
Pria kelahiran Pacitan ini sukses banting stir menjadi pengusaha kopi, setelah belasan tahun menjadi karyawan di perusahaan perbankan. Kini, bisnis kopinya sudah memiliki 300 cabang lebih. Kuncinya inovasi dan adaptif di tengah persaingan bisnis kopi yang semakin sengit.
Sejatinya, pria kelahira Pacitan, Jawa Timur yang satu ini memilik karier yang mapan di sebuah perusahaan perbankan BUMN. Posisinya sebagai officer membuat dirinya berada pada zona nyaman, terlebih lagi ia sudah 12 tahun bekerja di perusahaan tersebut yang senantiasa membuka peluang peningkatan karier.
Namun naluri bisnisnya tidak bisa dibohongi. Ia melihat trend bisnis minuman kopi yang kian tumbuh dan berkembang baik di Indonesia. Hal itu pula yang selalu mengusik gairah bisnisnya untuk ikut menekuni bisnis kopi.
Alasan lainnya karena market size pasar tersebut terus membesar. “Banyak orang yang senang ngopi saat ini. Tinggal melihat trend seperti apa kopi yang menjadi kesukaan Masyarakat. Itulah yang membuat saya tergiur menggelutis bisnis ini. Saya optimis pasar kopi terus tumbuh dan sustain,” jelas pria yang bernama lengkap Agung Pribadi.
Untuk menguasai produk dan pengetahuan tentang pasar kopi, Agung belajar kelas kopi di daerah Jogja. Ia mengambil kursus kopi sepulang bekerja dari tempatnya bekerja.
“Saya mempelajari kopi di sela-sela pulang bekerja, saya juga ambil sekolah barista di weekend, ambil kelas di sana mempelajari cara membuat kopi, itu saya betul-betul pelajari. Sekarang kelas barista banyak di Jogja, biayanya 15 juta untuk ambil satu kelas. Hasilnya memang cukup bagus jadi tahu dunia perkopian dan usaha kopi seperti apa,” ujarnya.
Setelah menguasai pengetahuan tentang kopi, sejurus kemudian Agung mendirikan bisnis kopinya pada tahun 2019 dengan modal 14 juta dengan konsep booth di Jl. Peteran, daerah Solo. Modal tersebut dipergunakan untuk membuat booth, sewa tempat di kios, membeli produk dan sebagainya. “Saya orang bank saya paham bagaimana merencanakan keuangan di bisnis. Saya pisahkan antara keuangan pribadi dan bisnis. Agara kita bisa melihat pertumbuhan usaha,” jelasnya.
Usaha tersebut dilakoninya sambil bekerja di perusahaan perbankan. Sukses di daerah Solo, ia membuka cabang bisnisnya di tanah kelahirannya, Pacitan, Jawa Timur. “Waktu itu nama brand kopinya Teman Jiwa. Kami sudah memiliki 8 cabang bisnis di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun harus tertunda ekspansinya karena Covid19,” ujarnya.
Setelah pandemi mereda, pada awal tahun 2023 ia melihat trend kopi gerobakan tengah berkembang pesat. Sebagai pengusaha yang adaptif dan jeli melihat perubahan pasar, Agung pun memodifikasi bisnisnya. Ia membuat usaha kopi dengan konsep gerobakan dengan nama Teman Coffee, karena nama Teman Jiwa yang semula didirikan berbenturan dengan merek lain.
Kali ini ia membuka peluang kemitraam sebagai strategi ekspansi bisnisnya. “Karena tidak punya cukup uang untuk membuka cabang sendiri, maka pilihannya membuka kemitraan sebagai langkah meraih fresh money untuk ekspansi bisnis,” beber pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur tahun 1990 ini.
Dakam waktu singkat, Agung berhasil membuka 150 cabang pada akhir tahun 2023. Melihat perkembangan bisnisnya yang kian tumbuh pesat, Ia pun memantapkan diri keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan fokus mengembangkan bisnisnya. “Pada tahun 2024 saya berhenti menjadi karyawan perbankan, karena saya pikir bisnis yang saya bangun sudah stabil dan memiliki banyak mitra bisnis. Saya pun dengan mantap meninggalkan pekerjaaan utama saya,” terangya.
Tidak sebagaimana di awal memulai bisnis, Agung memasarkan usahanya lewat media digital di beberapa media sosial. Kali ini ia mulai memasarkan usahanya mengikuti berbagai pameran franchise untuk mengenalkan produk dan bisnis franchisenya.
“Di awal-awal bisnis saya memasarkan bisnis full di sosial media seperti Facebook, Instagram, Tiktok dll sebagai penguatan. Pada 2024 kami mulai ikut pameran franchise sampai saat ini berbagai pameran franchise dan peluang bisnis kami ikuti,” ujarnya yang ditemui di sela-sela pameran franchise di ICE BSD, Tangerang.
Kini, di bawah naungan Teman TE.Co Group, Teman Cofffee memilki 300 mitra lebih yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. “Perusahaan kami berpusat di Solo, Colomadu berbatasan dengan Karanganyar. Di pusat kami memiliki 34 karyawan yang siap mensupport berbagai keperluan bisnis para mitra di berbagai daerah. Mitra kami tersebar di berbagai daerah. Jawa Timur, Bali, Mataram dan Lombok memiliki kinerja yang bagus, Sumatera juga bagus,” jelasnya.
Bagi yang berminat menjadi mitra bisnisnya, Teman Cofee menawarkan dua paket kemitraan. Pertama, paket gerobakan sepeda listrik dengan investasi Rp 25,5 juta. Biaya investasi tersebut sudah full paket lengkap seperti sepeda listrik, sistem SOP, juga gratis ongkir produk di pulau Jawa, training, dan sebagainya. Kedua, paket booth dengan investasi mulai Rp 35,5 juta.
