Fifi Lim, Srikandi Pelopor Bisnis Spa Bayi di Indonesia

Lewat tangan dinginnya, Mom n Jo tumbuh menjadi pelopor bisnis franchise spa bayi di Indonesia. Bisnisnya pun berjalan stabil berkat manajemen dan mutu kualitas servicenya.

Nama Fifi Lim belum banyak dikenal, barangkali hanya sebagian kecil saja dikenal di dunia bisnis. Maklum srikandi yang satu ini memang sosok yang low profile, jarang tampil ke publik walaupun sekedar memajang foto-fotonya. Namun kalau menyebut nama Mom n Jo maka sebagian besar tentu familiar dengan nama brand ini khususnya di Industri franchise Indonesia.

Pasalnya, Mom n Jo merupakan di pelopor binis bayi spa di Indonesia. Merek ini yang memulai dan mengenalkan bisnis spa bayi di Indonesia. Berdiri pada 2006 di Darmawangsa Square, Jakarta Selatan, Mom n Jo tampil menawarkan jasa spa bayi yang kala itu masih belum ada pesaingnya.

Berkat tangan dingin wanita yang akrab disapa Fifi, Mom n Jo tumbuh menjadi pelopor bisnis spa bayi di Indonesia. Saat ini Mom n Jo memiliki 24 cabang yang tersebar di BSD, Bintaro, Kelapa Gading, Bekasi, Surabaya, Bandung, Cerebon, Makassar, Medan dan Pekanbaru dan daerah lainnya. “Sempat ekspansi ke Brunei Darussalam, namun kena hantaman pandemi jadi tutup,” katanya.

Ya, pandemi menjadi salah satu ancaman hebat bagi bisnisnya. Bagaimana tidak, bisnis Mom n Jo yang sedang tumbuh pesat harus tiarap selama dua tahun dihantam pandemi. “Kita sempat punya 30 cabang lebih, bahkan di 2013 kita membuka 7 cabang dalam setahun. Diperkirakan akan tumbuh pesat namun di tahun 2019 kita kena lockdown. Namun bersyukur tidak ada karyawan pusat yang diberhentikan,” ujarnya.

Fifi bukan owner yang diam saja menunggu bantuan dari luar ketika pandemi datang. Bersama tim ia mempersiapkan tenaga, uang dan obat-obatan untuk karyawannya yang terkena Covid. “Kita punya paket obat termasuk obat anti biotik dan anti virus sebelum ada bantuan dari pemerintah. Tabungan kita korbankan dahulu untuk membantu karyawan agar bisa tetap digaji walaupun tidak full,” katanya

Lepas pandemi, wanita kelahiran Jakarta 29 Oktober 1973 ini berencana membesarkan bisnis Mom n Jo dengan pola franchise, dengan menawarkan produk dan jasa yang unggulannya. “Karena bisnis ini prospeknya sangat cerah. Merawat dan menjaga kesehatan bayi sudah menjadi kebutuhan di kalangan menengah. Jadi bisnis ini masih sangat luas pasarnya. Kita belum mengeluarkan produk inovasi dan teknik yang nanti menjadi nilai bisnis kami. Bila memungkinkan ekspansi kita target buka cabang di negara Asia dahulu,” ungkapnya.

Mom n Jo menawarkan peluang franchise dengan investasi Rp 2,5 miliar. Investasi tersebut sudah biaya total termasuk biaya sewa gedung seluas 5×12 meter dan renovasi. Dengan masa kontrak 5 tahun, mitra bisnis sudah mencapai BEP sebelum 5 tahun. Dengan jumlah customer yang datang rata-rata 500-1000 perbulan, maka omzet yang diraup rata-rata cabang mencapai puluhan hingga ratusan juta.

Adapun biaya service yang ditawarkan Mom n Jo mulai dari Rp 200 ribu untuk pijat bayi, apabila dengan berenang Rp 385 ribu. Ada juga pijat untuk ibu hamil Rp 385 ribu. “Saat ini yang menjadi unggulan kita pijat bayi dan berenang, serta pijat ibu hamil. Ada pula pijat pediatric untuk anak yang kena flu atau batuk,” jelasnya
Fifi menuturkan, tidak mudah membangun bisnis bayi spa. Pasalnya, bisnis ini di awal tahun 2000 belum ada pemainnya. Namun dia sudah mencium peluang bisnis ini di Indonesia yang rata-rata jumlah kelahiran bayinya cukup tingggi. “Maka saya mencari trainer dan ketemulah di Singapura. Saya pun mengambil kelas di sana. Namun hanya spa ibu hamil saja yang familiar waktu itu. Akhirnya ketemulah teknik pijat dan spa untuk bayi,” kenangnya.

Setelah menggenggam sertifikat, Fifi membuka bisnis spa bayi dengan nama Mom n Jo di Darmawangsa Square dengan 5 orang terapis, dan 3 kamar. “Waktu itu modalnya 600 juta, jadi tabungan saya kuras hingga tersisa hanya 75 ribu,” kata Sarjana Master International Management di Thunderbird dan American Graduate School of International Management ini.

Untuk mengenalkan bisnisnya, Fifi bekerja sama dengan berbagai media untuk publikasi bisnisnya. “Karena waktu itu kan belum ada medsos, adanya media cetak seperti Koran, Majalah, Tabloid. Jadi kita buat berita tentang bisnis kita yang unik untuk dipublikasikan. Lumayan membantu publikasi dari media ketika itu,” ungkapnya.

Kemudian, ia juga bekerja sama dengan para dokter di rumah sakit terutama dokter anak. Dengan demikian servis kita dibawah control kesehatan dan juga bisa bersinergi dengan rumah sakit yang notabene rumah sakit anak. “Strategi itu cukup berhasil dan masih berjalan sampai sekarang,” terangnya.

Dalam memimpin bisnisnya, Fifi mengedepankan team work. Tanpa tim yang solid ia sulit untuk menawarkan layanan dan produk bisnisnya. Untuk itu ia menciptakan suasana yang nyaman dan happy di tempat kerjanya. “Ya biar kaya play ground lah kita kerja di sini. Dibawa enjo saja bila ada kendala. Maka kata-kata yang sering keluar bila ada masalah kata karyawan saya ibu pasti akan berkata “Ya sudah sih”, maksudnya yasudah diatasin bersama aja masalahnya jangan terlalu dipikirkan,” tuturnya.

Ia juga selalu menanamkan prinsip belajar berama sehingga bisa up grade bareng team. “Dari sana kita belajar bagaimana memberikan servis dari hati, sehingga kita selalu empati kepada para pelanggan yang mengeluhkan masalahnya,” pungkas wanita yang pernah bekerja di perbankan dan juga yang memiliki bisnis merek lain yakni Belli to Babby.
Zaziri