BISNIS DENGAN VALUE BAIK

Sebagai konsultan bisnis dan franchise, dalam sepuluh tahun terakhir saya bertemu dengan ratusan pebisnis dan orang yang ingin memulai berbisnis. Dari mereka saya mendengar banyak cerita yang menyenangkan dan juga yang memprihatinkan. Cerita senang tidak akan saya tulis dalam artikel ini dan saya akan menulis tentang pengalaman pahit yang dialami oleh orang yang baru mulai berbisnis.

Salah satu orang yang saya temui adalah pensiunan salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Setelah masuk masa pensiun dia ingin mulai berbisnis dan supaya tidak terlalu sulit maka dia memutuskan untuk mengambil suatu peluang usaha di bidang kuliner. Singkat cerita dia memilih satu brand kuliner. 90% uang pensiunan yang dia terima di akhir masa kerjanya dipakai untuk membeli peluang usaha tersebut. Namun sayangnya dia salah pilih, ternyata pemilik brand tersebut hanya mengambil uang di awal (dalam sistem franchise sering disebut franchise fee/ initial fee) dan tidak melakukan pembinaaan dan sama sekali tidak memberikan support seperti janji awal.

Para pembaca sekalian, mungkin ini adalah satu dari banyak cerita yang dialami pebisnis baru. Pemilih brand atau pemilik sebuah peluang usaha tidak tepat janji dan merugikan orang yang diajak kerjasama. Kelompok pebisnis ini tidak menjalankan bisnis dengan etika yang baik dan benar sehingga tega untuk ‘menipu’ orang lain. Semakin kesini makin banyak cerita pebisnis yang kecewa ketika membeli sebuah peluang usaha.

Mengapa ini bisa terjadi?

Menurut analisa saya, tidak semua pebisnis lahir dan dididik dengan cara yang benar. Bisa jadi juga mereka punya mentor yang tidak punya etika bisnis sehingga bisnis yang dibangun hanya mengejar materi saja. Mereka hanya fokus cari uang dan semua dijalankan asal bisa dapat uang, termasuk membuat orang lain rugi. Ini adalah problem moralitas dalam bisnis dan saya sangat prihatin dengan keadaan ini.

Lalu bagaimana?

Sebagai pebisnis mestinya kita punya moral dan etika yang baik dan benar dalam menjalankan bisnis. Kita mesti belajar dengan para guru bisnis yang benar dan telah memberikan teladan yang baik. Masih banyak pebisnis baik di sekitar kita yang mau mengajarkan nilai baik dalam bisnis. .

Apakah bisa berbisnis dengan cara yang baik dan benar? Jawabnya pasti bisa selama kita mau. Bisnis harus berpikir soal orang lain dan kita harus fokus untuk menolong orang lain untuk sukses. Dengan demikian kita akan lebih sukses karena telah membuat orang lain bahagia.

Tentunya tidak mudah menjalankan bisnis dengan nilai yang baik dan benar, tetapi jika kita berusaha menjalankannya maka NILAI BAIK dan BENAR yang sudah kita jalankan bisa membantu membuat brand kita kuat dan otomatis akan menjadi cerita luar biasa sehingga customer semakin percaya. Inilah marketing yang dahsyat yang akan membuat bisnis kita semakin besar dan akan bertahan dalam waktu yang lama. Kita akan jadi pemenang. Marilah kita selalu ingat bahwa tidak ada kesuksesan jangka panjang apabila ‘kita membuat orang lain menderita’ atau ‘kita menipu orang lain’.

Bagi pembaca Majalah Franchise Indonesia yang ingin konsultasi lebih jauh tentang artikel ini, silahkan email ke info@djokokurniawan.com atau Wa: 081573709100 atau twitter @djokokurniawan.

Ditulis oleh,Djoko KurniawanSenior Consultant of Business, Franchise & Service Qualiy EMICO Internationalwww.djokokurniawan.com

 

FRANCHISE RELATIONSHIP
Dalam sebuah seminar yang saya adakan tentang ‘Franchise Your Business’, beberapa peserta bertanya ‘Bagaimana memilih Franchisor yang baik’. Ada juga peserta yang mengungkapkan
Read More
5 DISRUPTIVE MARKETING TRENDS
Kata disruptive innovation sudah sering kita dengar dan saya pikir Anda pasti sudah mengetahuinya. Dalam artikel ini saya ingin membahas tentang Disruptive Marketing yang juga sedang terjadi saat ini.
Read More
KETIKA PEBISNIS ‘TIDAK PEDULI’
Saya yakin banyak hal yang Anda alami ketika menjadi customer, baik menyenangkan maupun menyebalkan. Namun ternyata masih lebih banyak pengalaman yang tidak menyenangkan dan membuat customer kecewa di
Read More
PENTINGNYA KURIKULUM TRAINING
Minggu lalu saya makan di salah satu resto di daerah Greenvile Jakarta Barat. Resto itu menjual menu makanan Indonesia. Saat itu saya bertanya ke waiter seperti ini: 'Ikan bawalnya yang air tawar atau
Read More