Sugeng Sugiarto, dari Kapal Pesiar Tekuni Dunia Kuliner

Setelah berhenti bekerja di perusahaan Kapal Pesiar, pria yang kerap tampil enerjik ini memutuskan membuka usaha kuliner tradisional dengan nama Cakwe Galaxy. Produknya sudah masuk di berbagai mal ternama. Bagaimana kisah suksesnya? 
 
Tahun 2012 merupakan tahun bersejarah bagi pria yang satu ini. Ia harus menerima kenyataan pahit berhenti dari pekerjaannya di Kapal Pesiar karena faktor usia. Kendati demikian, pemilik nama lengkap Sugeng Sugiarto ini tidak harus limbung kehilangan arah. Beruntung dirinya penyuka kuliner dan memiliki kemampuan membuat produk kudapan tradisional nusantara dan jepang.
 
Maka ia mencoba membuat usaha kuliner seperti siomay dan bento. Namun apa daya, usahanya harus gulung tikar karena dewi fortuna belum memihak padanya. “Mungkin karena lokasi atau pasar yang tidak sesui dengan kebutuhan produk kami,” kenang pria lulusan SMA ini.
 
Sampai pada suatu hari. Sugiarto bertemu dengan teman lamanya yang bekerja di Eat N Eat, sebuah restoran yang menjajakan aneka kuliner. Ia menawarkan produk kulinernya melalui temannya kepada restoran tersebut. Tidak dinyana produk buatannya lulus uji, dam diterima Eat N Eat.
 
Pada lain kesempatan, Sugiarto ditawarkan Eat N Eat untuk membuat Cakwe. Ia pun bergegas mencari formula resep membuat cakwe yang enak. Sebagaimana kebiasaannya, ia tidak mau menawarkan produk yang enak pada umumnya. Produk yang dibuatnya harus enak dan ada ciri khasnya.
 
“Maka saya terus mencari dan akhirnya bertemu dangan produk Cakwe sambal kacang. Saya belum pernah lihat ada cakwe sambal kacang dan di jual di mall atau pinggir jalan,dan saya mengambil keputusan untuk mengajukan ke foodcourt Eat n Eat tersebut untuk menjual Cakwe. Produk cakwe saya diterima di foodcourt tersebut dan mendapat respon yang baik,” jelasnya.
 
Maka pada 7 Januari 2013, Sugiarto mendirikan Cakwe Galaxy dengan modal Rp 15 juta berlokasi di Pasar Ah Poong, Sentul. Sebagai orang lapangan, ia tidak terlalu banyak melakukan analisa bisnis. Hanya mengandalkan intuisi saja.
 
“Pada awal buka sangat ramai sekali pembelinya sampai laku habis ratusan piece cakwe dengan harga jual Rp 15 ribuan dengan ukuran besar. Jadi saya buka hanya mengadalkan keyakinan bahwa Cakwe ini akan berhasil. Terlebih lagi ditunjang bahwa produk cakwe saya berbeda dari Cakwe pada umumnya,” ujarnya.
 
Selanjutnya, Sugiarto tidak begitu memikirkan tentang rencana bisnis jangka panjang, juga belum punya kemampuan mengelola keuangan secara detail. “Jujur saja pada wktu itu saya belum terlalu deatail soal berapa modal dan keuntungan, masih konvensional saja secara alamiah berjalan. Awal awal dengan modal yang seadanya saya masih membeli bahan bahan  eceran. Jadi belum ada supplier dan sebagainya,” jelasnya.
 
“Di awal pembuatan produk pada waktu itu masih manual membelum menggunakan mesin mixer, tapi dengan berlalunya waktu dan melihat penjualan Cakwe di Pasar Ah Poong ramai, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan mixer untuk membuat adonan Cakwe,” tambahnya.
 
Kendala di awal bisnis menurut Sugiarto ada pada modal. Sebelum memulai bisnis cakwe ia harus mengucurkan dana untuk mendirikan usaha. Modalnya sudah terkuras di usaha tersebut. “Di awal sudah saya ceritakan bahwa usaha awal saya siomay dan Bento tepi tidak berjalan mulus. Namun saya sudah memantapkan diri untuk mengembangkan usaha hasil kreasi terbaru saya ini yakni Cakwe Sambal Kacang,” ujarnya.
 
Lalu dari mana ia mendapatkan modal 15 juta? “Jadi saya ada bantuan dari temen-temen untuk membantu saya memulai usaha lagi,” jawabnya.
 
Disamping masih menggunakan tangan alias secara manual dalam membuat cakwenya, Sugiarto juga tidak terlalu banyak menggunakan tenaga kerja, dua orang karyawan saja untuk membantunya. 
 
