Mengapa Franchise Gerobak Mudah Gagal?

Mengapa Franchise Gerobak Mudah Gagal?

Pertumbuhan bisnis bermodalkan gerobak seolah riuh ombak yang bergemuruh menerpa pantai, kemudian hilang sambil menyeret pasir dan beberapa benda di sekitarnya, lalu kembali datang bergemuruh. Beberapa investor marah dan geram karena merasa tertipu, beberapa lagi pasrah meski tak rela, beberapa lainnya tenang-tenang saja dan menganggap jumlah investasinya tidak seberapa.

Meski demikian adapula beberapa investor yang meraih untung banyak. Harus diakui, fenomena keberhasilan dan kegagalan merupakan hal yang umum terjadi dalam dunia bisnis. Yang perlu diperhatikan di sini adalah pemahaman mengapa yang satu gagal, yang lainnya berhasil.

Standarisasi

Bisnis makanan dengan model gerobak sangat rentan dengan kurangnya standarisasi. Memasak martabak, menggoreng pisang, tela/singkong, tepung kentang french fries, maupun menyajikan kebab dan burger sangat tergantung dengan keahlian orang yang disebut operator gerobak tersebut. Tanpa pelatihan yang memadai tentu standar dari satu gerobak akan berbeda dengan gerobak yang lain. Ada yang lebih hangus, ada yang lebih “mentah”, ada yang banyak minyak, ada yang garing … Alhasil yang menjadi korban adalah merek dan jaringan merek tersebut.

Masalah standarisasi ini tidak hanya problem bagi bisnis model gerobak. Restoran pun sering tergantung pada koki. Itu sebabnya waralaba makanan dari luar negeri menggunakan alat-alat masak otomatis. Ada pengatur waktu (timer) dan  pemantau suhu. Juga ada standar waktu penirisan sisa minyak yang harus dipatuhi.

Selain produk makanannya, standar layanan juga tak kalah penting. Baru-baru ini saya masuk ke suatu restoran dan memesan es kelapa muda. Yang disajikan “es kelapa tua”. Ketika saya protes kepada pelayannya, hanya dijawab dengan senyuman “ala masuk telinga kanan keluar telinga kiri” tanpa ada solusi. Restoran ini punya banyak cabang. Layanan seperti ini akan membuat persepsi bahwa di semua gerainya akan seperti ini pelayanannya.

Kualitas SDM

Kalau sudah membahas kualitas layanan, tentu hal ini mulai menyentuh aspek kualitas SDM. Memang dalam banyak kasus, kegagalan suatu bisnis disebabkan oleh kualitas SDM. Dan dalam beberapa kasus hal ini dikarenakan karena buruknya manajemen dan atau komunikasi antara pemilik maupun pimpinan dengan para pegawainya.

Salah satu contoh mengenai kualitas SDM misalnya ketrampilan berkomunikasi. Bisnis makanan model gerobak lagi misalnya, keberhasilannya dipengaruhi pula oleh supel tidaknya operator. Bayangkan bagaimana reaksi pelanggan kalau operatornya tidak supel (tidak komunikatif), melayani sambil pasang tampang cemberut, atau dengan satu istilah singkat yang sering kita dengar: “jutek”.

Bisnis pendidikan juga rentan dengan kualitas SDM. Materi boleh bagus. Tapi kualitas guru dan kemampuan menyampaikan materi dengan baik adalah hal yang berbeda. Seorang tetangga bercerita bahwa ketika mendampingi anaknya masuk TK yang cukup terkenal dan berbahasa Inggris, ia terkejut mendengar gurunya berucap,” Children, don’t walking-walking …”

SDM adalah masalah pelik setiap pengusaha sektor riil. Keluar masuk pegawai adalah hal yang sulit dihindarkan. Kadang terjadi pembajakan oleh pesaing, kadang hanya faktor kejenuhan atau kebosanan pegawai tersebut dengan rutinitas pekerjaannya, namun tak jarang dikarenakan kesalahan, penyimpangan, dan kenakalan pegawai tersebut. Apa pun alasannya, faktor pelatihan untuk standarisasi dan seleksi untuk memastikan kualitas SDM yang mampu menjadi representatif merek kita harus mendapat perhatian.

Lokasi

Akhirnya, kesalahan terbesar yang saya amati adalah lokasi. Banyak bisnis model gerobak beranggapan bahwa berada di pelataran parkir Indomaret dan Alfamart merupakan jaminan keberhasilan mereka. Menjadikan minimarket sebagai traffic generator bukan hal yang salah, tapi mengganggap semua orang yang berbelanja di situ sebagai calon pelanggan merupakan kesalahan besar.

Perilaku konsumen harus diperhatikan di sini. Apakah pelanggan minimarket yang lalu lalang di sana berpotensi punya kebiasaan membeli makanan yang anda tawarkan? Mungkin lokasi di sekitar sekolah merupakan pilihan yang lebih baik daripada di depan minimarket yang berada di dalam lingkungan perumahan. Mungkin pula lokasi di kantin karyawan di basement gedung perkantoran lebih cocok daripada foodcourt di mall.

Siapa yang anda inginkan untuk jadi pelanggan anda? Seperti apa profil atau karakteristik mereka? Berada di mana mereka biasanya? Berapa nilai sekali transaksi yang “masuk akal” bagi mereka supaya mereka dengan antusias membeli produk anda? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu anda untuk meng-evaluasi apakah strategi bisnis anda sudah benar …

Jangan lupa pula untuk memastikan bahwa kualitas SDM serta standar produk anda sesuai dengan  konsep produk yang anda tawarkan.

Utomo Njoto

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com