Franchise dan Ekonomi Kerakyatan

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(): http:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://majalahfranchise.com/res/fiona/drive/uploads/online-master-of-economics.jpg): failed to open stream: no suitable wrapper could be found

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

Banyak istilah ekonomi yang berkembang dewasa ini. Diantaranya adalah istilah ekonomi kapitalis, ekonomi liberal, ekonomi pembangunan, ekonomi sosialis, ada pula ekonomi kerakyatan. Model ekonomi yang disebutkan terakhir, yaitu ekonomi kerakyatan menurut saya adalah model yang paling dekat dengan konsep franchise.  

Karena itu saya sangat setuju ketika Presiden Joko Widodo berpidato pada rangkaian acara World Franchise Summit 2016 lalu, di pameran franchise, JCC, Senayan Jakarta, mengatakan bahwa franchise merupakan salah satu konsep bisnis yang bisa mendorong ekonomi kerakyatan.

Sekali lagi, saya sependapat dengan pandangan pak Presiden. Sebab  ekonomi kerakyatan merupakan ekonomi untuk orang banyak, ekonomi yang digeluti semua kalangan. Memang kenyataanya sekitar 70-80 % orang Indonesia memilih membuka usaha sendiri dengan buka warung, bikin spatu, tas, kerajinan, dan usaha-usaha rumahan lainnya.

Jadi tidak heran apabila di suatu daerah ada saja usaha kuliner seperti kafe, warung kopi, jual oleh-oleh, tas, pakaian bordiran, dan kerajinan tangan lainnya. Usaha-usaha tersebut mestinya bisa berkembang menjadi usaha unggulan yang tidak hanya dikenal di daerah itu saja. Akan tetapi bisa ekspansi ke berbagai daerah jika dikembangkan lebih lanjut. 

Nah, konsep franchise bisa membauat usaha-usaha daerah dan kerakyatan tersebut berkembang lebih lanjut menjadi usaha unggulan.  

Makanya, sudah jauh hari saya menekankan, Ekonomi Kerakyatan ini merupakan peluang untuk bisa mengadakan micro franchising. Tidak mudah memang untuk mewujudkan itu, perlu dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah dukungan dari Pemda setempat. Pemda harus ikut aktif, kalau tidak, tidak mungkin bisa berkembang.

Saya kira untuk mendorong usaha daerah menjadi usaha unggulan yang berkembang, tidak harus menunggu pembuktian 10 tahun untuk dikembangkan jadi waralaba. Dalam hal ini memang mereka butuh bantuan dari pihak lain, bisa dari pemilik franchise yang sudah bepengalaman untuk kerja sama mengembangkan usaha waralaba.

Namun demikian, para pengusaha daerah tersebut harus tetap menjadi owner. Konsep dan skema kerja samanya bisa dirundingkan dengan baik. Tujuannya tentu mengembangkan usaha-usaha daerah tersebut, bukan mencaplok usahanya. Makanya sekali lagi harus ada keterlibatan dari pemda sebagai perantara. 

Kenapa Pemda mesti berperan? Karena Pemda memang punya tugas untuk mengembangkan usaha-usaha di daerahnya. Dia bisa menjadi perantara kerja sama dengan pihak lain (franchisor). Kalau bisa Pemda juga membantu menyediakan konsultan untuk mengembangkan usaha-usaha daerah menjadi usaha unggulan.  

Untuk menuju franchise memang butuh konsultan. Di Singapura ada bantuan dari pemerintahnya ketika membantu pelaku usaha menjadi usaha franchise dengan membiayai 75% dari biaya konsultasinya.

Di Indonesia juga harusnya begitu, sehingga banyak pelaku usaha daerah yang bisa meningkatkan level usahanya menjadi usaha franchise. Lewat franchise, mereka bisa mengembangkan gerainya ke beberapa daerah.

Investor di daerah yang mengambil usahanya kemudian bisa menjadi franchisee yang terjun lengsung mengelola usahanya. Jika sudah sukses di kemudian hari, franchisee menangani multi franchisee dan kemudian naik kelas menjadi franchisor. Begitulah seharusnya franchise, model bisnis kerakyatan yang bisa digeluti oleh semua kalangan, khususnya dari rakyat bawah.

 

 

 

 

Lisensi, Keagenan, BO dan Franchise. Serupa Tapi Tak Sama
Bisnis franchise memang sudah familiar di Indonesia saat ini. Berbeda jika kita tengok pada 10 atau 20 tahun yang lampau, di mana banyak orang di dunia bisnis yang belum begitu aware dengan franchise.
Read More
Identifikasi Permasalahan Waralaba Di Indonesia
Tiga minggu yang lalu kami diminta untuk memberikan seminar di Bandung. Pihak terkait di sana meminta kami untuk membahas tema terkait dengan identifikasi masalah waralaba di Jakarta. Saya sampaikan k
Read More
Implementasi Program AFI 2014
Sebagaimana telah kami sampaikan edisi Januari 2014 lalu,bahwa Asosiasi Franchise Indonesia telah menyusun berbagai program yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2014. Program kerja dan kegiatan yang
Read More
Waralaba Perlu Pembinaan
Industri waralaba memang tengah tumbuh pesat beberapa dekade ini. Sebagai konsep pemasaran, waralaba dinilai cukup efektif menumbuh-kembangkan sebuah usaha dengan cepat, dari sekala kecil menjadi jeja
Read More