HPP

HPP? Apaan tuh? Maksudnya Harga Modal ya? COGS ya?

Tidak sedikit calon Pemberi Waralaba skala UKM yang kurang familiar dengan istilah HPP, yang merupakan akronim dari Harga Pokok Pembelian, yang dikenal pula sebagai COGS (Cost Of Goods Sold).

Harga Beli Barang Terjual

COGS, yang mungkin lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai Harga Beli Barang Terjual, atau Harga Pokok Pembelian Barang Terjual, seyogyanya menjelaskan harga modal dari barang yang terjual.

Karena terkait dengan barang terjual, maka menghitung HPP tidak bisa dilakukan dengan cara menjumlahkan semua nilai pembelian, karena barang-barang yang terjual belum tentu sama dengan jumlah barang yang dibeli dalam periode yang sama.

Pada umumnya nilai HPP bisa diketahui bila kita memiliki aplikasi perangkat lunak akuntansi yang akurat. Tentu saja akurasi perangkat lunak akuntansi ini masih bergantung pula dengan kecermatan penggunanya dalam menjalankan aplikasi tersebut.

Stock Opname

Salah satu hal penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan menghitung HPP adalah Stock Opname. Hal ini dikarenakan aplikasi perangkat lunak akunting hanya menghitung HPP berdasarkan formula atau rumus hitungan yang kita tentukan (dan kita masukkan ke dalam perangkat lunak yang kita gunakan).

Dalam bisnis retail, kita biasanya dihadapkan pada pilihan penetapan harga menurut FIFO (First In First Out), atau HPP Rata-Rata. Dalam bisnis kuliner seperti restoran dan bakery kita harus memasukkan racikan yang dianggap signifikan nilainya. Dalam hal ini yang dimaksud kurang signifikan biasanya bumbu yang dianggap tidak signifikan persentasenya terhadap harga jual, misal garam, gula, dan lada atau merica.

Persoalan muncul karena perangkat lunak (software) tidak mampu menjejaki barang rusak dan kehilangan barang di bisnis retail dan kuliner, serta barang terbuang (waste) yang melebihi formula yang telah ditentukan di bisnis kuliner. Untuk mengidentifikasi penyimpangan terhadap rumusan perhitungan standar HPP tersebut, kita perlu melakukan stock opname dengan benar.

Biasanya yang menjadi nilai HPP adalah perhitungan HPP menurut rumusan yang sudah kita masukkan, ditambah dengan nilai penyimpangan yang ditemukan dalam stock opname.

Di lapangan, kegiatan stock opname dapat mengakibatkan frustrasi ketika pelaksanaan operasional bisnisnya tidak cermat. Tak jarang dijumpai ada barang yang kurang di satu item, tapi ada barang lebih di item yang lain. Penyebabnya bisa salah input item barang saat transaksi penjualan di kasir, atau meletakkan barang di rak yang salah ketika mengembalikan barang ke gudang. Pebisnis harus mengambil keputusan atau kebijakan dengan konsisten terhadap kejadian-kejadian seperti ini.

Faktor lain yang mempengaruhi nilai HPP adalah retur penjualan dan retur pembelian. Namun dua hal ini biasanya sudah diakomodir oleh perangkat lunak POS dan akuntansi.

 

© 2017, Utomo Njoto

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com

 

 

 

Resiko Bisnis atau Kecerobohan?
Dari sekian banyak penyebab kegagalan bisnis terwaralaba (penerima waralaba), kita bisa mengelompokkan semuanya menjadi dua kelompok besar: resiko bisnis dan kecerobohan. Anda perlu siap mental dan me
Read More
Selalu Ada Pilihan
Beberapa pewaralaba memilih untuk “tiarap” ketika melihat pewaralabaan bisnisnya tidak segera tinggal landas, atau ketika mengalami stagnasi di tengah pertumbuhannya. Mereka enggan untuk meneruska
Read More
Beda Lokasi, Beda Karakternya
Sebagian besar pewaralaba dan terwaralaba hanya membedakan lokasi gerainya dalam bentuk: mall dan ruko. Sebagian mungkin menambahkan food court dan gerobak. Berikut ini informasi mengenai beberapa jen
Read More
Tantangan Jadi Layak Waralaba
Seorang pebisnis merasa yakin sekali bahwa bisnis restorannya sangat menguntungkan dan layak waralaba. Ternyata setelah dilakukan assessment atau evaluasi, bisnisnya masih belum layak waralaba. Ada ba
Read More