Big Data; Bisa Meningkatkan Value Perusahaan, Bisa Pula Menjatuhkan

Baru-baru ini whatspp saya mendapatkan kiriman berita dari seorang kawan. Dia mengirimkan berita perihal saham Wall Street yang tumbang akibat saham media sosial. Kawan saya tersebut menanyakan ke saya “ Ini kenapa to? Apakah pertanda bubble economy karena ITC?”  Sebelum menjawab pertanyaan kawan saya itu, saya mencoba membaca  kirimannnya. Disitu diberitakan bahwa  saham-saham teknologi tertekan. Saham Nvidia anjlok sampai 7,8%. Harga saham Tesla juga merosot hingga 8.2%. Pun dengan saham media social. Saham facebook dan twitter juga rontok. Saham twitter rontrok 12% dalam sehari.

Dari berita tersebut saya mencoba menjawab pertanyaan teman saya tadi. Jawaban  saya adalah bukan bubble economy. Wall Street tumbang karena dua hal. Pertama rencana kenaikan suku bunga The Fed dan yang kedua adalah karena kebocoran data 50 juta pengguna Facebook untuk kepentingan kampanye Pilpres Donald Trump tahun 2016 lalu.

Saya menjelaskan, saat ini eranya Big Data. Di saat semua serba teknologi, di saat semua serba internet, Big Data menjadi begitu penting. Dengan big data sebuah perusahaan atau institusi bisa mengetahui  karakter dari pelanggan mereka. Dan beruntunglah sebenarnya para perusahaan IT yang bergerak seperti di social media, aplikasi, provider internet, atau vendor ponsel, mereka itu sebenarnya adalah pemilik terbasar dari Big Data. Maka tak heran valuasi perusahaan IT nilainya besar bahkan terkesan gak masuk akal. Sebut saja Gojek, Traveloka, Bukalapak dll, itu mereka luar biasa valuasi brandnya. Kenapa bisa? Karena mereka memiliki Big Data dari ratusan ribu driver (Gojek) serta dari pengguna aplikasi tersebut.

Persoalannya adalah bagaimana di era yang serba canggih ini kita bisa menjamin atau menjaga kemananan Big Data yang kita dimiliki. Karena asal tahu saja Big Data itu bisa digunakan untuk banyak hal. Misal untuk kepentingan politik, intelegen,  bisnis, marketing, dan lain-lain.

Nah, kasus yang lagi ramai yakni soal  kebocoran data 50 juta pengguna Facebook, yang dicuri oleh Cambridge Analytica untuk kepentingan kampanye Pilpres Donald Trump hemat saya adalah karena Facebook lengah dalam menjaga data penggunanya. Adanya kasus ini mengakibatkan Facebook kehilangan trust dari investor maupun penggunanya.  Banyak yang kemudian men-delete akun facebook mereka. Itu sebabnya harga saham Facebook jatuh dalam hingga Mark Zuckerberg kehilangan harta Rp 67.5 Trilyun dalam sehari.

Saya menyimpulkan, di era sekarang big data adalah komuditas strategis. Untuk meningkatkan value perusahaan dengan cepat, bisa juga untuk “menjatuhkan” dalam waktu singkat. Big data kadang juga diperjual belikan seperti kasus kebocoran data Facebook. Belum lama ini kita juga baru saja  diterpa isu soal kebocoran data dari registrasi kartu SIM, tapi itu sudah dibantah oleh Kominfo.

Nah dikaitkan persoalan di atas dengan bisnis waralaba, saya melihat data pelanggan atau konsumen begitu penting. Karena kita bisa melihat perilaku, kebiasaan dan  karakter pelanggan kita. Dengan data pelanggan yang kita punya, kita ibaratnya bisa tau ”mau bergerak kemana bisnis kita di masa depan”. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mendapatkan data pelanggan? Jawabnya bisa dengan bermacam cara.  Bisa dengan membuat list buku kunjungan, membuat form respon, dll. Nah, kalau itu sudah langkah selanjutnya adalah menyimpannya dengan  aman untuk meraih kepercayaan. Setelah itu baru berinteraksilah dengan mereka.  Tujuan berinteraksi adalah agar mereka menjadi pelanggan yang loyal.

 

 

 

 

 

Menggali Potensi Kewirausahaan di Jawa Timur
Bulan lalu, Majalah Franchise Indonesia bersama Neo Organizer dan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), menggelar pameran franchise atau Info Franchise & Business Concept (IFBC) di Surabaya. Bertempat d
Read More
4 Pondasi Dasar Penguatan Industri Waralaba Nasional
Telah kita ketahui bersama bahwa industri waralaba nasional  mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan selama satu dekade ini. Wirausahawan tumbuh di mana—mana. Gerai-gerai waralaba dan
Read More
Konsumen Milenial yang Menawan
Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia dianggap sebagai pasar yang seksi baik oleh pelaku bisnis dalam negeri maupun luar negeri. Hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh BPS tahun 2010 mencata
Read More
Menciptakan Konsep Mini
Baru-baru ini dunia ritel supermarket dikagetkan oleh Hardy’s Supermarket yang dinyatakan pailit karena tak mampu lagi membayar tagihan hutang bank yang sudah jatuh tempo. Supermarket ini bisa d
Read More