Selanjutanya, tantangan Sugiarto adalah adalah menjaga konsistensi produk, karena pada awal buka sudah sangat ramai di Pasar Ah Poong. “Jadi hampir setiap hari saya menjaga agar produk tidak menjadi masalah dalam produksinya, dari bikin adonan sampai dimasak. Saya kontrol ketat karyawan agar jangan sampai tidak standar dalam membuat produknya,” jelasnya.
 
Dalam memasarkan bisnisnya, Sugiarto belajar dari kegagalan usaha sebelumnya. Untuk itu dalam memilih lokasi usaha ia perhatikan betul agar sesuai dengan segmen pasarnya.
“Di usaha saya sebelumnya saya tidak terlalu paham cara menjual yang benar, cara pemilihan lokasi yang tepat untuk berjualan, display makanan atau cara mendapatkan costumer,” jelasnya.


 
“Di usaha Cakwe ini saya membuat display yang baik, menata produk yang baik, dan melayani konsumen dengan ramah dan sebaik mungkin agar jangan kecewa,” ujar Sugiarto yang juga memanfaatkan media sosial sebagai pemasarannya, dan juga mengikuti ajang festival dan pameran franchise untuk ekspansi bisnisnya.  
 
Dalam perjalanan waktu, usaha cakwenya semakin dikenal orang, termasuk oleh EO yang bergerak di festival makanan. “Saya diajak untuk ikut festival. Di sanalah relasi terbangun dengan sendirinya karena pada waktu itu memang belum ada Cakwe Sambal Kacang. Jadi banyak kenal EO yang mau mengajak gabung Cakwe Galaxy ada di event-event makanan,” jelasnya.
 
Untuk persalan adiministrasi, sampai saat ini masih di kerjakan manual oleh sang istri. Dari stock barang sampai ke penjualan, “karena istri pernah kerja sebagai purchasing di salah satu restoran besar di Jakarta. Sementara penjualan dan pemasaran lebih banyak kerja sama oleh EO penyelenggara makanan, pameran franchise, dan kerja sama  foodcourt,” bebernya.
 
Kendala lainnya, saat ini karena kian berkembang maka semakain banyak counter dan juga karyawannya. “Semakin banyak cabang semakin banyak juga masalah di karyawan. Tapi itu hal lumrah. Ada karyawan yang keluar masuk, tidak disiplin, dan sebagainya itu sudah menjadi kendala umum yang setiap pengusaha mengalaminya. Tapi dengan berjalannya waktu akhirnya bisa menenukan cara yang benar untuk memecahkan masalah di karyawan,” ujarnya.
 
Cakwe Galaxy berkembang secara perlahan, namun pasti. Sebelum pandemi Covid19 melanda, Cakwe Galaxy memiliki 25 cabang. Kini separuhnya masih berada di Mall Ambassador, Mall Grand Metropolitan Bekasi, Mall Beachwalk Bali, Fresh Market Bintaro, Kalibata City, Puri Gading Jatiwarna, dan beberapa titik lainnya. Cakwe Galaxy Akan segera buka Mall Kuningan City.
 
Menurut Sugiarto, rata-rata omzet bisnis perbulan beda-beda setiap cabang, untuk Mall Ambassador Rp 30-40 Juta perbulan. Rata-rata mitra bisnis mampu balik modal di bulan kelima. “Produk saya Cakwe kami memiliki keunggulan di saus bumbu kacang karena beda dengan cakwe yang selama ini ada. Selain itu ukuran cakwe yang besar dengan harga Rp 20.000 juga menjadi pembeda,” bebernya. 
 
Investasi Kemitraan untuk memiliki Cakwe Galaxy sebesar Rp 40 juta dengan estimasi balik modal antara 3 – 5 bulan. “Kalau di pameran kami biasanya menawarkan diskon investasi sebesar Rp 28 juta,” terangnya sambil berkata, “rencana saya di masa datang ingin Cakwe Galaxy dapat berkembang di Kota-kota besar di Indonesia.”
 
Salah satu ujian yang cukup berat yang dialami Sugiarto adalah pandemi19. Selama pandemi semua cabang Cakwe Galaxy tutup yang di Mall dan Perkantoran dan omzet turun drasti. “Untuk menjual saya membuka PO karena banyak pelanggan yang kehilangan dan kangen dengan cakwe, hasilnya cukup baik dari strategi penjualan itu,” tuturnya.
 
Ia memberikan tips untuk para calon pengusaha yang ingin menggeluti dunia bisnis. “Tips dari saya, kalau sudah memutuskan untuk berusaha sendiri harus fokus, lalu siapkan mental dan jangan gampang menyerah. Karena sukses tidak datang tiba-tiba, penuh perjuangan dan mental yang sangat kuat, serta jangan lupa selalu berserah kepada Allah S.W.T,”