Merek-Merek Franchise Menjanjikan di 2018

Merek-merek franchise dan business opportunity yang masuk dalam kategori The Most Promising Brand 2018 merupakan merek-merek menjajikan yang layak dipih calon investor. Meski demikian mereka bukan jaminan sukses. Apa yang harus diperhatikan calon investor sebelum membeli?

Majalah franchise merilis 400 lebih merek-merek franchise dan business opportunity pada edisi kali ini. Merek-merek tersebut tersaji dalam tabel di halaman Tajuk Utama. Merek-merek yang masuk dalam ketegori merupakan Indonesia Most Promising Brand 2018. List The Most Promising Brand 2018 adalah yang menjanjikan untuk dijadikan pilihan bisnis bagi calon investor.

Merek-merek yang masuk The Most Promising Brand 2018 berdasarkan pilihan redaksi atas beberapa pertimbangan. Antara lain, merek-merek tersebut memiliki konsep bisnis yang baik, brand yang dikenal, produk dan service yang different serta marketable, terbukti menguntungkan, memiliki standar bisnis mudah dijalankan, dan menjalankan marketing campaign yang baik.

Meskipun demikian, bukan berarti merek-merek The Most Promising Brand 2018 jaminan sukses untuk dijadikan investasi bisnis. Sebagaimana bisnis pada umumnya, waralaba maupun business opportunity pasti menyimpan resiko gagal. Akan tetapi, presentasi kegagalan tersebut tidak sebesar menjalankan bisnis dari nol yang belum terbukti menguntungkan dan diterima pasar.

Karena itu, calon investor harus memperhatikan beberapa aspek sebelum membeli franchise maupun business opportunity. Setidaknya, menurut Pietra Sarosa, konsultan dari Sarosa Consulting Group, calon investor atau franchisee harus memperhatikan kualitas produk dan trend pasar sehingga masih akan sustainable. “Setidaknya selama jangka waktu kerjasama franchise, dan daya dukung Franchisor sehingga memudahkan Franchisee menjalankan usaha,” katanya.  

 

Secara sederhana, kata dia, aspek paling penting yang harus diperhatikan ketika membeli franchise yaitu menganalisis prospek bisnis di industrinya. “Franchise itu sangat terkait dengan industrinya, sehingga ketika menganalisis suatu franchise harus terlebih dahulu menganalisis prospek industrinya. Kemudian dilanjutkan dengan faktor-faktor yang ditawarkan oleh franchise yang bersangkutan seperti kekuatan merek, track record franchisor, dsb,” jelasnya.  

 

Sebaliknya, lanjut dia, calon franchisee juga perlu mengenal ciri-ciri waralaba atau peluang bisnis yang tidak layak dibeli. Mereka harus melihat kualitas produknya, buruk atau tidak. “Hanya ikut-ikutan trend, Track record masa lalu tidak bagus, Tidak sesuai passion Anda sebagai franchisee. Terlalu muluk proyeksinya atau terlalu rumit skema kerjasamanya sehingga sulit dipahami,” tandasnya.  

 

Pietra mengatakan, calon franchisee sudah lebih lebih kritis beberapa tahun belakangan ini. Menurutnya, sebagian menganggap bahwa “franchise” tidak bagus karena sudah banyak kisah gagalnya. Sebagian lagi menganggap bahwa franchise hanya menguntungkan bagi franchisor. “Mereka sekarang umumnya sangat menekankan untuk melihat performa outlet yang sudah ada sebelum memutuskan untuk “membeli” franchise,” jelasnya.  

 

Rudy Sastrosentono, Pengamat Franchise mengatakan, calon franchisee saat ini dibandingkan 10 tahun yang lalu sudah banyak yang sadar bahwa membeli waralaba bukanlah jaminan bahwa bisnis nya akan berhasil. Para pembeli sudah makin mengerti bahwa resiko adalah salah satu hal yang datang bersama-sama dengan bisnis itu sendiri meskipun itu bisnis waralaba.

 

Hanya saja, kata dia, resiko dari memulai bisnis dengan waralaba akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan menjalankan bisnia secara konvensional (memulai segalanya sendiri dari awal). “Kemungkinan besar karena pola waralaba sudah relatif cukup lama beroperasi di Indonesia dan sudah banyak informasi yang bisa didapat; baik melalui keggagalan dan keberhasilan teman, relasi, keluarga yang sudah menjalankan bisnis waralaba serta informasi dari pameran-pameran Franchise, majalah, internet dan seminar-seminar, dll.

 

Untuk franchise yang potensial dan menguntungkan menurut Rudy, calon franchisee harus memperhatikan beberapa hal.  Pertama, jenis bisnis yang dijalankan tidak terlalu spesifik yang sangat bergantung dari keahlian pemilik atau Franchisor. Misalnya bisnis yang berkaitan dengan nilai skill craftsmanship yang tinggi seperti perbaikan barang-barang lux yang bernilai mahal seperti perbaikan tas ber merek. “Jadi pilihlah bisnis yg operasionalnya sederhana dan low tech. Bukan berarti yang high tech tidak menguntungkan,” katanya.

 

Kedua, jenis bisnis yang punya keuntungan usaha yang cukup baik setelah dikurangi dengan kewajiban pembayaran royalty nya (Royakty Fee, advertising Fee, dll.). Ketiga, bisnis franchise yang gerainya sudah cukup banyak dan tersebar di banyak kota. Dengan kata lain bisnisnya sudah teruji beroperasi di berbagai karakteristik wilayah dan pelanggan yang berbeda.

