‘FINTECH’ MARKETING YANG MENGGODA

Di era modern ini, hampir semua orang sudah mulai mendengar istilah FinTech (Financial Technology). Fintech merupakan sebuah pengembangan dari teknologi keuangan pada sektor jasa keuangan yang muncul pada abad ke-21. Awalnya, istilah FinTech diterapkan untuk penerapan teknologi back-end ke customer untuk transaksi keuangan. Sejak akhir dekade pertama abad ke-21, istilah ini telah diperluas untuk mencakup inovasi teknologi di sektor keuangan, termasuk inovasi dalam literasi keuangan dan pendidikan, perbankan ritel, investasi, dan hingga kripto-mata uang seperti bitcoin.

Ketika terjadi revolusi internet dan revolusi internet mobile, teknologi keuangan telah tumbuh secara eksplosif. FinTech yang awalnya disebut sebagai penerapan teknologi komputer lanjutan pada back office bank atau perusahaan perdagangan, sekarang memiliki peran lebih luas pada komersial keuangan. Jika kita amati, cara-cara baru pada sektor keuangan terus bermunculan yang semuanya bertujuan untuk memberikan kemudahan dan peningkatan layanan customer. FinTech diyakini dapat meningkatkan jangkauan layanan keuangan. Munculnya FinTech telah menciptakan cara bagi semua entitas untuk memiliki akses ke semua alat dan jasa keuangan dengan biaya yang terjangkau.

Berdasarkan data Statistika dari lembaga yang layak dipercaya, total nilai transaksi  FinTechdi Indonesia tahun lalu 2016 diperkirakan mencapai US$15,02 miliar (Rp202,77 triliun). Ini berarti ada pertumbuhan sebesar 24,6% dari tahun sebelumnya. Pada 2017, total nilai transaksi di pasar Fintech diproyeksikan mencapai US$18,65 miliar (Rp251,775 triliun). Angka ini menunjukkan bahwa FinTech berkembang secara signifikan dan bahkan FinTech juga dipercaya akan menjadi masa depan industri financial.

Para pembaca sekalian, saat ini FinTech yang bergerak di sektor pembayaran dan peminjaman diperkirakan akan tetap merajai industri FinTech di beberapa tahun kedepan. Hal ini dikarenakan kedua kategori tersebut merupakan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia. Fintech sektor pembayaran akan semakin dibutuhkan karena ada kemampuan untuk menambang data. Data tersebut dibutuhkan oleh pelaku usaha seperti e-commerce guna mengetahui kebiasaan belanja customer.

Anda pasti tidak asing dengan payment gateway GoPay dari GoJek yang terasa menyenangkan dan mudah digunakan ketika menikmati layanan Go-Food, Go-Car, Go-Mart, Go-Box, dan lainnya. Selain mudah cari transaksi dan pengisiannya, customer juga bisa menikmati harga yang lebih murah dibandingkan jika melakukan transaksi cash. Banyak customer suka dengan GoPay dan ini berarti cara manajemen GoJek mengkomunikasikan produk FinTechnya sangat tepat sehingga customer ‘tergoda’ untuk menggunakannya. Dorongan emosional berupa harga kirim yang lebih murah juga membuat customer mau menggunakan GoPay. Jadi GoPay makin menarik bagi customer.

Contoh lain adalah OVO dari grup Lippo yang beberapa bulan ini makin gencar menawarkan layanan simple payment system dan smart fincial services. Dengan menginstall aplikasi OVO, Anda bisa menikmati layanan mudah dalam bertransaksi melalui gadget android dan iphone serta mendapatkan keuntungan tambahan seperti cashback dan point reward. OVO membuat hidup lebih mudah dan menyenangkan serta membuat Anda makin melek teknologi.

Awalnya OVO hanya fokus pada jaringan bisnis yang dimiliki Lippo, tetapi seiring berjalannya waktu akan melebar dan menjadi sebuah aplikasi FinTech yang luar biasa. Tidak hanya di Jakarta, bahkan ketika saya masuk di salah satu mall di kota Palembang, layanan registrasi dan top up OVO demikian panjang. Hal ini menunjukkan OVO berhasil ‘menggoda’ customer untuk menggunakan layanan mereka. Strategi marketing yang dilakukan OVO sangat jitu dalam proses akuisisi dan retensi customer.

Belajar dari dua brand FinTech yaitu GoJek dan OVO tentu sangat menarik. Kedepannya sudah pasti akan muncul brand-brand baru yang akan mencoba peruntungan di bidang ini. Siapa yang akan jadi pemenang? Pastinya adalah mereka yang punya strategi marketing terpadu yang bisa memikat hati customer (customer experience) melalui kemudahannya dan inovasinya. Kita lihat siapa yang akan bertahan dan memenangkan persaingan ini.

Bagi pembaca Majalah Franchise yang ingin konsultasi lebih jauh tentang artikel ini, silahkan email ke info@djokokurniawan.com atau Wa: 081573709100 atau twitter @djokokurniawan atau IG:djoko.kurniawan.

Ditulis oleh, Djoko Kurniawan Senior Consultant of Business, Franchise & Service Qualiy

DK Consulting Group

www.djokokurniawan.com

 

 

ERA BARU CUSTOMER CONTACT CENTER
Beberapa tahun yang lalu, hanya perusahaan besar yang memiliki contact center untuk membantu customer. Namun saat ini perusahaan skala menengah dan kecil sudah mulai sadar dan mencoba membuat contact
Read More
SERVICE STANDARD vs SERVICE EXCELLENCE
Survei membuktikan bahwa semua orang ingin dilayani dengan ekspektasi atau keinginannya masing-masing. Jadi semua orang ingin dilayani dan mendapatkan kesan yang baik. Beberapa waktu yang lalu, saya p
Read More
Simbiosis Mutualisme Franchisor & Franchise
Idealnya hubungan antara franchisor dan franchisee harus selalu harmonis. Namun kebanyakan justru hubungan hanya berjalan dengan baik di awal kerja sama saja dan banyak yang berakhir dengan perseterua
Read More
BUSINESS PLAN & EXECUSION
Saat ini banyak pebisnis yang belum menjalankan Plan/ rencana bisninya secara konsisten. Banyak alasan untuk tidak menjalankan rencana yang telah disusun dengan rapi. Rencana yang dimiliki biasanya su
Read More