Big Data; Bisa Meningkatkan Value Perusahaan, Bisa Pula Menjatuhkan

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(): php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://majalahfranchise.com/res/fiona/drive/uploads/PW-2.jpg): failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

Baru-baru ini whatspp saya mendapatkan kiriman berita dari seorang kawan. Dia mengirimkan berita perihal saham Wall Street yang tumbang akibat saham media sosial. Kawan saya tersebut menanyakan ke saya “ Ini kenapa to? Apakah pertanda bubble economy karena ITC?”  Sebelum menjawab pertanyaan kawan saya itu, saya mencoba membaca  kirimannnya. Disitu diberitakan bahwa  saham-saham teknologi tertekan. Saham Nvidia anjlok sampai 7,8%. Harga saham Tesla juga merosot hingga 8.2%. Pun dengan saham media social. Saham facebook dan twitter juga rontok. Saham twitter rontrok 12% dalam sehari.

Dari berita tersebut saya mencoba menjawab pertanyaan teman saya tadi. Jawaban  saya adalah bukan bubble economy. Wall Street tumbang karena dua hal. Pertama rencana kenaikan suku bunga The Fed dan yang kedua adalah karena kebocoran data 50 juta pengguna Facebook untuk kepentingan kampanye Pilpres Donald Trump tahun 2016 lalu.

Saya menjelaskan, saat ini eranya Big Data. Di saat semua serba teknologi, di saat semua serba internet, Big Data menjadi begitu penting. Dengan big data sebuah perusahaan atau institusi bisa mengetahui  karakter dari pelanggan mereka. Dan beruntunglah sebenarnya para perusahaan IT yang bergerak seperti di social media, aplikasi, provider internet, atau vendor ponsel, mereka itu sebenarnya adalah pemilik terbasar dari Big Data. Maka tak heran valuasi perusahaan IT nilainya besar bahkan terkesan gak masuk akal. Sebut saja Gojek, Traveloka, Bukalapak dll, itu mereka luar biasa valuasi brandnya. Kenapa bisa? Karena mereka memiliki Big Data dari ratusan ribu driver (Gojek) serta dari pengguna aplikasi tersebut.

Persoalannya adalah bagaimana di era yang serba canggih ini kita bisa menjamin atau menjaga kemananan Big Data yang kita dimiliki. Karena asal tahu saja Big Data itu bisa digunakan untuk banyak hal. Misal untuk kepentingan politik, intelegen,  bisnis, marketing, dan lain-lain.

Nah, kasus yang lagi ramai yakni soal  kebocoran data 50 juta pengguna Facebook, yang dicuri oleh Cambridge Analytica untuk kepentingan kampanye Pilpres Donald Trump hemat saya adalah karena Facebook lengah dalam menjaga data penggunanya. Adanya kasus ini mengakibatkan Facebook kehilangan trust dari investor maupun penggunanya.  Banyak yang kemudian men-delete akun facebook mereka. Itu sebabnya harga saham Facebook jatuh dalam hingga Mark Zuckerberg kehilangan harta Rp 67.5 Trilyun dalam sehari.

Saya menyimpulkan, di era sekarang big data adalah komuditas strategis. Untuk meningkatkan value perusahaan dengan cepat, bisa juga untuk “menjatuhkan” dalam waktu singkat. Big data kadang juga diperjual belikan seperti kasus kebocoran data Facebook. Belum lama ini kita juga baru saja  diterpa isu soal kebocoran data dari registrasi kartu SIM, tapi itu sudah dibantah oleh Kominfo.

Nah dikaitkan persoalan di atas dengan bisnis waralaba, saya melihat data pelanggan atau konsumen begitu penting. Karena kita bisa melihat perilaku, kebiasaan dan  karakter pelanggan kita. Dengan data pelanggan yang kita punya, kita ibaratnya bisa tau ”mau bergerak kemana bisnis kita di masa depan”. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mendapatkan data pelanggan? Jawabnya bisa dengan bermacam cara.  Bisa dengan membuat list buku kunjungan, membuat form respon, dll. Nah, kalau itu sudah langkah selanjutnya adalah menyimpannya dengan  aman untuk meraih kepercayaan. Setelah itu baru berinteraksilah dengan mereka.  Tujuan berinteraksi adalah agar mereka menjadi pelanggan yang loyal.

 

 

 

 

 

Optimisme Bisnis Waralaba Indonesia Sambut 2017
Banyak pengamat yang menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia di 2017 nanti akan lebih menjanjikan. Hal ini antara lain didukung oleh sentiment positif dari berbagai kebijakan pemerintah baik fiskal ma
Read More
Geliat Para ‘Samurai’ di Nusantara
Jepang merupakan salah satu negara Asia yang memiliki banyak merek waralaba sukses di pasar global. Perkembangan industri waralaba Jepang termasuk yang terbaik di kawasan Asia. Merek-merek waralaba as
Read More
Ciptakan Epidemi
Belakangan, sejumlah merek bisnis ternama harus gulung tikar. Yang paling menjadi sorotan adalah di bisnis ritel. Sejumlah gerai ritel modern ternama berguguran di 2017. Sebut saja PT Modern Putra Ind
Read More
Next Gen Franchising di Indonesia
Pada acara World Franchise Summit Indonesia, 25 November 2016  lalu, dalam sambutannya Anang Sukandar, Chairman Emiritius of Asosiasi Franchise Indonesia(AFI) mengatakan, industri franchise dan B
Read More