Pentingnya Inovasi untuk Merawat Bisnis

Ibarat makhluk hidup, sebuah merek atau produk bisa saja mati. Dalam hal ini, satu hal yang tidak boleh terlewatkan dalam pemasaran bisnis apapun adalah filosofi daur ulang, yaitu lahir, tumbuh, menua, dan mati. Melalui filosofi daur hidup, kematian sebuah produk atau merek bisa dihindari atau digantikan dengan tumbuh kembali. Dengan syarat, pelakunya mampu melakukan revitalisasi.

Ibarat makhluk hidup, sebuah merek atau produk bisa saja mati. Dalam hal ini, satu hal yang tidak boleh terlewatkan dalam pemasaran bisnis apapun adalah filosofi daur ulang, yaitu lahir, tumbuh, menua, dan mati. Melalui filosofi daur hidup, kematian sebuah produk atau merek bisa dihindari atau digantikan dengan tumbuh kembali. Dengan syarat, pelakunya mampu melakukan revitalisasi.

Sebuah produk atau merek memiliki life cyrcle. Artinya, ada suatu masa dimana merek atau produk bisa mati. Akan tetapi, seperti dikatakan dalam paragraf awal, kematian sebuah merek atau produk bisa dihindari jika pemilik merek atau produk bisa meniupkan kembali roh dengan cara merevitalisasi. Misalnya dengan melakukan inovasi atau berbagai cara lain.

Hampir semua produk mengalami life cyrcle. Dulu misalnya, produk sepatu hanya terbagi dua, sepatu formal dan non formal. Tapi saat ini, untuk olah raga saja ada sepatu basket. Jogging, sepak bola, tenis, golf, senam, futsal, dengan beragam model.

Sejalan dengan pasar yang semakin terfragmentasi dan matang, maka menimbulkan konsekuensi tersendiri. Sehingga terjadi semacam evolusi dari pasar massal, yang kemudian terfragmentasi dan menuntut pemasar mengambil langkah differensiasi untuk menangkap sempalan-sempalan pasar. Daya beda (differensiator) itu terbentuk oleh kreativitas pemasar dalam melakukan inovasi untuk menangkap selera pasar.

Inovasi lebih mudah diserap konsumen jika konsumen mendapatkan nilai lebih dari produk yang digantikan dengan sesedikit mungkin merubah perilaku atau nilai yang telah dianutnya. Nilai lebih atau manfaat yang ditawarkan produk baru itu bukan dalam arti obyektif, tetapi merupakan keunggulan relatif yang dirasakan konsumen. Jika terpaksa harus merubah perilaku, konsumen harus betul-betul yakin bahwa produk baru tersebut member manfaat besar.

Mengutip studi Rogers, ada lima karakteristik yang dihubungkan dengan keberhasilan suatu produk baru.

  1. Keunggulan relatif (relative advantage) produk baru dibandingkan dengan produk yang digantikan, tapi bukan dengan kriteria objektif, melainkan dengan keunggulan relatif di mata konsumen.
  2. Kesesuaian (compability) dengan nilai yang telah melekat dalam diri pelanggan.
  3. Kompleksitasnya. Semakin sulit dimengerti, semakin sulit untuk diterima.
  4. Kemungkinan untuk dicoba (triability), seperti pemberian sampel.
  5. Sejauhmana produk tersebut dapat terlihat oleh konsumen (obserability).

Selain itu, mengutip Clancy dan Shulman, ada lima alasan yang dapat menyebabkan produk baru gagal di pasar.

  1. Penetapan target dan positioning yang lemah.
  2. Ketidakpuasan terhadap suatu produk, yaitu kegagalan dalam memenuhi dan melebihi harapan konsumen dan melakukan penawaran yang kompetitif.
  3. Kesadaran yang kurang terhadap suatu produk baru.
  4. Kurangnya promosi dan distribusi.

Salah satu kunci dalam penyebaran produk inovatif adalah komunikasi. Terutama jika produk tersebut harus merubah keyakinan, sikap, atau perilaku pemakai produk lama secara siginifikan. Komunikasi one step flow masih dirasakan efektif untuk produk inovatif dengan tujuan merangsang pembeli impulsif macam fast moving consumer goods. Tetapi untuk inovasi produk yang lebih kompleks, aliran dua tahap dan komunikasi words of mouth memegang peranan cukup penting.

Yang penting diingat, inovasi mengandung risiko. Meski begitu, inovasi dan pengambilan risiko adalah salah satu esensi dari semangat entrepreneurship yang menjadikan perusahaan semakin besar dan dapat bertahan dalam situasi hyper competitive.

Chan Kim dan Renee Mauborgne dalam Harvard Business Review mengutarakan tentang value innovation logic yang ditemukan dalam perusahaan-perusahaan dengan pertumbuhan yang tinggi. Penganut logika model ini berasumsi, mereka adalah pemain aktif yang dapat membentuk kondisi suatu industri. Dalam focus strateginya bukan sekedar melakukan benchmarking dengan kompetitor, tetapi melakukan quantum leap guna mendominasi pasar. Hal ini berbeda dengan logika konvensional yang menganggapnya sebagai sesuatu yang given.

Inovasi produk yang dilakukan sangat tergantung pada produk serta dinamika pasar dan strategi yang dipilih. Untuk barang teknologi secara umum, perlu inovasi yang terus menerus. Produk pangan barangkali memiliki masa yang lebih panjang. Beberapa produk minuman tidak terlalu sering berinovasi dalam produknya. Namun, inovasi dalam komunikasi pemasaran menjadi keharusan. Intinya, inovasi bisa dilakukan dari sisi produk itu sendiri, kemasan, penyampaian (delivery), dan komunikasi pemasarannya.

Hal yang harus diperhatikan ketika melakukan inovasi produk adalah kelayakan dalam berkompetisi di pasar dan kemampuan sumber daya internal untuk mendukung produk inovatif tersebut.