Mutoharoh, Mantan Marketing Yang Sukses Tekuni Bisnis Kebab

Tak terlintas di benak pria kelahiran Lampung, 10 Januari 1980 untuk menjadi pengusaha kuliner. Awalnya pria bernama lengkap Mutoharoh ini hanyalah pegawai di perusahaan pembiayaan leasing terbesar di Indonesia selama kurang lebih 4 tahun menjabat sebagai Marketing Head.

Tapi berkat kerja kerasnya, ia pun mulai menelusuri rintangan sebagai entrepeneur. Berkat pengalaman ia bekerja sebagai marketing, ia paham betul karakter sebagai orang lapangan. Mulai dari memasarkan produk, pendekatan emosional kepada klien. Dari pengalaman tersebut ia pun memberanikan diri untuk membuka bisnis kuliner yakni Arofah Kebab.

“Dari sekian banyak usaha, saya mulai tertarik dengan usaha makanan kebab, sebagai pertimbangan saya waktu itu karena kebab masih belum banyak pesaingnya, digemari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Bisnis ini simple dan mudah di duplikasi untuk tambah cabang baru,” ungkap pria akrab disapa Toha ini.

Ia memaparkan pertama kali menjalankan Arofah Kebab ini tahun 2006. Toha  memulai bisnisnya ini dari satu booth hingga memiliki 6 booth. Pada 2014 Arofah Kebab resmi membuka peluang franchise, tujuannya tak lain agar dapat mengembangkan cabang secara signifikan.

“Selama 8 tahun, ternyata bisnis kebab yang saya jalankan tetap bertahan dan berkembang, terbukti dari segi omset per outlet menjanjikan. Dengan berbekal pengalaman dari mencari tempat yang strategis, mendapatkan pegawai yang professional dan manajemen bersistem serta permintaan dari banyak teman, tetangga untuk kerja sama,” ujar pria hobi olahraga Badminton ini.

Jika diamati kinerja bisnis Arofah Kebab saat ini melonjak drastis, hal ini dapat dibuktikan dari jumlah cabang dan mitra yang mencapai angka 135 gerai mitra dan 35 gerai milik pusat tersebar di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Lampung.

Menurut Toha dengan bekerja secara team, baik team evaluasi, marketing, opening, tempat, dan buku laporan harian untuk operator dapat terkontrol dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Berbicara suka duka, ia menjelaskan dalam memilih bisnis makanan salah satu hal utama adalah tempat yang strategis agar dapat memperoleh omset yang besar. Ada beberapa tempat yang kurang cocok sehingga ia harus turun tangan untuk merelokasi, tentu hal ini menguras tenaga dan pikiran. Namun berkat kegigihannya semua itu dapat ia lewati.  

“Proses seleksi pegawai yang tidak tepat sehingga masalah, pencatatan keuangan manual sering terselip laporannya, dari kekurangan di atas saya terus berbenah dan menemukan sistem yang tepat untuk mengontrol dan menjalankan semuanya, di buatkan SOP, KPI, Job descreption, serta sistem keuangan,” imbuhnya.

Dengan perjuangannya di awal merintis bisnis kebabnya, kini ia menjadi tangguh dan tak pantang menyerah, selalu mencari solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Kini Toha sudah banyak merasakan hasilnya, impiannya terwujud satu persatu sudah terealisasi dan targetnya kedepan ia akan membawa mitra Arofah Kebab dapat mencapai hasil yang berkah dan menjadi orang yang bebas financial.

Alvin Pratama

 

 

Darin Nasywa Alia, Punya Bisnis Sendiri di Usia 10 Tahun
Kebanyakan anak seusianya lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bermain. Tetapi Darin Nasywa Alia, lebih memilih berbisnis. Di usianya yang memasuki 10 tahun, Darin, panggilan akrabnya memilih me
Read More
Lim Fifi Anggreani, Jenuh Berkarier di Perbankan Tekuni Bisnis Spa Bayi
Bagi sebagian orang, berkarier di perusahaan perbankan merupakan suatu kebanggaan. Selain memiliki prospek karier dan gaji yang baik, kerja di bank juga sebuah prestige tersendiri, apalagi jika jabata
Read More
MUHAMMAD ARIEF FATONI Melahirkan Bisnis dari Pengalaman Pribadi
Pengalaman memang kerap menginspirasi kita untuk melahirkan peluang bisnis baru. Seperti yang dialami Muhammad Arief Fatoni, yang sukses mendirikan 55 gerai barbershop di berbagai kota di pulau Jawa.
Read More
Howard Sudihardjo, Help People First and The Money Will Follow Latter
Menjadi pebisnis itu jangan pernah takut gagal. Kalaupun gagal, maka harus cepat bangkit kembali. Inilah yang juga dirasakan oleh Howard Sudihardjo, Director Art Metal Laserindo. Gagal di bisnis-bisni
Read More