Mulai dari Mengubah Mindset, Semua Bisnis Daerah Potensial Dikembangkan

Semua bisnis berpotensi dikembangkan ke semua daerah bahkan go global. Yang membatasi adalah mindset dari pebisnisnya.

Kesiapan mental dan wawasan pelaku bisnis harus bersifat global. Bisnisnya boleh saja dari daerah, tetapi mental dan wawasan pelaku bisnisnya harus bersifat global. Dengan demikian langkah-langkah dan rencana bisnisnya akan mengarah kepada bisnis global. 

Kalimat itu disampaikan Burang Riyadi, pengamat franchise dari IFBM ketika ditanya soal potensi bisnis di daerah. Berpikir global yang dimaksud Burang misalnya adalah memberi merek dan desain. “Berpikir untuk berkembang keluar daerah atau luar negeri tentunya perlu landasan dan standarisasi yang bisa beradaptasi dengan pasar luar daerah. Siap berkomunikasi dengan budaya yang berbeda dan bersifat universal,” katanya.

Sudahkah pebisnis daerah memiliki cara pandang seperti itu? Daerah, menurut Burang memiliki kekayaan produk khas dan unik yang bisa menjadi motivasi pasar, sangat membantu berkembangnya merek dan bisnis tersebut di daerah lain, tidak hanya di daerah sendiri. Karena bisnis yang ingin dikembangkan ke luar daerah perlu melakukan penyesuaian pasar. Penyesuain, tidak hanya terjadi pada produk semata, melainkan juga pada konsep produknya dan bisnis secara komprehensip.

Tapi memang, dari faktor mental, menurut Burang perlu dikembangkan lebih lanjut. Saat ini, banyak pelaku usaha daerah yang melirik ke pola waralaba karena cara ini mempercepat perluasan jaringan. 

Jahja B. Soenarjo, pengamat franchise dari Direxion menjelaskan, peluang bagi pebisnis daerah atau bisnis dari daerah sangat besar selama tekad untuk mengembangkannya secara professional dan dengan ‘kemasan marketing.  Untuk mewujuukan itu, katanya, perlu kesiapan mental yang kuat. Dan saat ini, katanya, masalah utama adalah mental yang ingin cepat sukses lalu terkenal.  

“Menjadi wirausaha itu bukan menjadi selebriti. Di sisi lain ada juga yang mentalnya mudah menyerah, ataupun yang tidak berani menghadapi resiko besar, lamban, bahkan terlalu percaya diri. Itu sebabnya pebisnis-pebisnis demikian ketika menghadapi pasar yang bergejolak banyak yang rontok dan kurang tahan uji. Banyak yang tutup, banyak yang asal banting setir, banyak yang nakal, hanya segelintir yang akhirnya lolos seleksi alam,” katanya.

Beberapa entrepreneur bisnis franchise sudah membuktikan diri sebagian dari mereka memiliki mental yang kuat. Sebagai contoh, sebut saja bisnis Nakamura The Healing Touch, dikembangkan oleh Gus Minging di Solo dari pengalaman menjadi tukang pijak keliling.Ada juga Kebab Turki Baba Rafi yang dibangun oleh Hendi Setiono berkembang hingga mendunia  awalnya dari usaha gerobak di Surabaya.

Mereka ini hanya sebagian dari pelaku bisnis di daerah dan produk dan jasanya bukan khas daerah. Tapi berkat proses pengalaman panjang dan mengembangkan knowledge, mampu “menyulap” bisnis mereka menjadi sebuah usaha waralaba yang berkembang dan mampu melebarkan jaringannya secara luas dengan konsep waralaba.

Memang sih, umumnya mereka itu membutuhkan waktu lebih panjang. Bukan karena faktor bisnisnya atau lemahnya kemauan mereka untuk mengembangkan bisnis franchise. Tetapi, mereka memulai dari sekadar ingin usaha. Pengembangan dengan sistem waralaba baru didapat kemudian.

