Saatnya Exit

Heboh tutupnya sevel ternyata telah melahirkan banyak pengamat kegagalan bisnis waralaba. Padahal fenomena kegagalan bisnis waralaba merupakan hal yang biasa terjadi juga sebelumnya. Beberapa merek waralaba asing yang tutup dan belum buka kembali di Indonesia di antaranya adalah Subway, Jack In The Box, Arby’s, dan beberapa merek lainnya. Salah satu ulasan yang menarik adalah faktor tingginya harga sewa bangunan dan fasilitas (utilitas). Berikut kutipan dari Bisnis.com:

Samsul Hidayat, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, mengatakan direksi Modern Internasional menjabarkan penutupan gerai 7-Eleven di Jakarta dan sekitarnya merupakan risiko bisnis yang dihadapi oleh perseroan. 

“Penyebab dominannya lebih pada sisi beban biaya yang berat, seperti biaya sewa dan fasilitas. Regulasi pemerintah terkait penjualan minuman beralkohol itu penyebab minor saja,” ujar Samsul usai bertemu dengan direksi Modern Internasional, Kamis (6/7). 

Pernyataan fitch Ratings Indonesia yang dilansir oleh liputan6.com turut memperkuat faktor biaya tinggi ini terhadap kegagalan sevel di Indonesia.

Fitch Ratings Indonesia juga menilai kalau gerai 7-Eleven memiliki biaya sewa tinggi dari toko serba ada lainnya. Ini karena gerai 7-Eleven membutuhkan area toko lebih besar. Ditambah sebagian besar gerai 7-Eleven di Jakarta berada di area utama yang memberikan tarif sewa tinggi. Ini membuat perseroan merevisi biaya sewa ketika masa sewa habis. “Biaya sewa Modern Internasional meningkat sekitar 28 persen pada 2016 meski penutupan sejumlah besar toko dilakukan pada 2016 dan 2015,” tulis Fitch Ratings.

Antisipasi Faktor biaya yang tinggi seharusnya sudah diantisipasi sejak awal, karena seyogyanya pewaralaba maupun terwaralaba memiliki pedoman perhitungan biaya-biaya yang akan muncul dan target penjualan yang dibutuhkan. Laundry Zone, misalnya, ketika membuka gerai di wilayah Kelapa Gading, berhasil melewati tantangan biaya sewa sebesar Rp 80 juta setahun. Ketika pemilik ruko menaikkan biaya sewa menjadi Rp 120 juta setahun saat perpanjangan, maka kinerja tahun terakhir menjadi tolok ukur akan melanjutkan sewa atau pindah lokasi. Saat itu keputusannya adalah dilanjutkan sewanya di ruko yang sama. Ketika masa perpanjangan berikutnya biaya sewa naik lagi menjadi Rp 150 juta setahun, maka tidak ada jalan lain kecuali pindah lokasi, karena di atas kertas, biaya sewa setinggi itu sangat beresiko bagi pelaku usahanya. Jadi tidak perlu coba-coba kalau di atas kertas memang tidak cukup yakin dengan prospek bisnisnya (baca: target sales-nya), ketika biaya sewa melambung terlalu tinggi.Penghasilan Tambahan

Disadari atau tidak, penjualan makanan sandwich, bagel, pastry, dan sejenisnya di gerai-gerai kopi seperti Starbucks dan Coffee Bean & Tea Leaf adalah untuk menyiasati biaya operasional yang makin meningkat. Penghasilan dari jualan kopi saja tidak cukup untuk mengimbangi biaya operasional yang meningkat dari waktu ke waktu. Demikian juga upaya McD dan KFC untuk mendongkrak penjualan makan pagi mereka.

Ketika bisnis anda mulai terjepit oleh biaya sewa dan operasional yang makin tinggi, pilihannya adalah cari penghasilan tambahan, pindah lokasi, atau ubah model bisnis. Bila tiga hal ini tidak dapat dilakukan, maka kemungkinan memang sudah saatnya untuk exit alias menutup usaha anda.

*sedikit catatan mengenai sevel, tentu saja biaya operasional yang tinggi bukan satu-satunya faktor penyebab kegagalan merek ini. Tulisan ini untuk mendorong para pebisnis memiliki perhitungan mendasar dalam mengambil keputusan.

© 2017, Utomo NjotoSenior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.Website: www.consultft.com Email : utomo@consultft.com

 

 

4 Ciri Franchisor “Kejar Setoran”
Ketika saya mengungkap salah satu penyebab kegagalan bisnis waralaba adalah fenomena franchisor kejar setoran, beberapa orang menanyakan bagaimana cara mengidentifikasinya. Berikut ini 4 ciri pewaral
Read More
Ancaman Perubahan
Sepak terjang teknologi komputer dan digital telah menjadi ancaman nyata bagi para pebisnis yang tidak siap beradaptasi. Disadari atau tidak, artis pelukis airbrush papan reklame besar saat ini sudah
Read More
P-Factor
Sudah banyak pelatihan yang diberikan. Bahkan akhir-akhir ini sudah ditambahkan dengan pembinaan yang menggunakan format mentoring. Mengapa UKM kita terlihat lambat untuk tumbuh menjadi pewaralaba yan
Read More
Terwaralaba Optimis versus Pesimis
Apa bedanya terwaralaba yang optimistik dengan terwaralaba pesimistik? Fred Berni, konsultan franchise recruitment, menceritakan bahwa ketika kinerja bisnisnya sedang kurang baik, terwaralaba yang
Read More