Enam Landasan Waralaba yang Etis

Kata “etika” berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti “karakter moral”, dan menggambarkan seseorang atau perilaku yang benar dalam arti moral – jujur dan adil.

Berinvestasi dalam bisnis baru merupakan komitmen yang besar, baik secara finansial maupun emosional. Dengan begitu banyak peluang waralaba yang tersedia, sangatlah penting bagi calon mitra atau pewaralaba untuk memilih merek dan bisnis yang “cocok” bagi mereka.

Tentu saja, calon mitra baru harus melakukan riset menyeluruh tentang sejarah dan keuangan merek serta model bisnis yang menarik perhatian mereka. Sama pentingnya adalah memperhatikan bagaimana pewaralaba menjalankan bisnis dan hubungan bisnisnya.

Sayangnya, seperti di semua industri dan bidang kehidupan, akan ada pewaralaba yang tidak selalu beroperasi secara adil dan jujur, atau tidak memiliki sistem yang tepat untuk dapat menawarkan dukungan dan pelatihan yang dibutuhkan mitra untuk sukses. Pewaralaba seperti ini tentu saja harus dihindari

Waralaba yang etis adalah waralaba yang berkomitmen pada keadilan dan praktik yang baik. Meskipun memilih waralaba yang etis tidak menjamin kesuksesan bisnis.

Ada enam karakteristik utama waralaba yang etis:

Model bisnis harus teruji.

Waralaba yang etis akan menawarkan peluang bisnis dengan rekam jejak kesuksesan yang terbukti. Keuntungan membeli waralaba adalah pengalaman pewaralaba dalam beroperasi di industri yang dipilih, dengan semua sistem dan proses utama yang tersedia.

Model bisnis harus menguntungkan.

Seorang mitra akan berinvestasi dalam bisnis waralaba untuk menghasilkan uang. Bisnis tersebut harus berkelanjutan secara finansial bagi mitra, tetapi juga menguntungkan bagi pemberi waralaba untuk menjaga keamanan bisnis di masa depan.

Model bisnis harus mudah diduplikasi dan diajarkan.

Agar waralaba berhasil, model bisnis tersebut harus dijalankan dengan memberikan pelatihan dan dukungan berkesinambungan kepada mitra, untuk mendirikan bisnis di berbagai lokasi, dengan standar dan kualitas yang sama

Model waralaba harus menghargai pelatihan dan dukungan.

Waralaba yang etis akan memiliki program pelatihan yang komprehensif untuk membekali mitra baru dengan semua perangkat yang dibutuhkan untuk meluncurkan bisnis mereka, serta struktur yang memastikan bahwa mitra menerima pelatihan serta dukungan berkelanjutan.

Perjanjian waralaba harus adil dan wajar bagi kedua belah pihak.

Perjanjian waralaba merupakan tulang punggung hubungan antara pemberi waralaba dan mitra. Oleh sebab itu perjanjian ini harus adil bagi kedua belah pihak, meskipun akan ada beberapa bagian yang lebih berpihak kepada pemberi waralaba untuk melindungi merek waralaba secara keseluruhan

Perjanjian waralaba harus disepakati oleh kedua belah pihak dengan keterbukaan penuh.

Antara pemberi waralaba dan mitra sebelum dokumen waralaba ditandatangani, harus ada keterbukaan dan transparansi. Proyeksi dan prakiraan keuangan harus realistis dan dapat dicapai.

Pemberi waralaba yang baik akan memberikan ruang diskusi pada mitra untuk memastikan bahwa ada kecocokan antar mereka.

Harus diingat, waralaba adalah hubungan dua arah, jadi pemberi waralaba yang beretika akan berhati-hati dalam merekrut penerima waralaba dengan kepribadian, keterampilan, pengalaman yang relevan, dan kemampuan finansial yang tepat untuk menjadikan bisnis mitra sukses.

Sumber: forbes