Yang lain, bisnis waralaba di mulai dari daerah karena persoalan taktis dan strategis karena tidak mau menghadpi persaingan dengan merek-merek yang sudah kuat dan tingkat persaingan yang crowded. Apotik K-24 mampu memulai dari Jogja, dan akhirnya berkembang menembus batas persaingan ketat di kota-kota besar seperti Jakarta.

Keberhasilan mereka didukung pula oleh kesediaan untuk mencari konsultan bisnis franchise, sehingga mereka bisa lebih leading dari para pesaing mereka di bisnis sejenis. Konsultan ikut berperan dalam membantu meng-up grade bisnis mereka sehingga layak waralaba. Pada akhirnya, bisnis mereka bisa berkembang pesat menembus batas daerah.

Lalu, seperti apa mengembangkan bisnis franchise daerah? Umumnya, hukum yang berlaku bersifat universal untuk semua bisnis, termasuk bisnis asal daerah untuk bisa berkembang pesat dengan pola waralaba.

Bisnis daerah, tidak bisa dipungkiri kebanyakan memiliki kelemahan. Dari pengalaman sukses beberapa merek franchise asal daerah, pada awalnya, mereka lemah di manajemen dan produk. “Umumnya pemain daerah memang lemah dalam kedua hal ini. Inovasinya lemah, manajemennya juga banyak one-man-show, tidak profesional,” kata Jahja.

Ketika mereka berhasil memperbaharui produk dan manajemen, mereka memiliki peluang yang besar untuk berkembang menjadi gurita bisnis di waralaba. Selalu saja, kata Jahja, ada yang kurang diperhatikan dari bisnis yang dikembangkan oleh waralaba lokal. “Merek kadang bagus dan bisa melegenda, tapi logonya sudah mulai usang atau kemasannya itu-itu saja. Begitu mulai ada pesaing yang makin gencar malah enggan memperbaiki atau bahkan berpromosi,” katanya.

Lanny Kwandi, pengamat franchise dari The Bridge juga menjelaskan, peluang bagi pebisnis lokal sangat besar untuk mengembangkan bisnisnya secara waralaba. Menurut Lany, beberapa hal yang harus dipertimbangkan ketika pebisnis daerah ingin menggunakan konsep waralaba, pertama, mempunyai keunikan. Artinya, pelaku usaha ini harus menciptakan keunikan dari bisnisnya, baik itu dari sisi produk, kemasan atau konsep outletnya.

Kedua, mereka harus memperbaiki sistem distribusi, manajemen keuangan atau cost accounting, dan menciptakan produk unggulan serta manajemen yang siap untuk support franchisee mulai dari awal pembukaan hingga operasional.

Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) juga menjelaskan, bagi pebisnis daerah yang ingin mengembangkan bisnisnya melalui franchise membutuhkan persyaratan umum yang berlaku sesuai UU. Misalnya, terbukti sukses dan menguntungkan, punya prototipe, punya keunikan, mudah diajarkan, sudah berjalan lama dan seterusnya. 

Hanya saja, kata Anang, bagi mereka yang bergerak di bisnis franchise minuman dan makanan, mereka perlu mempercepat proses kesiapan sajinya. Sehingga, kecepatan ini bisa menjadi keunggulan juga bagi mereka.

Anang kemudian menyarankan, pebisnis daerah harus siap merubah mindset mereka agar tidak berkecimpung terus di kolam yang sempit. Mereka harus berpikir di kolam yang besar. Untuk itu, mereka harus mulai mengarah ke profesionalisme. Unsur-unsur untuk itu antara lain, punya unsur manajemen, pemasarannya, finansialnya, produksinya jangan dipegang oleh satu orang, mau tidak mau harus ada orang lain untuk menempati bagian yang punya tugas masing-masing. Selanjutnya, jika sudah baik dan bagus, harus dijaga secara konsisten.

Zaziri