4 Ciri Franchisor “Kejar Setoran”

Ketika saya mengungkap salah satu penyebab kegagalan bisnis waralaba adalah fenomena franchisor kejar setoran, beberapa orang menanyakan bagaimana cara mengidentifikasinya.

Berikut ini 4 ciri pewaralaba yang melakukan praktek “kejar setoran” alias membuka gerai sebanyak-banyaknya, secepat-cepatnya, tanpa peduli pada kesehatan, profit, dan kelayakan bisnis terwaralabanya.

Nilai Investasi Under Declared

Yang dimaksud dengan nilai investasi under declared adalah tidak memberikan informasi yang sebenarnya terkait dana yang dibutuhkan untuk memulai bisnis yang diwaralabakan. Investasi dibuat serendah mungkin untuk menarik sebanyak mungkin calon investor.

Komponen yang wajar untuk tidak dimasukkan ke dalam kebutuhan investasi adalah biaya sewa. Namun biaya sewa ini nantinya harus dimasukkan sebagai biaya rutin operasional. Selain belanja modal, segala komponen lainnya, mulai dari biaya perijinan, biaya kegiatan promosi launching, biaya transport akomodasi pelatihan, biaya stok awal, dan dana tunai awal saat launching atau opening harus diungkap dengan jujur kepada calon investor. Dari seluruh komponen ini, kalaupun ada yang dimasukkan oleh pewaralaba yang under declare nilai investasi, biasanya yang dimasukkan adalah biaya stok awal. Biaya-biaya yang lain seringkali muncul belakangan.

Lokasi Buruk Disetujui

Apakah anda sering melihat gerai suatu merek waralaba di lokasi yang anda pikir tidak strategis, dan memang sepi pengunjung di jam-jam yang seharusnya ramai? Setahun atau dua tahun kemudian gerai ini tutup.

Ini adalah ciri kedua dari pewaralaba kejar setoran. Survey lokasi hanya formalitas. Semua lokasi yang diajukan disetujui. Yang penting dapat setoran franchise fee atau biaya awal waralaba.

Praktek ini bisa juga dipicu oleh sistem insentif kepada tim penjualan waralaba. Artinya belum tentu ini kebijakan atau kenakalan pemilik merek waralaba. Untuk mencegah kesalahan ini, sangat dianjurkan bahwa persetujuan lokasi bukan hanya oleh tim penjualan waralaba, melainkan melibatkan tim operasional yang akan bertanggungjawab memberikan dukungan strategi dan problem solving untuk mencapai target-target kinerja bisnis yang diwaralabakan.

Pelatihan Terlalu Singkat

Praktek mempersingkat jadwal pelatihan sebelum pembukaan gerai bisa jadi dikarenakan ingin mempercepat pembukaan gerai sebanyak-banyaknya. Pelatihan yang mungkin perlu waktu 14 hari disunat menjadi 10 hari. Akibatnya, standar layanan menjadi tidak maksimal.

Meski demikian, kadang kejadian ini bisa juga disebabkan karena terwaralaba yang memaksa pembukaan gerainya secepat mungkin. Alasannya bermacam-macam, mulai dari argo biaya sewa yang sudah jalan, atau karena menghitung “hari baik”.

Apapun alasannya, pembukaan gerai yang tidak didukung kesiapan tim pegawai di gerai akan mendatangkan dampak negatif bagi bertumbuhan bisnis di gerai tersebut. Pengalaman negatif pelanggan, kekecewaan, hingga kekacauan administrasi sangat mungkin terjadi.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jadwal pelatihan terapis “mom n jo” misalnya, harus 4 bulan dan tidak dapat ditawar oleh terwaralaba. Demikian juga waralaba “anemone” yang mewajibkan pelatihan guru pengajar hingga 1 bulan. Kedua pewaralaba ini bahkan menguji para peserta pelatihan, dan bisa saja peserta tidak lulus karena tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Payback Period yang Menyesatkan

Untuk membuat penawaran waralabanya menggiurkan, para pewaralaba yang kejar setoran ini juga biasa menggunakan angka-angka yang menyesatkan di dalam brosur mereka. Jangka waktu balik modal atau payback period yang sering disebut BEP dibuat secepat mungkin dan tidak riil.

Modusnya adalah menggunakan angka atau nilai Paket Waralaba sebagai besaran yang dianggap sebagai modal. Padahal paket waralaba tersebut tidak memasukkan unsur biaya renovasi, furniture dan beberapa perlengkapan lainnya yang tak jarang sangat tinggi nilainya.

Selain memperkecil nilai modal, mereka juga memperbesar nilai laba usaha dengan menghapus biaya sewa. Alasannya, tempat usaha itu milik terwaralaba dan  memang tidak ada beban biaya sewa. Tentu saja alasan ini tidak tepat. Biaya sewa, untuk keperluan analisis balik modal, harus dimasukkan sehingga akan mengurangi nilai laba usaha. Gunakan biaya sewa yang wajar di lokasi tersebut.

Adapula yang menggunakan modus lain, yaitu membuat payback period yang terlihat wajar alias tidak terlalu cepat, biasanya sekitar 2 atua 3 tahun, tapi sebenarnya memasang “angka penjualan yang sulit dicapai oleh terwaralaba”. Angka penjualan ini memang pernah dicapai oleh pewaralaba, tapi hanya 1 atau 2 gerai saja yang bisa mencapainya. Itu pun dengan harga sewa yang cukup tinggi dan tidak sebanding dengan kondisi lokasi gerai terwaralaba. Atau bisa juga angka penjualan tersebut adalah pencapaian di tahun kelima atau lebih, dan sulit dicapai dalam 2 tahun pertama.

Tentu saja ada banyak hal lain yang bisa digunakan untuk menandai pewaralaba kejar setoran. Namun menurut saya, empat hal tersebut di atas lebih kasat mata bagi kita semua.

© 2016, Utomo Njoto

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com

 

 

 

 

 

 

Balik Modal
Ada kebutuhan mendesak untuk pengaturan lebih detail terkait transparansi informasi penawaran waralaba, BO, lisensi, kemitraan, atau apa pun istilah yang digunakan. Mengapa demikian? Persoalan utama
Read More
Waralaba atau Lisensi ?
“Waralaba itu ribet. Lisensi saja,” begitulah saran para praktisi dan konsultan waralaba sejak munculnya Permendag Nomor 53 tahun 2012, yang me-revisi regulasi waralaba dalam Permendag nom
Read More
Multi-Strategy
Waralaba sejatinya merupakan salah satu cara mengembangkan usaha, dan menurut UU Perdagangan waralaba merupakan salah satu cara distribusi produk (barang atau jasa) secara tidak langsung. Karena merup
Read More
Bisa Waralaba?
Sejak awal jadi konsultan waralaba pada tahun 2000 hingga sekarang, saya sering mendapat pertanyaan mendasar, “Apakah semua bisnis bisa diwaralabakan?” Jawaban saya sering dianggap sebagai jawaba
Read More