Daya Tarik Franchise Di Mata Calon Franchisee (Investor)

Daya Tarik Franchise Di Mata Calon Franchisee (Investor)

Seberapa besar keuntungan dan kerugiannya? Pertanyaan itu pasti yang pertama kali muncul di benak investor ketika ingin menaruh uang dalam sebuah investasi. Pasalnya, bukan sedikit modal yang akan dikeluarkan oleh investor ketika menanamkan uangnya di suatu lahan invetasi. Apalagi uang yang dia dapat dari hasil jerih payah puluhan tahun bekerja. Bayangkan, betapa menyakitkannnya bila dana pensiunan yang diharapkan akan menjadi tanggungan hidup di masa tua  nanti tiba-tiba raib begitu saja tanpa hasil.

Melihat pertimbangan tersebut, sudah merupakan kelaziman jika menimbang untung rugi-nya terlebih dahulu dalam menentukan sebuah pola investasi yang akan digeluti.  Tapi satu hal yang perlu diingat. Cara berinvestasi di bisnis franchise sangatlah berbeda dengan melakukan investasi bidang lain seperti deposito, reksadana, properti, jual beli saham, dll. Dalam franchise, seorang investor dituntut untuk terlibat di dalamnya. Dia ikut terjun memikirkan dan menjalankan roda bisnis yang berputar di dalamnya.

Ini sangatlah berbeda dengan cara berinvestasi di properti, reksadana, dan saham  yang hanya menunggu hasil dari putaran uang yang beputar di luar. Tapi kalau kita timbang-timbang resikonya. Meskipun tidak dijamin aman, cara berinvestasi di bisnis franchise dinilai lebih kecil resikonya ketimbang jenis investasi yang saya sebutkan tadi. Pasalnya, dengan ikut terlibat di dalam bisnis, sang investor bisa mengendalikan sebuah bisnis yang sudah terbukti proven.

Kenapa harus proven? Karena sesunggunya yang membedakan peluang bisnis franchise dengan peluang bisnis lain adalah karena proven track record sebuah bisnis. Dengan bisnis yang sudah proven atau sudah terbukti sukses maka sang franchisee bisa lebih mudah menjalankan bisnis dengan resiko yang kecil dan mempunyai peluang sukses lebih besar.

Lalu bagaimana dengan deposito? Menyimpan uang di deposito memang jauh lebih aman, namun perlu diingat, bunga bank saat ini kurang begitu menggiurkan. Menurut survei, pendapatan bunga per tahun dari deposito kira-kira hanya 6% sampai 7% . Sedangkan pendapatan dari investasi franchise pertahunnya bisa mencapai 20%. “Jadi investasi dalam franchise  kira-kira 3 kali lebih besar return-nya daripadayang diterima dalam deposito. Ini kan jauh banget, tingkat return maupun tingkat profit yang bakal terima itu pasti lebih tinggi daripada deposito. Jadi kalau seseorang yang ingin berusaha dengan baik tentunya diharapkan dia bergerak dalam bidang franchise daripada deposito,” katanya.

Tidak hannya itu, dibanding Bank, Franchise dinilai lebih mulia, capital gain (keuntungan yang peroleh dari hasil investasi) juga dapat menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. Lebih dari itu kalau dilihat dari sisi pajak, kita membayar pajak lebih besar dari deposito. Jadi sumbangsih kita terhadap negara menjadi lebih besar. Namun harus juga diingat, kalau dari tingkat resiko jelas waralaba lebih tinggi tingkat resikonya. Kalau deposito tingkat resikonya sangat kecil sekali. Meski begitu, dalam bisnis manapun berlaku satu dalil ‘lebih besar resiko itu lebih besar profitnya atau return-nya dan lebih kecil resiko biasanya return-nya juga lebih kecil.

Dalam riset yang dilakukan oleh Majalah Info Franchise terhadap 23 merek franchise di Indonesia dengan jumlah 387 responden franchisee, ada beberapa alasan mereka membeli usaha waralaba. Dari seluruh responden yang ditanyai soal ini, 41% menjawab alasan mereka membeli waralaba  karena waralaba sama dengan membeli merek yang sudah teruji. Alasan kedua, untuk investasi dengan return yang lebih tinggi (35%), kemudian ingin menjadi pengusaha (18%), serta mendapat dukungan franchisor (2%).

Sedangkan faktor mereka memilih usaha waralaba, dari 387 responden, umumnya (40%) menjawab faktor  merek dan sistem serta jaringan yang luas. Yang menjawab karena faktor berminat terhadap jenis usaha hanya 31%. Sisanya menjawab karena faktor presentasi usaha yang menarik (11%), referensi keluarga atau teman (8%) dan faktor lainnya (6%).

Adapun ketika ditanyakan soal pengalaman usaha, mayoritas responden memiliki pengalaman usaha. Meski begitu, ternyata mereka membutuhkan bimbingan dan pendampingan yang intensif. Ini terbukti dari pertanyaan waktu untuk beradaptasi dalam usaha, 78% responden menjawab sampai 6 bulan setelah usaha berjalan dan 12% yang membutukan pendampingan antara  6 – 12 bulan.

Ditilik dari kacamata riset tersebut dan berbagai pengamatan menyebutkan bahwa membeli usaha waralaba memiliki banyak keunggulan antara lain:

  1. Franchisee dapat menggunakan brand franchisor selama masa perjanjian franchise yang telah disepakati bersama. Merek yang sudah tinggi ekuitasnya cenderung berpotensi lebih besar dalam memenangkan persaingan merebut customer dibanding dengan memulai bisnis sendiri.
  2. Sistem Bisnisnya sudah teruji. Membeli franchise juga identik dengan membeli sistem. Selain merek, kunci terpenting lainnya dalam bisnis adalah sistem. Sistem disini mencakup manajemen, keuangan, pemasaran, alur pasokan dan logistik (suplay chain) serta sumber daya manusia.
  3. Adanya bantuan pelatihan atau training yang dilakukan oleh franchisor kepada karyawan maupun owner baik sebelum pembukaan outlet maupun setelah pembukaan outlet.
  4. Franchisor akan memberikan bantuan pendampingan dan bimibingan bisnis terhadap franchisee baik pra-operasional maupun pasca-operasional.
  5. Franchisor akan memberikan berbagai dukungan dari Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba secara terus menerus seperti bimbingan operasional, pelatihan, dan promosi.
  6. Sharing Experience Franchisor. Franchisor akan mentransfer pengalamannya dalam mengelola gerainya sehingga kendala-kendala yang terjadi dilapangan relatif lebih mudah diatasi.