Menyiasati Penurunan Pengunjung Mal dengan Rejuvenation Tenant

Pada waktu akhir-akhir ini banyak mal melakukan rejuvenation tenant-tenantnya. Melakukan “penyegaran” dengan mengganti tenant-tenant baru atau menata ulang, merotasi zona-zona peruntukanya. Ini dilakukan untuk mempertahankan dan menaikan kunjungan dan belanja pengunjung yang terus mengalami penurunan jumlahnya. Down trend jumlah pengunjung ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi di seluruh dunia.Mengapa ini bisa terjadi?

Laju perekonominian dunia yang terus melambat dan banyaknya e-commerce menjadi penyebabnya. Begitupun di negara kita, pertumbuhan ekonomi melambat, terjadi penurunan mulai tahun 2013 sampai sekarang. Ditambah lagi sektor industri komoditas dan pertambangan yang mengalami krisis yang cukup panjang. Harga-harga komoditas serta hasil-hasil tambang yang menurun mengakibatkan turunnya laju ekonomi dan daya beli masyarakat.

Tiga bulan yang lalu, secara kebetulan makan siang bareng dengan seorang Marketing Manager Mal dari sebuah perusahaan property terbesar di Indonesia. Beliau membawahi semua mal yang dimiliki perusahaan tempatnya bekerja. Menurutnya cara yang lumayan ampuh untuk mempertahankan dan menaikan jumlah kunjungan adalah menambah zona makanan dan minuman atau food and beverage (F&B), yaitu restoran dan café. Namun demikian penambahan ini ada batasnya secara prosentasi terhadap keseluruhan mal. Menurutnya maksimal 30-40% zona F&B ini. Tidak bisa lebih dari itu. Sesuai dengan hal di atas, dalam artikelnya e-koran kompas.com terbitan 25/07/17 mengulas “Pesona Ritel Singapura Kian Redup, Mungkinkah Bertahan”.

Singapura terkenal sebagai surganya belanja. Banyak mal dan retail elit bertebaran menarik pengunjung bahkan dari berbagai negara. Namun saat ini memudar seiring lesunya ekonomi dunia. “Data Jones Lang Lasalle (JLL) menunjukkan, Singapura memiliki sekitar 11,6 kaki persegi atau 1,08 meter persegi ruang ritel per kapita. Ini lebih besar dibandingkan Hongkong (11,5 kaki persegi ruang ritel per kapita) maupun Bangkok (8,6 kaki persegi ruang ritel per kapita).

Namun begitu, tingkat kekosongan ritel Singapura mencapai 8,4 persen pada Juli ini, tertinggi sejak periode Januari-Februari 2011 lalu.Kini, pusat perbelanjaan Singapura tak seramai dahulu. Peritel harus bersiasat dalam menjaga keterisian unit serta menarik kembali pelanggan.

Pergeseran Perilaku Pasar. Operator mal negara itu mulai melipat gandakan ruang untuk penyewa F&B dibandingkan satu dekade silam.Bahkan, proporsinya dapat menyentuh angka 40 persen, atau hampir separuh dari ruang ritel tersedia. Itu semua dilakukan meskipun biaya renovasi relatif mahal untuk mengakomodasi hadirnya dapur.

“Mereka (mal) bukan lagi seperti mal,” cetus Desmond Sim, Kepala Riset CBRE, sebuah perusahaan konsultan properti di Singapura.“Operator mal mengakomodasi lebih banyak penyewa dan fasilitas yang memberi nuansa berbeda dari apa yang dihadirkan e-commerce,” imbuh Desmond.

JLL mencatat, penempatan ruang F&B di mal Singapura mencapai lebih dari 30 persen, lebih besar dari Hongkong (23 persen) atau negara-negara Eropa (10-15 persen). Alokasi lebih banyak bagi F&B membuat daya tawar pelaku bisnis sektor tersebut meningkat.

“Mal telah menyediakan lebih banyak ruang untuk negosiasi dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Kami dapat melakukan kesepakatan lebih baik sehubungan dengan sewa,” kata Vincent Tan, Managing Director Select Group, pengelola restoran Peach Garden dan Texas Chicken.

F&B hanyalah sebuah cara untuk melawan penurunan. Hal lain yang dapat dilakukan peritel adalah menggenjot program loyalitas pelanggan dan juga pemanfaatan teknologi. “Mal tak akan pernah mencapai 100 persen untuk F&B. Tidak ada yang mau pergi ke food court (pujasera) raksasa,” tegas Christopher Tang, Chief Executive Officer Frasers Centrepoint Ltd.” Jadi pengelola mal melakukan upaya yang menurutnya terbaik bagi sebagian besar peretail dan pengunjung. Tentunya setiap upaya tidak bisa menguntungkan atau menyenangkan semua pihak.

Namun begitu titik optimalnya yang harus diusahakan tercapai. Hal ini dilakukan karena kondisi yang sedang “sulit”-perubahan. Mungkin jika ke depan kondisi sudah “normal” atau “baik” akan kembali ke upaya pengaturan zona retail yang lama. Who knows. Pasarlah yang menentukan.

Telah terjadi pergeseran perilaku pasar retail yang dipicu oleh e-commerce. Keperluan balanja langsung di mal berkurang. Mereka sekarang mulai belanja melalui e-commerce. Jika ke mal kebutuhanya lebih banyak untuk meeting, ngobrol di café atau makan di restoran.

Hal di atas tidak hanya terjadi di kota-kota besar di Singapura, Hongkong, dan sekarang di Indonesia. Namun juga hampir di seluruh dunia. Perlu diingat setiap perubahan melahirkan 3 anak kembar siam, ketidakpastian, resiko dan kesempatan -peluang. Setiap perubahan tidak saja selalu membawa ketidakpastian, dan resiko. Namun juga selalu membawa OPPORTUNITY/kesempatan –peluang.

Apakah Anda dapat melihat opportunity dalam perubahan di atas? Tetaplah Optimis. Peluang selalu ada, kapanpun baik up trend maupun down trend.Salam Sukses Selalu,

 

Keuntungan-Keuntungan Membuka Usaha di Kota Sedang dan Kecil
Keuntungan-Keuntungan Membuka Usaha di Kota Sedang dan Kecil Pembaca kami yang setia dan selalu happy, Anda tentunya sudah membaca artikel di edisi sebelumya mengenai keuntungan-keuntungan membuka us
Read More
Lokasi Mall – Pusat Perbelanjaan VS Lokasi Independent
Meletakan lokasi gerai adalah salah satu keputusan yang paling penting. Apakah itu gerai baru atau gerai kedua atau sewa gerai pas habis untuk segera diperbaharui atau pindah lokasi. Bagaimana menentu
Read More
Memilih Lokasi Bisnis Kuliner : Menjadi “Penumpang” Hebat
Kemungkinan, Anda pernah mendengar istilah “lokasi, lokasi, lokasi” lebih dari beberapa kali. Apalagi jika Anda mau membuka bisnis kuliner. Lokasi adalah salah satu faktor penting kesukses
Read More
The “Hottest” Location Business
Sebelum Anda mulai mencari untuk lokasi bisnis. Anda harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang harus Anda cari. Apa yang Anda inginkan, apa yang sebenarnya tidak boleh Anda toleransi dan ber
Read More