Ini Loh Kiat Bersaing dengan Sesama Waralaba

Memasuki dekade millennium baru bisnis waralaba memang sangat marak. Dapat diakui bahwa waralaba adalah salah satu strategi alternatif untuk pengembangan bisnis yang lebih murah dan cepat, khususnya memasuki pasar yang sangat kompetitif seperti akhir-akhir ini. Dengan waralaba, bisnis yang low-entry barrier (rintangan rendah – kompetitor mudah masuk), maka pengembangan dan penguasaan pasar (market coverage) bisa dipersingkat. Mengguritanya MacDonald adalah salah satu contoh bagaimana bisnis waralaba ini terbukti ampuh menaklukkan bisnis konvensional.

Hebatnya memang bahwa kemudian setelah satu merek waralaba popular, dalam waktu yang singkat para follower-nya bermunculan bak jamur di musim hujan. Perang berebut pangsa pun tidak terelakkan, beberapa pemain cukup mampu untuk bertahan, sementara beberapa lainnya terpaksa rontok dilibas persaingan antar waralaba. Yang menarik pula adalah banyak pemain yang masuk bisnis ini tidak benar-benar siap dibekali dengan konsep strategi pemasaran, manajemen professional, atau bahkan kurang memiliki business-sense, walau modal cukup.

Bagimana kira-kira kita bersaing dengan sesama waralaba?

 

1.   Be different, be unique. Ketika kaos C-59 laris bak kacang goreng di tahun 1980-90an, banyak orang langsung menembak ikut-ikutan dan saling mengkalim yang terbaik, bahkan kalau perlu juga menggunakan angka 59. Ketika jamu   masuk angin merek Antangin laris manis, semua ramai-ramai menyerbu pasar ‘masuk angin’, dan bermunculan merek-merek yang berbau ‘Angin’. Tidak berbeda bila orang membuat BreadCorner, BreadLegend, BreadBoutique, atau Bread apalah, sekedar mengekor popularitas BreadTalk. Merek boleh mirip, tapi apa keunikannya? Apakah differensiasinya yang unik cukup kuat untuk menggeser popularitas merek serta kecepatan inovasi BreadTalk ? Bila produk Anda tidak unik dan berbeda, maka Anda akan terpaksa membanderol dengan harga murah. Namun bila Anda dapat menonjolkan differensiasi yang cukup kuat, maka Anda memiliki peluang untuk mencuri pasar.

Tip #  1 : Menjadi berbeda dan unik adalah output dari proses kreatif dan inovatif

 

2.   Value . Berbicara nilai bukan berarti berbicara harga. Nilai yang akan diberikan kepada konsumen harus merupakan racikan yang paling tepat dari nilai fungsional dan nilai emosional. Biasanya nilai fungsional akan identik dengan harga. Kalau barangnya bagus harganya mahal, barang kian penting, harga akan kian mahal.  Namun berbicara nilai emosional adalah berarti berbicara lebih dari sekedar harga. Sebuah toko yang ditata apik dan nyaman, dengan pelayanan yang sangat bersahabat, perhatian yang baik kepada setiap pelanggan, dan jaminan bahwa semua barangnya berkualitas – tentunya akan memberikan ‘rasa aman’ bagi pelanggan yang tidak bisa diukur dengan uang.

Sama halnya bila Anda memasuki salon dengan konsep ‘kembali ke alam’ akan sangat berbeda dengan salon biasa, di mana pelanggan dimanjakan dengan suasana ruangan yang alamiah, karyawan yang menggunakan seragam lain daripada yang lain (mengadopsi sentuhan tradisional), disuguhi minuman tradional atau jus buah, menikmati suara-suara alam ketimbang musik pop.

Tip# 2: Inovasi juga dapat dilakukan pada aspek emosional dengan kemasan ‘experiential marketing’

 

3.   Always Ahead. Sekali Anda melakukan sesuatu yang berbeda dan berhasil, pesaing akan melirik dan ‘menembak’. Wajarlah, karena umumnya follower seperti ini adalah golongan pemain yang (maaf) ‘telat mikir’, sehingga tidak ada yang istimewa. Lakukan kejutan-kejutan untuk membuat posisi Anda selalu terdepan dan bukan hanya pesaing yang kedodoran, namun konsumen akan selalu surprised, mendapatkan sesuatu yang baru dan baru lagi, sehingga meeka tidak cepat bosan.

Tip # 3: Menjadi yang terdepan memang sulit, tetapi selalu tidak ada pilihan untuk menjadi pemenang – terdepan, terbaik atau keduanya.

 

Singkatnya, bisnis waralaba pun perlu yang inovatif. Mari bersaing dengan kreativitas ! Lahirkan inovasi yang unik, bukan sekedar ikut-ikutan......

 

Jahja B Soenarjo

Ketua Umum CEO Business Forum Indonesia

Konsultan, Fasilitator & Praktisi

DIREXION Strategy Consulting

 

 

Kebutuhan vs Keinginan dalam Membangun Sistem Teknologi Informasi
Suatu saat, seorang teman menuturkan bahwa dia ingin berekspansi ke bisnis ritel makanan. Keinginannya terdorong oleh fenomena bisnis makanan yang saat ini sedang marak. Kebetulan saat ini beliau
Read More
Cara Membangun Relasi yang Baik dengan Franchisee
Menjual franchise dan mendapatkan Franchisee bukanlah ukuran sukses dalam franchising, karena hal tersebut hanya merupakan tahap awal dalam kegiatan franchising. Ukuran sukses dalam franchising adalah
Read More
Tips Menerapkan Franchise Fee dan Royalty Fee
Dalam franchising, ada beberapa biaya yang dipungut oleh Franchisor kepada Franchisee. Biaya tersebut antara lain: Franchise Fee dan Royalty Fee. Kadang-kadang ada biaya lain yang dipungut, yaitu biay
Read More
Membangun Relationship Dengan Franchisee
Secara umum pengelolaan bisnis yang dipasarkan melalui sistem franchise adalah sebuah pengelolaan hubungan (Franchising is about Relationship). Pengelolaan hubungan ini meliputi pengelolaan seluruh fu
Read More