Menciptakan Inovasi Tiada Henti dalam Bisnis Franchise

Menciptakan Inovasi Tiada Henti dalam Bisnis Franchise

Slogan “Innovate or Die” mungkin sudah sering kita dengar. Kenyataannya, inovasi memang tidak mudah untuk dilaksanakan. Salah satu contoh inovasi terus-menerus di bisnis waralaba dapat dilihat pada bisnis Domino’s Pizza.

Model bisnis yang membuat Domino’s Pizza dari Tom Monaghan ini dianggap unik, inovatif, dan menjadikannya terkenal adalah penciptaan “kategori baru”: pizza-delivery. Sebagai (sub-)kategori baru, Domino saat itu hanya menawarkan pizza dengan 2 pilihan ukuran, dan satu (pilihan) minuman, dengan jaminan 30 menit tiba di tempat. Slogan yang menantang: “30 menit atau gratis” juga membuat Domino’s Pizza menjadi bahan pembicaraan.

Persaingan menjadi makin sulit ketika Pizza Hut dan Papa John’s melayani pesan-antar (delivery order) pula. Kedua merek ini melayani pesan-antar dengan menu yang beragam. Pangsa pasar Domino dikabarkan menurun drastis saat itu.

Baca Juga : INOVASI : SIASAT JITU PENINGKATAN PRODUKTIVITAS

Domino tidak punya pilihan dan harus “mengubah” model bisnisnya. Meski tetap bertumpu pada pesan-antar, mereka melakukan inovasi lebih lanjut. Pilihan menu, ukuran pizza dan minuman yang ditawarkan Domino menjadi lebih bervariasi.

Beberapa gerai Domino, juga terlihat mulai menyediakan meja kursi. Jadi tidak mempertahankan keunikan konsep awal, yaitu pesan-antar, meski pesan pemasaran yang dikomunikasikan masih sebagai pizza pesan-antar.

Unik harus kompetitif

Model bisnis Domino’s Pizza yang sederhana, dengan sedikit pilihan, memang dibutuhkan untuk mendukung kecepatan mempersiapkan pesanan antarnya. Kesederhanaan tersebut sangat penting untuk menepati janji 30 menit tiba di tempat, suatu keunikan yang dibangun untuk mendukung penjualan. Namun demikian, keunikan itu harus kompetitif. Keputusan Domino untuk mengubah model bisnis merupakan langkah yang tepat, karena telah membuat pizza ini berhasil meningkatkan pangsa pasarnya kembali.

Unik saja tidak cukup. Keunikannya harus “relevan” di benak konsumen, supaya kompetitif dan berperan signifikan dalam meningkatkan penjualan. Keunikan yang semula efektif karena dianggap relevan, bisa berubah menjadi kurang relevan akibat sepak terjang pesaing. Penjualan pun akan menurun. Ketika keunikan menjadi kurang kompetitif, kita harus siap mengubahnya. Beberapa pakar bahkan mendorong para pelaku bisnis untuk mengubahnya sebelum menjadi kurang kompetitif (biasa dikenal sebagai self-destruction strategy).

Baca Juga : Mengaplikasikan Inovasi Dalam Jaringan Franchise

Menu baru

Dalam bisnis restoran saat ini, ada kecenderungan memasukkan menu baru setiap bulan atau setiap dua bulan sekali. Ada menu lama yang disingkirkan karena penjualannya masuk 20% terendah, lalu dimasukkan beberapa menu baru sebagai penggantinya.

Kehadiran menu baru menjadi salah satu daya tarik yang cukup penting saat ini. Penciptaan menu baru dari waktu ke waktu menjadi dinamika dan tantangan masa kini dalam bisnis restoran. Bahkan restoran fastfood terkenal seperti KFC dan Pizza Hut pun terlihat rajin memperkenalkan menu baru.

Semoga tulisan ini memberi inspirasi yang bermanfaat bagi anda. Sukses selalu !!!

Utomo Njoto

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com