Bagaimana Menciptakan Kinerja Bisnis Terbaik? Begini Langkahnya

Bisnis waralaba berkinerja baik karena mampu bersaing. Apa saja faktor yang membuat sebuah bisnis waralaba bisa bersaing dan memiliki kinerja terbaik? Dr. Handito Juwono, pengamat kewirausahaan dari Arbey Consulting menjelaskan bahwa ada 7 unsur agar pelaku usaha waralaba bias bersaing dan memenangkannya. Pertama, sales. Menurut Handito, menjual lebih banyak merupakan tujuan dari bisnis. Tanpa penjualan persuahaan tidak bergerak. “Biasanya perusahaan yang menghasilkan penjualan banyak mereka punya tenaga penjual atau salesman yang handal. Memiliki program kampanye dan iklan yang bagus, serta jaringan distribusi yang baik,” katanya.
 
Kedua, market share. Pangsa pasar, kata Handito,  menggambarkan penguasaan pasar suatu perusahaan dalam arena persaingan. Semakin tinggi pangsa pasarnya semakin tinggi dominasinya atas lingkungan persaingannya.  
 
Ketiga, customer awareness. Menurutnya, jika konsumen tidak kenal, tentu belinya rendah.  “Perusahaan berkinerja baik biasanya memiliki customer awareness tinggi,” jelasnya.  
 
Customer awareness, terang handito memiliki 4 tingkatan. Yaitu, Top of Mind. Iini paling tinggi, karena secara spontan terjadi saat responden menyebut merek atau produk. Kemudian, Recall Awareness, yaitu terjadi secara spontan meskipun tidak dibantu diingatkan. Selanjutnya, Recognition Awarness, yaitu dimana konsumen bisa mengenali merek tertenti jika dibantuu diingatkan dengan komunikasi intensif. Dan terakhir, Zero Awraness, yaitu merek yang baru diluncurkan.
 
Keempat, customer image. Perusahaan yang memiliki image baik biasanya sesuai dengan pengelola merek. Biasanya disebut posisioning. “Untuk menciptakan customer image yang baik harus dibentuk secara pro aktif oleh pemasar,” katanya.
 
Kelima, customer satisfaction. Tugas pemasar tidak berhenti ketika produknya terjual. Pelayanan kepada cutsomert harus dilakukan lewat layanan purna jual. “Perusahaan yang baik harus menciptakan kepuasan yang berkesan kepada customernya,” jelasnya.
 
Keenam, customer loyalty, yaitu layanan penuh kesan dan sifatnya personal bisa menjadi sarana untuk mendapatkanb loyalitas konsumen.
 
Ketujuh, stakeholder value. Kinerja kompetisi perusahaan juga diukur dari keberhasilannya member value kepada para pemangku kepentingan atau stakeholder yang terdiri dari pemegang saham, karyawan, konsumen, pemasok, jaringan distribusi, pemerintah, dan masyarakat ukum.  
 
Namun demikian,” kata Handito, semua itu tidak akan berarti jika perusahaan tridak growth. Perusahaan harus tumbuh. Kalau perusahaan tersebut punya sales bagus tapi tidak tumbuh lagi, itu juga jelek. Ada perusahaan yang tumbuh cepat tapi tidak besar-besar, itu juga tidak baik. “Yang baik itu jika perusahaan itu tumbuh dan menjadi besar.  Saya kira sama perusahaan manapun 7 unsur ini harus dipenuhi, entah itu perusahan biasa atau franchise,” katanya.
 
Penentu kinerja
Lalu, apa saja faktor yang mendorong sebuah bisnis franchise mampu menciptakan knerja terbaiknya? Pertama adalah merek. Menurut Handito, merek merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh bisnis franchise untuk meraih kepercayaan konsumennya.
 
