STRATEGI dan EKSEKUSI: Menuju Waralaba yang ‘Sustainable’

Ram Charan adalah seorang konsultan dan fasilitator bisnis di Amerika yang sedang naik daun dan buku-bukunya sangat inspiratif. Selaku konsultan, strategic & execution coach, serta fasilitator saya harus terus memperkaya pengetahuan saya dengan wawasan dan mempertajam skills dengan pengalaman serta ‘terjun bersama klien’. Ram Charan mengajarkan bahwa setiap eksekusi yang berhasil juga karena peran pemimpin yang berkualitas dan melahirkan ide-ide brilyan, dikemas dalam strategi yang jitu. Namun eksekusi strategi juga menjadi hal yang sangat penting, mengingat bahwa melalui ‘eksekusi’ maka strategi tersebut akan diuji ke-mumpuni-annya.

Strategi yang baik diyakini adalah hasil dari suatu proses intelektual yang sangat komprehensif. Strategi yang jitu bukan hanya sekedar melihat peluang atau bahkan menciptakannya, namun juga dapat dijabarkan secara konkrit kedalam suatu lanskap program dan agenda aksi yang memperhitungkan semua faktor, lengkap pula dengan rencana cadangannya (contingency plan) bila eksekusi strategi pokok mengalami kegagalan ataupun masalah.

Pengalaman saya dan tim menjadi konsultan dan coach beberapa perusahaan belakangan ini lebih kami fokuskan kepada perumusan strategi dan konsistensi eksekusi, mengingat turbulensi dunia usaha saat ini sangat kuat dan banyak start-up companies alias perusahaan baru yang mati muda sebelum waktunya, dan kebanyakan adalah usaha skala kecil dan menengah.

Kami juga menghadapi ekspektasi pemilik yang terlalu ‘melulu’ kepada aspek ‘keuntungan’ tanpa memperhatikan bahwa ‘kelangsungan’ lebih penting. Kami harus menyadarkan dan menjernihkan pola pikir serta mengajak klein melihat kembali tanpa mengembalikan kepada mereka apa yang mau mereka pilih, sebaliknya kami mengajak mereka ‘kilas balik’ mengapa mereka berbisnis bidang tersebut. Jujur saja, jam terbang dan pengalaman kami selaku praktisi dan konsultan juga menjadi pertaruhan dan tidak mungkin kami bertanya balik ‘menurut Anda sendiri bagaimana ?’.

Dalam beberapa kasus, proses yang cukup alot bersama klien akhirnya dapat menyimpulkan, bahwa yang mereka butuhkan sebagai langkah awal bukanlah rumusan konsep yang terlalu sarat teori dan aturan-aturan, yang mungkin belum tentu relevan dengan kondisi dan situasi yang dihadapi.  Mereka membutuhkan suatu rumusan strategi yang aplikatif dan cetak-biru implementasi yang disertai perangkat-perangkat pendukung dan pemantauan terhadap konsistensi implementasi. Dan industri waralaba merek lokal  di Indonesia juga membutuhkan hal serupa : strategi dan eksekusi.

Coba bayangkan bila Anda memperhatikan dengan seksama, berapa banyak waralaba lokal yang mampu bertahan dengan baik hingga saat ini serta tetap menunjukkan kinerja yang positif secara berkelanjutan? Gerai-gerai terwaralabanya juga banyak bertahan, eksistensinya terjaga walaupun digempur persaingan. Pasti tidak banyak.

Beberapa contoh dapat disebutkan seperti Es Teler 77, Alfamart, Indomaret, dan segelintir merek lain. Sementara yang lain banyak buka-tutup, alias 100 gerai buka mungkin 80 gerai tutup dalam tempot singkat. Hal itu pula yang membuat kami banyak menolak calon klien pemain waralaba yang hanya ‘cari duit dari terwaralaba’ bukan ‘membangun pasar melalui pelanggan’. Strategi mereka pasti sangat jangka pendek dan tidak berorientasi kepada pelanggan akhir. 

Secara sederhana dan fundamental kita dapat memulai mepersiapkan rumusan strategi dengan analisa lingkungan bisnis yang dikenal sebagai SWOT (kekuatan vs kelemahan ; peluang vs ancaman). Proses mengurai SWOT ini saja bisa menjadi proses yang cukup panjang dan rinci, sampai menelurkan gagasan-gagasan alternatif strategi. Sejatinya untuk pebisnis waralaba, proses analisa lingkungan eksternal dan internal ini dilakukan sebelum masuk terjun kedalam bisnis yang di pilih. Sekalipun demikian, tidak masalah bila analisa dilakukan setelah bisnis berjalan, setidaknya akan dapat mempertajam strategi yang sudah dirumuskan sebelumnya.

Hal yang penting setelah strategi dirumuskan dengan seksama adalah eksekusi.

Eksekusi yang baik tidak dapat dipungkiri berada ditangan eksekutif yang handal atau pemimpin yang jempolan, sistematis serta konsisten, dan hal tersebut belum tentu sang pemiliknya. Pebisnis yang one-man show namun tidak diperlengkapi dengan execution-skills yang memadai, sudah dapat dipastikan akan mendapat kendala-kendala yang akan menyulitkan di kemudian hari dan bahkan lebih sulit lagi karena yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya dengan baik.

Dalam tahun 2012 ini nampaknya juga terjadi proses seleksi alam yang cukup ketat.  Akan bertambah banyak waralaba yang berguguran, sekalipun sudah berdiri lebih dari 5 tahun dan bukan kelas BO lagi. Di sisi lain, masyarakat sudah kian cerdas, calon terwaralaba juga kian kritis.

Anda para pewaralaba mungkin bukan lagi  menghadapi pertanyaan-pertanyaan : ‘berapa lama balik modal ?’ atau ‘berapa % untungnya’ dan sejenisnya. Mungkin saja Anda dibombardir pertanyaan-pertanyaan seperti ‘apa strategi waralaba ini menghadapi persaingan’ atau ‘bagaimana eksekusinya ?’, ‘apa hasilnya selama ini ?’ , ‘bagaimana kelak Anda akan memandu kami meng-eksekusi strategi di tempat kami ?’  dan ‘apakah ada contoh yang dapat kami observasi langsung ?’, ‘bagaimana bila strategi yang diajalankan gagal ?’

Sudah siapkah Anda dengan jawabannya ?

Jahja B Soenarjo

CCO DIREXION Strategy Consulting

Email : cco@direxionconsulting.com

Facebook : DirexionStrategy