Buruh Migran Hong Kong dan Waralaba

Pada 19 April 2017, Majalah Franchise diundang BNI Remittance dan Buruh Migran Indonesia (BMI) untuk memberikan seminar pada acara pemberdayaan dan pelatihan kewirausahaan di Hong Kong. Acara tersebut bertujuan memacu para buruh migran untuk berwirausaha melalui sistem waralaba di kampung halamannya.

Ada sekitar 500 BMI yang menghadiri acara tersebut. Mereka sangat antusias dengan acara yang digelar. Tujuan diadakan acara tersebut antara lain supaya mereka memiliki usaha di kampung halamannya, sehingga BMI tetap memiliki masa depan setelah pensiun nanti. Ini sejalan dengan program pemerintah juga untuk membangun kemandirian BMI.

Banyal hal menarik selama seminar berlangsung. Salah satunya adalah beberapa audiens yang belum punya usaha tetarik menggeluti waralaba kuliner dengan investasi di bawah Rp 50 juta. Majalah Franchise yang diwakili saya mendapat tema seminar, Kuliner Waralaba dengan Investasi Terjangkau. Bukan tanpa alasan BNI mengambil tema tersebut. Pasalnya, dalam survey mereka sekitar 40% BMI tertarik menggeluti waralaba kuliner.

Maka, kami pun memberikan materi seminar bagaimana cara memilih waralaba kuliner, apa saja yang harus diperhatikan ketika memilih merek waralab kuliner, selain mengenalkan konsep waralaba kepada BMI.

Kami menyarankan kepada BMI untuk teliti memilih waralaba kuliner. Pilih yang bisnismnya simpel dan mudah, yang consumer base-nya luas. Contohnya waralaba sate, soto, bakso, ayam goreng, siomay dll. Jangan jangan idealis dalam menjalani bisnis, misalnya snack hongkong. Memang awalnya rame, tapi musiman saja. Karena butuh edukasi yang tidak sebentar untuk mengenalkan usaha yang kurang familiar di perut masyarakat Indonesia.

Hal menarik lainnya, rupanya banyak juga para BMI yang sudah memiliki usaha di kampung halamannya. Ada seorang ibu yang sudah berusia lanjut memiliki usaha nasi campur. Omsetnya bisnisnya bisa mencapai Rp 5 juta perhari. Tapi dia masih kerja. Saya tanya mengapa tidak pulang kampung sjaa? Dia mejawab ingin mencari modal tambahan lagi untuk membuka cabang.

Saya menyarankan untuk membuka cabang dengan fasilitas KUR BNI saja. Kalau memang usahanya sudah bagus dan standar nanti bisa difranchisekan. Saya juga menganjurkan untuk pulang saja fokus mengembangkan usahanya, agar juga bisa kumpul dengan keluarga. Dia berniat pulang setelah kontrak kerjanya berakhir tahun ini. 

Lalu ada pula seorang BMI yang sudah punya usaha sayuran online. Usahanya sudah memiliki jaringan dengan pertain dan suplair yang mensuplai produknya ke toko-toko. Disamping itu, ada juga yang sudah punya usaha bengkel. Dia menanyakan apa usaha sampingan yang bisa nambah omset bengkalnya?  Saya jawab untuk mencoba usaha kuliner. Saya menyarankan untuk memperbiaki service bengkelnya, membuat merek serta konsep bisnisnya agar usahanya lebih berkembang. Ia cukup antusias dengan gagasan yang saya berikan.  

Kesimpulannya, para BMI yang bekerja di Hong Kong bukanlah kelompok orang-orang yang mengandalkan gaji saja untuk memenuhi biaya hidup diri dan keluarganya. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi hebat. Mereka orang yang tertarik menggeluti usaha untuk dijalankan keluarganya, cuma masalahnya terbentur modal dan pengetahuan.

Pemerintah dan Franchisor menurut saya harus membedayakan BMI untuk mendorong mereka memiliki usaha di kampung, bisa menciptakan lapangan kerja, setidaknya untuk keluarga, sehingga bisa berkumpul. Tantangannya memang bagaimana franchisor punya komitmen, melakukan pendampingan, jangan asal mengambil keuntungan saja dari mereka.

 

 

 

 

Menjaga Image dan Trust di Bisnis Waralaba
Belakangan ini saya melihat beberapa merek franchise dan BO tersandung kasus hukum. Kasus hukum tersebut terjadi karena adanya konflik dengan franchisee maupun calon franchisee. Dari beberapa kasus ya
Read More
Perlunya Saling Mengingatkan
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia tidak hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri, tapi juga turut sibuk mengurusi urusan orang lain. Apalagi dengan hadirnya media sosial, kesibukan mengurusi orang lai
Read More
Era Baru Generasi Milenial
Selasa pagi, 22 Maret 2016 lalu kota Jakarta ‘lumpuh’. Kemacetan terjadi di ruas jalanan utama ibukota akibat aksi demonstrasi ribuan supir taksi dan angkutan umum konvensional lainnya. Pr
Read More
Memanfaatkan Go-Food sebagai Layanan Food Delivery
Setelah sukses mengenalkan bisnis ojek online kepada masyarakat Indonesia, CEO Gojek Indonesia Nadiem Makarim, mulai melebarkan sayap bisnisnya menyasar bidang lain. Platform yang dikembangkan Gojek m
Read More