TERUJI
Ada satu kata yang paling saya suka dalam waralaba: TERUJI. Sayangnya, tidak sedikit pebisnis yang mewaralabakan bisnisnya ternyata mengabaikan pentingnya keterujian ini. Teruji pencapaian omsetnya Target penjualan atau omset dalam gambaran kinerja keuangan bisnis yang diwaralabakan seharusnya merupakan angka yang pernah dicapai oleh pewaralaba. Kenyataannya, ada beberapa pewaralaba yang memasang target omset yang sebenarnya tidak pernah ia capai. Pembuktian bahwa target omset ini sudah pernah dicapai oleh pewaralaba sangat penting. Pencapaian ini tentu harus dapat dipertahankan, bukan pencapaian sesaat. Meski demikian, hal tersebut tidak menjamin terwaralaba terluput dari kegagalan mencapai angka ini. Banyak faktor yang mempengaruhi pencapaian omset: karakteristik lokasi, kecukupan pasar yang mampu dan mau membayar harga jual yang ditetapkan, semangat dan suasana kerja, persaingan setempat, dan masih banyak lagi faktor lainnya. Terkait omset yang pernah dicapai, harus pula diperhatikan bahwa omset yang pernah dicapai itu merupakan omset yang relatif mudah dicapai. Jangan menggunakan omset yang berhasil dicapai karena kekhususan tertentu, seperti karena ukuran luas gerainya sangat besar, lokasinya sangat strategis, dan sebagainya. Itu sebabnya, dalam proses konsultasi waralaba, saya mewajibkan evaluasi kinerja keuangan untuk mengukur kelayakan waralaba suatu bisnis yang hendak diwaralabakan. Evaluasi ini akan menjadi lebih obyektif ketika menggunakan beberapa lokasi sebagai obyek evaluasinya. Evaluasi ini juga melibatkan pengamatan terhadap hal-hal non-keuangan yang mempengaruhi kinerja keuangan. Setelah evaluasi, tak jarang calon pewaralaba harus melakukan perbaikan mendasar untuk menjadikan target kinerja keuangan tersebut menjadi lebih realistis untuk dicapai. Teruji pengendalian biayanya Selain omset, gambaran kinerja keuangan dari suatu bisnis yang diwaralabakan juga melibatkan perkiraan atau asumsi mengenai biaya-biaya operasional. Biaya-biaya operasional, selain biaya HPP (Harga Pokok Penjualan), merupakan faktor yang menentukan besaran laba bersih dari suatu bisnis, karena laba bersih adalah laba kotor dikurangi biaya operasional. Yang “dibeli” oleh terwaralaba adalah pengalaman pewaralaba, salah satunya pengalaman mengendalikan biaya. Jadi sudah selayaknya biaya-biaya yang ditampilkan merupakan gambaran pengalaman pewaralaba alias biaya riil, bukan asumsi yang fiktif. Bila pebisnis hendak mewaralaban bisnisnya, dan belum memiliki disiplin keuangan yang baik, maka ia harus berupaya menjalankan disiplin keuangan tersebut dalam masa persiapan pewaralabaan bisnisnya. Tujuannya, agar asumsi-asumsi dalam biaya-biaya ini tidak meleset, alias dapat dipertanggungjawabkan. Terkait dengan keterujian dalam mengendalikan biaya, tentu dibutuhkan sistem administrasi keuangan yang sudah teruji pula. Perangkat lunak (software) yang handal akan sangat mendukung terciptanya sistem administrasi yang baik. Resiko kehilangan, penggelapan oleh pegawai, seyogyanya sudah diminimalisir. Kombinasi antara software yang handal dengan disiplin pemeriksaan stok fisik merupakan mekanisme prosedur pencegahan terbaik. Teruji penduplikasiannya Penduplikasian di sini memiliki makna yang luas, mulai dari persiapan gerai atau bisnisnya, standar operasional bisnisnya, hingga tingkat laba yang memuaskan dari bisnis tersebut. Keterujian yang satu ini ini memiliki implikasi bahwa pewaralaba yang belum punya cabang akan diragukan kemampuannya dalam penduplikasiannya. Saya biasa mengutarakan bahwa idealnya yang hendak menjadi pewaralaba itu sudah punya minimal dua atau tiga gerai. Memiliki lebih dari tiga, apalagi bila sudah belasan atau puluhan gerai, tentu saja merupakan nilai lebih. Bila Anda terkendala dana, cabang ini bisa dikembangkan dengan pola non-waralaba dulu, misal sewa bagi hasil, atau join venture (JV) dengan teman se-alumni. Anda bisa menggali potensi atau peluang JV ini dalam kegiatan-kegiatan reuni almamater Anda. Teruji sistem waralabanya Kalau sudah beroperasi sebagai waralaba, maka keterujian sebagai sistem waralaba yang baik merupakan hal yang mutlak harus diraih. Keterujian ini meliputi hubungan yang win-win dengan terwaralaba, terutama pembuktian bahwa terwaralaba benar-benar bisa meraih target keuntungan yang diharapkan. Biasanya hal ini tercermin dari terwaralaba yang bersedia untuk memperpanjang kerjasama ketika jangka waktu perjanjian waralabanya telah berakhir. Bila Anda hendak mewaralabakan bisnis Anda, buktikan keterujian bisnis Anda. Bila Anda sudah mewaralabakan bisnis Anda, raihlah kepercayaan terwaralaba Anda sehingga mereka puas dan memperpanjang kerjasama ketika perjanjian kerjasama telah berakhir. Bila Anda sedang mencari waralaba dan hendak menjadi terwaralaba, cari yang sudah TERUJI untuk meminimalkan resiko Anda.
Selalu Ada Pilihan
Beberapa pewaralaba memilih untuk “tiarap” ketika melihat pewaralabaan bisnisnya tidak segera tinggal landas, atau ketika mengalami stagnasi di tengah pertumbuhannya. Mereka enggan untuk meneruska
Read More
Terwaralaba Optimis versus Pesimis
Apa bedanya terwaralaba yang optimistik dengan terwaralaba pesimistik? Fred Berni, konsultan franchise recruitment, menceritakan bahwa ketika kinerja bisnisnya sedang kurang baik, terwaralaba yang
Read More
Autopilot ?
Beberapa waktu lalu, dan mungkin sampai dengan hari ini, kata-kata “autopilot” menjadi trend dalam gimmick untuk menjual jasa konsultasi, coaching, bahkan waralaba. Autopilot tersebut bermakna,
Read More
Inovatif & Adaptif
Pernah mendengar slogan “30 menit atau gratis” ? Slogan yang terkenal dari Domino’s Pizza ini diluncurkan untuk menciptakan ceruk pasar baru dari produk pizza, yaitu konsumen yang me
Read More