Menilik BO yang Baik

Istilah BO atau Businesss Opportunity dicetukan oleh saya sekitar 1995 tahun yang lalu. Istilah ini hanya ada di Indonesia. Di luar negeri tidak ada istilah BO. Usaha-usaha yang mirip BO biasa disebut business concept. Contoh business concept di luar negeri salah satunya antara lain usaha jasa penagihan klinik, vending machine, yaitu tempat minuman atau rokok yang bisa bayar secara otomatis dengan memasukan koin.

Saya sengaja menggunakan istilah BO untuk membedakan dengan franchise, agar para calon franchisee atau investor tidak tertipu dengan usaha yang menamakan dirinya franchise atau waralaba. Karena konsep BO sudah banyak yang bermunculan pada pertengahan tahun 90-an. Maka saya munculkanlah istilah BO. 

Suatu waralaba memang berawal dari BO. Namun BO yang sudah mapan, memiliki peluang sukses yang tinggi, bukan BO yang asalan dan baru memulai bisnis. BO sendiri memang peluang bisnis yang umumnya belum matang, yang levelnya di bawah franchise.

Memang tidak mudah untuk bisa menjadi franchise, karena bisnis tersebut sudah terbukti sukes, menguntungkan, dan bertahan lama. Jadi dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menjadi franchise, sehingga dia punya rekam jejak dan history yang sukses. Tanpa success story kasihan investor. Dia menggeluti usaha yang belum berketentuan, sama saja penipuan namanya.

Usaha franchise itu sama halnya perusahaan yang IPO (initial public offering), yang memanfaatkan uang masyarakat. Franchise juga begitu, menarik uang masyarakat. Coba saja tengok, perusahaan yang mau IPO itu kan banyak persyaratannya sehingga sah, dia layak dijual. Demikian pula franchise.

Meski demikian, BO juga tidak selalu jelek. Lalu apa ciri-ciri BO yang baik. Ada beberpaa kriteria yang menurut saya penting dilihat calon mitra bisnis sebelum membeli BO. Pertama, usahanya setidaknya sudah berjalan 5 tahun. Dengan begitu usahanya sudah teruji sukses.

Kedua, pemilik bisnisnya punya tanggung jawab tinggi, artinya tidak hanya cari duit, tapi punya komitmen jangka panjang menggeluti bisnisnya. Dia terlihat mencintai bisnisnya. Ketiga, produk bisnisnya tidak musiman, tapi ada potensi bisa berkembang. Jadi jangan cari BO yang produknya musiman atau trend sesaat, melainkan yang punya peluang sukses jangka panjang dan memiliki pangsa pasar yang luas. 

Terakhir, calon mitra bisnis harus mengadakan study kelayakan. Lihat bagaimana consumer base-nya, bisa tidak inovasi terus menerus dan berkelanjutan. Bisa juga survey cabang dan mitra bisnisnya, lebih banyak yang gagal atau yang sukses.

Selama ini pemerintah memang belum mengeluarkan aturan tentang BO. Di luar negeri pun BO memang tidak diatur, karena memang konsep bisnis yang belum matang. Namun bukan berarti BO lebih fleksibel ketimbang franchise karena tidak ada aturan. Itu mah akal akalan pemilik bisnisnya saja, mau cepat narik duit dari investor. 

Jadi saya menyarankan jangan tergiur dengan janji janji pelaku bisnis BO yang menawarkan keuntungan karena lebih fleksibel, menamakan franchise personal, franchise tradisional, franchise syariah, atau menyebut dirinya sistem bisnis lain daripada franchise. Franchise itu ya seperti kriteria yang ditetapkan PP No. 42 tahun 2007.  

 

 

 

 

 

 

Berbisnis Franchise Harus Punya Etika
Semua bisnis, apa pun jenisnya tidak bisa lepas dari yang namanya etika bisnis. Sebab berbisnis terkait erat dengan trust atau kepercayaan. Tanpa adanya trust akan sulit menjalin businessrelationship
Read More
Menilik Sejarah Kemunculan BO
Business Opportunity (BO) muncul  di Indonesia sejak 1993/1994. Istilah BO muncul sesudah kemunculan franchise pada 1970. Terutama franchise asing seperti KFC, 7 Eleven, Burger King, Shakey's Piz
Read More
Implementasi Program AFI 2014
Sebagaimana telah kami sampaikan edisi Januari 2014 lalu,bahwa Asosiasi Franchise Indonesia telah menyusun berbagai program yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2014. Program kerja dan kegiatan yang
Read More
Memberdayakan UKM Menjadi Usaha Unggulan
Indonesia memiliki sektor bisnis UKM yang sangat besar sebagaimana negara-negara maju seperti Amerika, Singapura, China, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa. Harus diakui, UKM lah yang menjadi fa
Read More