Keempat, model bisnis yang dipasarkan untuk Franchise sudah berjalan cukup lama. Keempat,  bisnisnya sudah bisa memberikan gaji kepada karyawannya sesuai dengan nilai UMP yang berlaku diwilayah dimana bisnis tersebut dibuka. Kelima, bisnisnya yang memberikan durasi Perjanjian Waralaba yang cukup lama, sehingga ketika ketika modal investasi dari Franchisee sudah kembali, masih tersisa waktu perjanjian dengan durasi yang sama dengan waktu yang dipakai untukk mengembalikan modalnya.

Selain itu, kata Rudy, aspek paling penting yang harus diperhatikan ketika membeli franchise ialah adanya transparasi atas program waralaba yg ditawarkan oleh Franchisor; harus dapat dilihat dan dipelajari oleh calon pembeli misalnya:

  1. Penjelasan tertulis tentang hak dan kewajiban Franchisor dan Franchisee; hal ini harus dapat diperoleh Calon Franchisee sebelum draft Perjanjian Waralaba diberikan oleh Franchisor.
  2. Biaya keseluruhan atas Modal Investasi yang harus disediakan oleh calon Franchisee (termasuk biaya sewa lokasi usaha yg wajar, biaya renovasi dan biaya asuransi dan cadangan biaya modal kerja selama beberapa bulan kedepan, serta termasuk biaya perbaikan /Pembaharuan setelah bisnis berjalan selama bbrp tahun kedepan).

Agar jangan sampai terjadi perhitungan pengembalian modal yang di proyeksi kan oleh Franchisor berbeda dengan jumlah modal yang dikeluarkan fdihitung oleh calon Franchisee.

Kedua, kata Rudy, Informasi dan Keterbukaan dari Franchisor atas semua hak kekayaan Intelektual yang digunakan oleh Franchisor tidak cacat Hukum dan terdaftar atas nama Franchisor atau atau pihak lain yg yang dapat digunakan secara sah di wilayah RI.

Ketoga, Informasi lain yang harus dijelaskan secara jujur oleh Franchisor kepada calon Franchisee; seperti misalnya:

  1. Jumlah gerai yang sudah beroperasi
  2. Jumlah gerai yang sudah tutup (tidak dapat melanjutkan operasional bisnis)
  • Jumlah gerai yang rencana nya akan dibuka (terutama didalam wilayah yang berdekatan dan yang akan berkompetisi langsung di lokasi usaha calon Franchisee

Sebaliknya, kata dia, ciri-ciri waralaba yang tidak layak dibeli antara lain pertama, Bisnis yang baru berjalan relatif sebentar (kurang dari 3 tahun). Kedua, Franchisor yang tidak mau memberikan Laporan Keuangan bisnis nya kepada calon Franchisee. Ketiga, Franchisor yang tidak memperkenankan calon Franchiseenya bertemu dengan calon Franchiseenya.

Keempat, Franchisor yang memberikan keterangan tidak benar atas jumlah gerai yg dimiliki, dan tidak transparan dalam menjelaskan gerai nya yang sudah tutup (tidak beroperasi). Kelima, Franchisor yang tidak memperdulikan perijinan usaha serta mengabaikan perhitungan Pajak dalam bisnis yang dijalankan. Keenam, Franchisor yang membayar karyawan nya atau yang dalam membuat perhitungan proyeksi usaha nya dengan besaran upah yang dibawah standar upah minimum yang ditetapkan pemerintah diwilayah dimana bisnis nya dibuka.

Sementara itu, Senior Business Consutant DK Consulting Group, Djoko Kurniawan mengatakan, ciri-ciri waralaba yang tidak layak untuk dibeli bisa dilihat antara lain pertama, Outlet yang sudah buka sepi pengunjung. Kedua, Produk/jasa yang ditawarkan tidak menarik bagi customer. Ketiga, ketikaAndateleponke kantor manajemen atau outlet tidak pernah diangkat dan email tidak pernah direspon. Keempat, Banyak keluhan dari franchisee di media cetak maupun social media. Kelima, Karyawan banyak yang keluar masuk dalam kurun waktu yang pendek, dan keenam, Brand tidak jelas positioningnya.

Karena itu, kata Djoko, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan membeli bisnis franchise. Pertama, pastikan bisnis milik franchisor telah berjalan dengan baik dalam kurun waktu tertentu. Kedua, Cek apakah franchisor punya sistem operasional dan support yang baik. Ketiga,  Kunjungibeberapa outlet yang sudahbuka dan amati jumlah customer yang datang.

Ketiga, lanjut Djoko, Pelajari dengan seksama apakah analisa bisnisnya mendekati kenyataan di lapangan. Kelima, Tanyakan kepada salah satu franchisee, apakah bisnisnya berjalan sesuai harapan dan apakah franchisor selamaini membantu mereka dengan serius. Keenam, Cobalah telepon kekantor franchisor, apakah salam yang disampaikan selalu standard atau berubah-ubah.

Biasanya, sambung Djoko, ciri franchise yang potensial dan menguntungkan Jenis bisnisnya memang disukai market. Sebagianbesar outlet yang ada terbukti ramai. “Persaingan di kategori produk/jasanya belum terlalu padat. Banyak testimoni baik dari para franchisee dan customernya,” bebernya. 

http://majalahfranchise.com/award/4/merekmerek-franchise-menjanjikan-di-2018