MELINDUNGI RAHASIA BISNIS FRANCHISOR

Sebuah bisnis yang dapat dipasarkan melalui sistem franchise hanyalah bisnis yang sudah terbukti sukses. Yang dimaksudkan dengan bisnis yang sudah terbukti sukses adalah bisnis yang telah kembali modal dan masih terus memberikan keuntungan. Demikian juga dengan pemiliknya (serta karyawan), tentunya telah memiliki keahlian dalam bisnisnya tersebut. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2007 tentang Waralaba (PP No. 42, 2007), pembuktian sukses ini dicerminkan oleh pemerintah dalam ketentuan bahwa bisnis tersebut telah berjalan lebih kurang 5 (lima) tahun, berikut kewajiban untuk melampirkan laporan keuangan 2 tahun terakhir dari bisnis milik Franchisor tersebut.

Bisnis yang telah berjalan sukses tentunya memiliki kelebihan serta keunikan tertentu. Kelebihan yang membuatnya sukses ini sudah tentu “mencetak” sebuah prosedur kerja tersendiri berdasarkan pengalaman sukses dari pemilik bisnis. Umumnya pebisnis menganggap ini sebagai rahasia bisnisnya atau rahasia sukses bisnisnya.

Dalam franchising, Franchisee (orang yang dipilih oleh Franchisor, dan bukan sekedar orang yang mampu beli) dilatih serta “dipinjamkan” prosedur kerja bisnis milik Franchisor. Dengan “menyewa” merk dagang / brand milik Franchisor yang sudah terdaftar, Franchisee juga dilatih untuk menjalankan bisnis (miliknya sendiri) sesuai dengan pengalaman sukses Franchisor. Bila Franchisee kesulitan ketika menjalankan bisnisnya, maka Franchisor adalah sumber tempat bertanya secara cuma-cuma bagaimana cara pemecahan masalahnya.

Kenapa bertanya kepada Franchisor? Karena Franchisor telah memiliki pengalaman sukses dalam bisnis tersebut, dan berjanji akan membagi pengalamannya tersebut. Atau dengan kata lain, telah mengetahui benar rahasia sukses bisnis tersebut. Dalam PP No.42 tahun 2007, membagi pengalaman merupakan kewajiban, dan wajib dimasukan dalam isi Perjanjian Kerja dengan Franchisee.

Dalam memasarkan bisnis secara franchising, berbagi pengalaman sukses (rahasia sukses bisnis) kadangkala menimbulkan dilema bagi Franchisor. Kenapa? Karena ada saja Franchisee setelah selesai periode kerjasamanya, atau bila putus hubungan kerjasamanya dengan Franchisor, tetap menjalankan bisnis tersebut dengan hanya menanggalkan merk dagang/ brand dari Franchisor. Atau menurut Franchisor:  menjalankan bisnis “milik Franchisor”, dengan menggunakan brand lain/ brand sendiri.

Hal ini juga sering dianggap sebagai kendala bagi pebisnis yang ingin memperluas pangsa pasarnya secara franchising. Mereka “takut” bisnis mereka akan ditiru sehingga akan menimbulkan kompetitor baru. Sementara, menurut etika franchise, berbagi pengalaman ini disebut sebagai sifat transparan. Tanpa transparansi, terbukti Franchisee lebih banyak yang gagal. Bila Franchisee banyak yang gagal, maka tidak ada gunanya menggunakan sistem pemasaran secara franchising.

Dalam menjaga kerahasiaan sukses bisnis Franchisor terhadap “pencuri-pencuri” ini, secara logika ada tiga cara. Pertama, semua rahasia bisnis dijadikan Kekayaan Intelektual, yaitu dengan didaftarkan di Kementrian Hukum dan Hak Azasi Manusia. Franchisee harus sering diinvestigasi, apakah melakukan pelanggaran terhadap HKI (Hak Kekayaan Intelektual) milik Franchisor.

Bila terjadi pelanggaran, lakukan tindakan hukum agar Franchisee yang lain tidak menyalahi Franchisor. Cara Kedua, setelah memiliki HKI, buat perjanjian yang sangat mengikat, sehingga Franchisee “takut” melalukan pelanggaran. Pakai firma hukum yang dapat mengakomodasi “ketakutan” Franchisor tanpa menyalahi ketentuan hukum yang lain. Cara Ketiga, gabungan dari cara Pertama dan cara Kedua.