“Paket booth ini baru diluncurkan kembali tiga bulan yang lalu, mengingat trend minuman kopi model booth juga sedang trend belakangan ini. Teman Coffee model booth sudah ada 40 mitra bisnis,” terang pria yang menjabat sebagai CEO Teman TE.Co Group ini.
Omzet bisnis mitra Teman Coffee cukup menggiurkan, rata-rata mitra bisnis dalam sehari mencapai omzet Rp 1 juta. “Mitra bisnis bisa mencapai BEP di bulan ke-4 atau ke-5. Jadi keuntungan bersihnya rata-rata Rp 8 -Rp 10 juta perbulan, dengan penjualan rata-rata 80-90 cup perhari,” ungkap sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang ini.
Lalu apa kelebihan Teman Coffee? “Ciri khas kopi kami ada pada varian gula arennya yang cukup banyak, sekitar 4 varian. Jadi kopi kita terkenal enak kopi gula arennya, karena di Pacitan ada petani gula aren dan saya menggunakan 100 persen gula aren itu yang kemudian kita eksplor menjadi beberapa varian rasa. Menu-menu kita terus kita up date. Kami memiki 16 varian produk mulai kopi sampai non kopi,” jelasnya.
“Saat ini penjualan dengan konsep motor listrik dan booth ekslusive kami menjual produk mulai Rp 10 ibu hingga Rp 12 ribu untuk produk kopinya, dan itu menjangkau konsumen kelas C yang fokusnya di menengah ke bawah dengan kualitas produk kopi yang kita tawarkan. Jadi teman-teman yang ada di street kafe, di jalan, sekedar pingin ngopi sambil nongkrong bisa kita jangkau,” tandasnya.
Selama menjalani bisnis kopi Agung pernah mengalami kendala bisnis, terutama ketika membangun tim. “Kendalanya membangun tim, jadi bagaimana mendevelop tim agar memiliki tim seperti yang kami inginkan. Maka terjadilah keluar masuk karyawan, karena ada yang cocok dan yang tidak cocok dengan visi misi kita. Itu susahnya. Kalau pengembangan produk kita bisa pelajari secara berkala tidak menjadi kendala utama,” kata Bapak satu anak ini.
Lalu bagaimana dengan pembiayaan bisnis dan suplai produk? “Kalau untuk kendala suplai kopi tidak ada masalah karena kita punya suplair kopi dari Temanggung, kami ambil robusta dari Temanggung yang sudah terkenal kopinya,” ujar Agung.
“Kemudian dari sisi modal juga kami tidak mengalami masalah. Sewaktu memulai bisnis memang modalnya agak terbatas, namun untuk pengembangan bisnis menjadi persoalan juga, makanya saya menawarkan peluang kemitraan untuk mendapatkan fresh money untuk pengembangan bisnis,” tambahnya.
“Kendala lainnya kalau bisnis kopi gerobakan menggunakan motor ini bila datang musim hujan. Namun itu juga sejauh ini dapat kita atasi dengan mempersiapkan strategi seperti menyediakan kopi dan teh hangat, lalu cara parkirnya juga ketika musim hujan harus memperhatikan area yang ingin dijangkau,” bebernya.
Menurutnya, persaingan bisnis kopi kini semakin ramai. Namun justru kompetisi semakin seru dan itu berarti marketnya semakin luas. “Tinggal bagaimana kita konsisten dan berani menawarkan kualitas produk yang terbaik. Kalau terlalu murah orang-orang bertanya ini kopi apa, dan kalau varian rasa tidak berkembang konsumen juga akan jenuh. Karena itu inovasi akan terus kita ikuti trendnya, dan juga adaptif dengan kondisi pasar,” terangnya.
Agung sadar, tidak mudah memimpin sebuah perusahaan dibanding menjadi karyawan. Banyak yang harus dipertanggungjawabkan dan juga diperhatikan secara detail. “Namun saya juga tipikal pemimpin yang santai, tapi tetap disiplin. Prinsipnya bisnis itu harus bertumbuh setiap harinya. Semua karyawan evaluasi hari demi hari, setiap hari kita punya visi untuk tumbuh. Itu prinsip saya,” ungkapnya.
Ketika ditanyakan tentang suka duka dalam mengarungi bisnis kopi, Agung langsung terbayang ketika masa-masa pandemi covid19. Menurutnya, ujian bisnis terjadi saat itu dimana pada tahun 2020 bisnisnnya yang semula punya 6 cabang jadi sisa 2 cabang yang masih buka. “Semua perusahaan waktu itu harus efisien, tidak ekspansi, marketnya tidak bisa dipaksa,” kenangnya.
“Tapi kita tidak patah arang. Yang saya pikirkan bagaimana menyusun strategi pasca pandemi. Jadi ketika pandemi mulai reda kita start lebih awal dari yang lain. Tetap konsisten strateginya, anggap saja pandemi itu dikasih waktu istirahat oleh Tuhan. Yang saya pikirkan bagaimana karyawan bisa bertahan dan start dengan konsep bisnis yang baru,” ujar pria yang hobi main musik dan menajdi penyanyi di acara wedding ini.
Kepada calon pengusaha yang menekuni dunia bisnis, ia berpesan agar mau disiplin, tidak gampang nyerah, dan adaptif. Kalaupun gagal maka evaluasi dan balik lagi. Kalau gagal kemudian berhenti bukan mental pengusaha itu namanya,” pungkasnya.