Happiness Creating Good Performance
Apakah kita merasa bahagia saat ini? Pertanyaan yang mungkin saja kerap muncul di dalam hati kita. Apakah setiap hari kita berangkat bekerja dalam keadaan bahagia? Apakah kita tetap semangat dan bahagia saat di hari Senin kita kembali mulai bekerja sesudah weekend bersama keluarga tercinta? Jika jawabannya ‘Ya’, maka Anda akan dapat mempunyai peluang yang lebih besar untuk mencapai keberhasilan dalam dunia kerja. Semua manusia yang hidup di dunia ini menginginkan kebahagiaan. Bahagia bersama teman, bahagia bersama keluarga tercinta, termasuk juga bahagia di saat melakukan aktivitas bekerja. Ada kalanya kita sering melihat di sekeliling kita manusia- manusia yang terpancar kebahagiaan di wajahnya, ada juga kita melihat manusia-manusia yang murung, sedih, pemarah dan tidak bersemangat dalam menjalankan aktivitasnya. Berbagai alasan yang muncul jika kita mempertanyakan mengapa mereka tidak merasa bahagia. Kebahagiaan (happiness) menjadi trend dalam dunia human capital saat ini dan dipercayai menjadi faktor utama untuk mencapai kesuksesan. Mereka yang datang ke kantor dengan bahagia akan mengerahkan energi mereka semaksimal mungkin untuk mencapai kesuksesan. Selama ini orang selalu menganggap bahwa sukses adalah penyebab kebahagiaan. Hal ini menyebabkan orang berusaha sekuat tenaga untuk mencapai sukses, dan di saat sukses sudah diraih mereka mempertanyakan mengapa kebahagiaan tersebut tidak otomatis datang dengan sendirinya. Menurut pakar psikologi positif Shawn Achor dalam bukunya The Happiness Advantage menulis bahwa kebahagiaanlah yang menyebabkan kesuksesan. Sering dalam dunia kerja kita melihat banyak sekali karyawan yang cepat memutuskan untuk pindah kerja. Turn over karyawan yang tinggi sering sekali memusingkan para CEO maupun pelaku bisnis dari perusahaan besar hingga perusahaan skala UKM. Salah satu penyebab tingginya turn over adalah perasaaan tidak betah, terasing dll, yang dalam pengamatan psikologi sering dianggap ‘ketidakterlibatan’ (disengagement) yang menyebabkan karyawan menjadi tidak bahagia. Perasaan ‘terlibat’ (engagement) terhadap perusahaan sangat penting untuk dikelola oleh pihak pelaku bisnis maupun manajemen perusahaan karena akan dapat menurunkan persentase turn over karyawan. Perasaan terhubung ( engagement) dikarenakan karyawan memiliki sense of belonging terhadap perusahaan di tempatnya bekerja, bahkan sampai mengalami ‘flow”, dalam arti merasa terserap , fokus, khusyu, dan terlibat penuh dalam pekerjaan yang dilakukannya. Bagaimana di dalam dunia franchise? Dinamika usaha franchise yang berjalan dengan cepat perlu di komunikasi kan kepada seluruh jajaran karyawan agar kecemasan dan pikiran negative terhadap manajemen dapat disingkirkan. Dunia franchise sangat membutuhkan adanya teamwork yang engaged, kuat dan human capital yang mampu terlibat mengikuti agenda-agenda progresif yang dilakukan oleh pelaku franchise. Penambahan franchisee, penciptaan inovasi produk baru, pembukaan outlet baru membutuhkan kemampuan team kerja yang engaged, solid dan lincah. Dengan adanya transparansi yang intensif, membuat semua karyawan percaya (‘trust’) terhadap semua tindakan strategis yang dilakukan manajemen dan menghadirkan adanya sense of belonging terhadap perusahaannya. Pada akhirnya hal tersebut menimbulkan perasaan terlibat (engagement), aman dan nyaman, yang tentunya berujung pada timbulnya rasa bahagia di dalam bekerja. Dengan team yang memiliki rasa bahagia yang besar, sudah pasti akan mempengaruhi kinerja secara signifikan karena merasa semua tindakan yang dilakukan adalah semata mata untuk kebaikan perusahaan tempatnya bekerja. Dari penjelasan di atas, kita dapat menentukan langkah-langkah perusahaan untuk menciptakan kebahagiaan bagi karyawan kita, khususnya pelaku franchise agar dapat berdampak terhadap peningkatkan kinerjanya sebagai berikut: Proses seleksi ketat penerimaan karyawan yang sungguh memperhatikan aspek minat dan passion orang tersebut terhadap pekerjaan yang akan dilakukannya. Mencari human capital yang tepat memang tidak mudah. Jika kita berhasil menemukan orang yang tepat, maka dapat dipastikan bahwa kinerja mereka yang baik dikarenakan adanya motivasi intrinsic yang muncul terhadap pekerjaan yang memang disukainya. Melakukan test psikologi pada saat recruitment untuk memastikan karyawan tersebut bersikap positif, bersemangat dan merasa bahagia dengan keadaannya. Menjalin komunikasi yang intensif, berbagi visi dan informasi kepada team, sehingga diharapkan manajemen dapat membangun trust satu sama lain. Melibatkan dan memberdayakan karyawan secara optimal, dengan cara memberikan kepercayaan kepada karyawan agar dapat melaksanakan pekerjaan yang diembannya. Dengan beberapa langkah pendekatan di atas, diharapkan akan tumbuhnya human capital yang berpikir positif, sehingga jika di saat tertentu banyak menghadapi kesulitan dan tantangan, mereka akan tetap mampu mengatasinya dengan baik dan tetap terus berkarya memberikan yang terbaik.
Pilihan Sulit Dalam Arus Ketidakpastian
Saat ini hingga beberapa bulan ke depan kita di hadapkan dengan serangkaian informasi bertubi-tubi tentang Pilpres, baik dari berbagai media menerobos rumah kita, lingkungan kita, hingga menjadi bahan
Read More
MENJALIN KOMUNIKASI ASERTIF dengan Generasi Y
Setiap hari kita pasti berkomunikasi, baik dengan anggota keluarga lainnya di rumah, teman di kantor, rekan bisnis,  atau dalam komunitas. Komunikasi yang terjadi sering melibatkan antar generasi
Read More
Resiliensi Dalam Dunia Franchise
Dunia franchise yang dinamis, sejalan dengan tekanan dunia bisnis yang semakin “hypercompetition” membuat kita melihat banyak sekali franchisee yang berguguran, walaupun di lain pihak kita juga te
Read More
AGILITY AS A LEADER
Pergerakan bisnis dalam triwulan pertama 2015 menunjukkan kecendrungan kurva pertumbuhan yang menurun. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, baik karena dollar yang masih belum terkendali, kondisi lesu
Read More