovasi, peralatan, perlengkapan, modal kerja dan biasa sudah termasuk di dalamnya franchise fee diluar biaya sewa atau beli lokasi. Itu disebut start up capital.

Untuk menjadi bisnis yang layak difranchisekan itu memerlukan waktu yang panjang, tidak serta merta menawarkan bisnis dalam bentuk paket-paket dikatakan sudah franchise. Sementara pebisnis yang mengaku bisnisnya franchise sendiri belum punya prototipe gerai seperti yang ditawarkan, belum punya jejak rekam bisnis yang bagus karena masih baru, belum ada SOP yang terjabar dengan baik dan berbagai persyaratan franchise lainnya.

Segmentasi dan Diferensiasi

Lalu apa bedanya paket-paket investasi yang ditawarkan banyak pelaku BO dengan franchise yang memiliki berbagai tipe gerai? seperti ada yang buka dalam bentuk gerobak, konter, dan resto  yang berefek pada bedanya nilai investasi. Perbedaannya ada pada nilai usaha itu sudah franchise atau belum jika diteliti lebih jauh ke dalam dengan menggunakan standar franchise sesungguhnya.

Jadi amati apakah bisnis itu sudah terbukti secara sistem yang tertuang dalam standart operational procedure (SOP) atau pun manual trainingnya. Selain itu, franchisor juga sudah mempunyai support manajemen yang bagus  untuk usaha yang anda akan jalani.

Kemudian, dari sisi gerai apakah sudah ada gerai yang proven sebagai prototype untuk ragam tipe yang ada. Karena franchise yang benar membuat ragam jenis tipe gerai bukan sekedar untuk memberi pilihan nilai besaran investasi pada franchiseenya tapi lebih kepada unsur diferensiasi gerai dan segmentasi konsumen.

Ambil contoh, sebuah merek franchise makanan membuat gerainya dalam beberapa bentuk  seperti gerobak, konter dan resto. Tentu saja akan berbeda dari segi pelayanan, fasilitas, harga produk, dan lain sebagainya meskipun produknya sama.  Di tipe gerobak tentunya lebih simple, tidak ada AC atau pelayanan yang ramah. 

Dari perbedaan layanan itu menentukan pada perbedaan segmen market yang dituju. Mulai kelas bawah, menengah dan atas.

Jadi kesimpulannya, istilah paket investasi bukanlah istilah yang lazim ada dalam bisnis franchise. Karena bisnis franchise tidak semata-mata membagi nilai investasinya kedalam paket-paket tertentu yang secara sistem belum terbukti di pasar. Franchise merumuskan nilai investasinya berdasar pada pengalaman bisnis yang telah panjang dan terbukti sukses dan dapat diterapkan dan diajarkan kepada pihak lain sebagai franchisee. Istilah yang digunakan adalah start up capital franchise.

Anang Sukandar

Chairman Asosiasi Franchise Indonesia