Jadi, apakah ini resiko yang layak diterima oleh Franchisor dalam memasarkan bisnisnya secara franchising? Apakah hal ini setimpal dibandingkan dengan “cerita-cerita” keuntungan besar yang akan diterima oleh Franchisor? Apakah harus demikian ketat seperti alinea diatas Franchisor menjaga Kekayaan Intelektualnya? Dan demikian juga halnya dengan Franchisee.

Dari pengalaman dan pengamatan atas bisnis-bisnis yang sukses, Franchisor tulen (Franchisor yang menjalankan sistem franchise secara benar) dan umumnya pebisnis-pebisnis sukses, dalam menjalankan bisnisnya ternyata ada lima hal yang sangat sulit untuk “dicuri” dengan cara duplikasi. Pertama adalah filosofi bisnis. Bila Franchisee atau orang lain memiliki filosofi bisnis yang sama, maka mereka pasti akan bergabung.

Perpisahan dari sebuah persekutuan kerja umumnya adalah karena tidak adanya kesamaan dalam filosofi bisnis. Filosofi bisnis ini tidak sama dengan passion terhadap sebuah bisnis. Contoh, passion-nya ada pada bisnis makanan, tapi filosofinya ada pada kesehatan. Kedua adalah Brand atau Merk Dagang. Contoh, “pencuri” boleh jadi mampu membuat hamburger yang lebih enak dari pencetak burger terkenal (bayangkan sebuah merk yang terkenal), tapi dia tidak mungkin dapat menjual lebih banyak dan lebih disukai dari Franchisor-nya.

Ketiga adalah jaringan usaha (network). Jaringan usaha yang sudah terbentuk tidak mungkin bisa dimasuki oleh “pencuri” dengan kemudahan yang sama seperti halnya Franchisor. Keempat adalah R&D. Franchisor yang benar tidak akan meninggalkan pengembangan bisnisnya. Hasil serta data pengembangan ini tidak mungkin dikuasai oleh “pencuri” dimana Franchisor akan selalu berada beberapa langkah didepan. Lagi pula, hasil pengembangan tidak banyak gunanya bagi “pencuri” karena memiliki filosofi yang berbeda.

Kelima adalah dengan apa yang disebut Business Leverage. Sebuah bisnis yang dipasarkan secara franchising adalah sebuah bisnis model yang terbukti berhasil yang awalnya dijalankan oleh pemilik bisnis (Franchisor). Pada saat akan dipasarkan secara franchise, maka akan menjadi tidak menarik dikarenakan adanya tambahan beban-beban biaya. Misalnya, keuntungan bersih akan turun dibawah standar rata-rata industrinya. Untuk mengembalikan keposisi “menarik”, maka bisnis tersebut perlu di “leverage”, dan yang tahu hanyalah pemilik bisnis awal. Itu sebabnya bila bisnis tersebut “dicuri”, maka sangat jarang yang akan berhasil.

Kesimpulan, bila sangat kecil kemungkinannya berhasil, kenapa harus takut bila “dicuri”. Ditangan “pencuri”, bisnis tersebut tidak akan sebaik dan sesukses bisnis yang dijalankan oleh Franchisor. Bila tidak takut dicuri rahasia sukses bisnisnya, kenapa harus diproteksi secara berlebihan? Catatan, tentunya yang dinamakan Franchisor ini adalah betul-betul pemilik bisnis yang mem-franchise-kan bisnisnya secara benar.

 

Selamat berbisnis.

 

Franchise Dispute, Usulan klausul Mekanisme Penyelesaian Perselisihan
Agreed, approved or confirmed adalah beberapa istilah dan terminologi yang kita selalu inginkan dan “senangi” dalam keseharian dan atau kiranya juga dalam hubungan bisnis. Ketiga istilah tersebut
Read More
Franchisor Operator dan Franchisee Operator. Lebih Baik Mana?
Sistem franchise adalah duplikasi sukses bisnis untuk dijalankan oleh orang lain. Jadi, sebuah bisnis yang belum sukses bukanlah sebuah bisnis yang layak dipasarkan secara franchising. Sebuah bisnis d
Read More
Mengelola Franchise Academy dan Training Center
Mengelola sebuah lembaga pelatihan atau pendidikan memerlukan filosofi yang mendalam. Hal ini diperlukan agar pemilik atau pengelola lembaga pelatihan tersebut tetap fokus dalam mengelola lembaga
Read More
EFEKTIFITAS SOCIAL MEDIA TERHADAP BRAND ANDA
Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali pebisnis yang menggunakan dan memanfaatkan social media untuk memasarkan produk/jasanya. Data terakhir menunjukkan pengguna internet di Indonesia telah mencap
Read More