Royandi Junus dari IFBM juga mengakui, merek menjadi factor penentu paling penting untuk mendorong kinerja bisnis franchise.  Menurutnya, merek akan memberikan sebuah imaji pada sebuah bisnis. “Bila pengalaman dari konsumen atas sebuah merk mendatangkan rasa suka, kemudian disetiap bisnis dibawah merek tersebut memiliki kualitas dan standar yang sama (duplikat), maka akan jauh lebih mudah memasarkannya dibandingkan dengan sebuah nama baru dimana konsumen belum mempunyai pengalaman dengannya,” katanya.
 
Seperti apa merek yang bagus? Menurut Royandi, Idealnya merek adalah sesuatu kata yang mudah diingat dan mudah diucapkan, sehingga mudah menyebar dalam pembicaraan. “Tetapi, pada dasarnya kesan yang baik dari pelanggan tercipta karena proses di dalam bisnis tersebut yang menghasilkan keluaran (output) yang memuaskan. Bila keluaran (output) ini selalu sama hasilnya (standar), maka kesan baik tersebut akan sangat mudah menyebar melalui merk,” katanya.
 
Utomo Njoto dari FT Consulting juga mengakui, tanpa merek yang baik, sulit menentukan perbedaan yang ingin diungglkan kepada konsumen. “Betulnya pelanggan mencari produk. Tapi kemudian Brand menjadi pembeda dan identitas pengingat, entah pembeda secara rasional maupun irasional (persepsi),” katanya.
 
Kedua, system. Sistem berguna untuk menjaga standar yang sudah ada, baik di loayanan maupun di produk.
 
Agus W. Suhadi, pengamat franchise dari Prasetya Mulya menjelaskan, Sistem yang biasa dikenal dengan SOP di bisnis franchise sangat penting . Sebab, SOP itu merupakan salah satu langkah untuk melakukan standarisasi , baik service level maupun kualitas produk.  “Jadi bukan hanya berhasil mendevelop bisnisnya, tapi juga  menjada standardisasi. Seorang pengusaha memfranchisekan usahanya karena sudah berhasil mendevelop usahanya dan  karena sudah punya pengalaman  mengelola cabang. Dua itu yang menurut saya cukup penting dalam bisnis franchise,” katanya.
 
Ketiga, SDM. Menurut Royandi, di dalam bisnis franchise, dimana kolaborasi sangat penting, kerja team sangat dibutuhkan untuk dapat mencapai hasil yang baik.
 
Dijelaskan, SDM yang baik adalah SDM yang dapat menjalankan serta menjiwai Visi an Misi perusahaan, dimana dia ditempatkan pada tempat yang sesuai dengan keahliannya. Menurutnya, agar menjadi pilar penting kinerja sebuah bisnis dibutuhkan keahlian memimpin yang baik, terutama dalam hal reward, punishment dan peningkatan karir.
 
Sementara itu, Agus menjelaskan, SDM juga harus standard. “Tetap berpegang pada kualitas layanan. Kalau tidak standard, pelanggan bisa kecewa. Franchisor yang hebat biasanya punya training center,” kata Agus.

Utomo Njoto juga menjelaskan organisasi bisnis waralaba butuh Teamwork, bukan individu-individu yang bekerja sendiri-sendiri. SDM yang baik itu, katanya harus The right man in the right place. “Prinsip-prinsip teamwork-nya bisa jalan. Ada kewenangan yang cukup, sehingga tidak terlalu highly-centralized,” katanya.
 
Untuk memperoleh SDM yang baik, harus dimulai dari proses seleksi dan pelatihan dengan baik. Berikan kompensasi yang sesuai dengan produktivitas. Jangan kompromi dengan perilaku kontra-produktif.
 
Sesungguhnya, kata Handito, SDM itu sangat penting, tetapi yang lebih utama adalah leadership. “Perusahaan franchise harus punya franchisor yang punya leadership dan kompetensi baik. Karena bagaimanapun, dia yang menjadi panutan. Meskipun ada sistem, tapi kalau tidak ada leadership tidak akan jalan,” kata Handito.
 
Keempat, Inovasi. Yaitu strategi penyegaran untuk terus memaintain pelanggan. Inovasi bukan berarti harus selalu berubah karena bias membingungkan pelanggan. Inovasi berarti menambbah value dimata konsumen.

Rofian Akbar