Menjaga Image dan Trust di Bisnis Waralaba

Belakangan ini saya melihat beberapa merek franchise dan BO tersandung kasus hukum. Kasus hukum tersebut terjadi karena adanya konflik dengan franchisee maupun calon franchisee. Dari beberapa kasus yang terjadi memang ada  yang masih ‘sebatas omongan’ diantara kawan-kawan,  tetapi ada pula yang sudah masuk ke ranah media yang dikhawatirkan akan menurunkan image maupun trust di mata public (baca: masyarakat)

Antara trust (kepercayaan) dan image (citra) terdapat beberapa perbedaan yang cukup mendasar. Trust dibangun berdasarkan kinerja yang baik. Orang lain dan masyarakat memberikan kepercayaan karena memang orang atau bisnis tersebut punya dedikasi yang tinggi dalam mengelola bisnisnya. Bisnis dikelola dan dijalankan dengan berpondasi pada kompetensi, integritas, kepandaian dan kepedulian yang tinggi.

Sedangkan image (citra) adalah pandangan atau interpretasi orang atau masyarakat. Istilah ini bisa diartikan pencitraan terhadap bisnis atau orang agar terlihat berwibawa, kompeten, dan tentunya baik di mata orang atau secara lebih luas di mata publik.  Terkadang untuk membangun citra ini, seseorang tidak mempedulikan apakah pandangan baik yang ia dapatkan sesuai atau tidak dengan kenyataan dirinya. Popularitas, adalah tujuan penting yang harus diperoleh dalam membangun image public.

Trust dan image menjadi dua hal yang sangat penting dalam menjalin hubungan yang baik antara satu pihak dengan pihak yang lain. Semakin tinggi tingkat kepercayaan dan semakin baik pencitraan, maka semakin tinggi dan baik pula suatu hubungan. Jika hubungan bisa baik, maka kerja sama dan komunikasi akan berjalan dengan lancar.  Kerja sama yang didasarkan pada kepercayaan akan membuahkan kerja yang maksimal dengan hasil yang memuaskan. Begitupun betapa pentingnya pencitraan, karena dari pencitraan yang baik juga akan menumbuhkan kepercayaan bagi pihak lain. 

Pun demikian, citra dan image itu dikaitkan dengan merek bisnis franchise. Jika sebuah merek yang sudah dibangun sekian lama memiliki citra positif di mata masyarakat maka merek bisnis tersebut akan punya nilai positif. Sebaliknya jika sampai terjerat kasus hukum karena konflik maka dikhawatirkan akan mengurangi kepercayaan masyarakat, dalam hal ini bisa franchisee, calon franchisee maupun konsumen.

Karena itu, sebisa mungkin hindarilah konflik yang berujung ke kasus hukum sebab  akan bisa menggerus citra maupun image bisnis Anda. Karena bukan merek bisnis Anda saja yang dirugikan, tapi juga industri franchise secara keseluruhan. Industri franchise yang citranya positif akan tercederai apabila banyaknya kasus hukum yang terjadi di industri ini.

Imbasnya, calon investor yang ingin menggeluti bisnis franchise menjadi ragu akan bisnis franchise. Karena di beberapa kasus saya mendapat cerita, bahwa ada pelaku bisnis yang tergolong masih business opportunity menyelewengkan dana investornya. Dari cerita tersebut saya menangkap pesan bahwa pelaku bisnis tersebut mengumpulkan dana investor.

Nah, hal seperti ini tentu saja mengkhawatirkan, karena masyarakat akan menganggap bisnis franchise itu sama seperti “investasi-investasi bodong” lain.  Padahal, franchising itu adalah investas dalam bentuk bisnis yang riel. Franchise itu melibatkan kerja sama dengan mitra bisnisnya. Sebagai mitra bisnis, franchisee dituntut untuk kerja mengelola bisnisnya dari awal.

Sejatinya, membeli franchise bukan  membeli membeli sistem atau membeli slot saham, akan tetapi membeli sebuah unit bisnis yang nyata bisnisnya, nyata prototype bisnisnya-nya. Bukan baru di tataran konsep kemudian dijual ke calon investor, itu sama saja dengan penipuan.

Sekali lagi, saya menyarankan kepada calon franchisee untuk hati hati dalam memilih bisnis franchise. Jangan tergiur dengan promosi dan cepatnya BEP, tetapi teliti dengan detail merek franchise yang ingin dibeli. Mulai dari keunikan bisnisnya, para franchiseenya yang sudah bergabung, integritas dan komitmen pemiliknya, tanyakan dan amati laporan keuangannya secara detail, dll.

Sebagai franchisor juga harus transparan. Karena bisnis franchise itu sebagaimana perusahaan go public, harus transparan dalam laporan keuangan. Jangan memberi iming-iming net profit besar jika sebenarnya profitnya tipis,

Karena itu, seorang franchisor harus punya komitmen, integritas, kompeten, dan moral yang baik. Menjual franchis itu bukan hanya mempertaruhkan bisnis saja, tapi juga mempertaruhkan reputasi dan moral pelaku bisnis.

Selain itu, pelaku franchise juga harus memiliki komunikasi yang baik dengan franchisee maupun calon franchisee, karena bisnis franchise juga tergolong bisnis relationship, bisnis yang dibangun lewat jejaring relasi mitranya. Kalau pelaku franchise tidak memiliki komunikasi yang baik, tidak mampu menjalin relasi yang baik maka jangan harap bisnisnya tumbuh baik.

 

 

 

 

 

   

 

Seharusnya Sevel Tidak Secepat Ini Tumbang
Per 30 Juni 2017, 7-Eleven atau Sevel secara resmi telah menutup seluruh gerainya yang ada di Indonesia. Merek yang terlihat digdaya sejak beroperasi di Indonesia pada 2009 ini akhirnya tidak bisa ber
Read More
Era Digital, Perusahaan Harus Adaptif dan Kreatif
Saat ini kita sudah memasuki jaman teknologi digital yang begitu pesat. Dan ini sudah memasuki seluruh aspek kehidupan. Oleh sebab itu, sudah seharusnya para pengusaha waralaba adaptif terhadap perkem
Read More
Integritas, Kedewasaan, Kompetensi, dan Kepandaian: Empat Jurus Sukses Franchisor
Industri franchise dan BO di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan dari sisi kuantitas. Pada setiap event pameran waralaba, kita bisa melihat munculnya merek-merek baru yang turut meramaikan
Read More
Berburu Produk di Lokasi Non Strategis
Dalam bisnis, lokasi dianggap sebagai salah satu syarat utama untuk menunjang kesuksesan bisnis. Tanpa lokasi yang strategis mustahil sebuah bisnis akan bisa sukses. Bayangkan, apakah Mc Donald’
Read More