Pringsewu, Mengintip Bisnis Rumah Makan dengan Konsep Taman

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(): php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: getimagesize(http://majalahfranchise.com/res/fiona/drive/uploads/DSC_1952.jpg): failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo failed: Name or service not known

Filename: views/V_article_details.php

Line Number: 14

Backtrace:

File: /home/trie/public_html/application/views/V_article_details.php
Line: 14
Function: getimagesize

File: /home/trie/public_html/application/views/V_page.php
Line: 104
Function: view

File: /home/trie/public_html/application/controllers/C_article.php
Line: 121
Function: view

File: /home/trie/public_html/index.php
Line: 292
Function: require_once

Restoran asal kota kecil di selatan Gunung Slamet ini sudah melegenda sejak 29 tahun silam. Mengusung konsep taman, restoran ini siap ekspansi lewat pola franchise. 

Apabila kita menelusuri sepanjang jalan raya pantura Jawa Barat, pantai selatan atau singgah di Yogyakarta tentunya tidak sulit menemui Rumah Makan Pringsewu. Sejak berdiri tahun 1987, rumah makan yang menjajakan menu tradisional Indonesia ini berkembang pesat hingga memiliki 18 gerai dengan 3 brand yaitu Pringsewu, Mie Pasar Baru Jakarta.

Direktur Utama Pringsewu Group, Bambang Riyadi mengatakan, bisnis perusahaan selama ini dijalankan dengan sistem kemitraan penyertaan modal (business opportunity) untuk kalangan terbatas saja sebagai investor.

Hanya saja, pola ini dirasa terlalu berat untuk perluasan sayap bisnis mengingat biaya investasi pembukaan cabang baru dan pengelolaannya cukup besar. Sementara, modal dari investor juga tidak bisa dibilang tak terbatas.

“Perjalanan panjang Pringsewu sejak tahun 1987 dan perkembangan usahanya membuktikan bahwa secara bisnis kinerja Pringsewu sudah teruji menguntungkan dan handal untuk diwaralabakan, disamping ketersediaan system dan prosedur yang dimiliki  untuk memastikan keberhasilan operasional merek yang diwaralabakan,” papar Bambang.

Pihaknya optimistis konsep baru kemitraan ini bisa menunjang visi perluasan cabang Pringsewu Group secara lebih lebar.

Apalagi, dengan pengalaman 28 tahun, bisnis Pringsewu Group diyakininya akan mampu membawa profit secara stabil untuk para investor. Tingkat revenue secara umum disebutnya cukup stabil dengan kecenderungan grafik terus menanjak.

Adapun saat ini, jaringan Pringsewu Resto telah memiliki 11 cabang di Purwokerto, Jogya, Solo, Rembang, Pemalang, Tegal, Cirebon, Subang, Banjarpatroman, Sumpiuh dan Batu raden. Sementara Mie Pasar Baru sudah memiliki dua cabang yakni di Yogyakarta dan Tegal.

Selain itu, Pringsewu Group juga memiliki kekhasan tersendiri dari sisi layanan, produk maupun brand dengan standarisasi yang terjaga. Kedua brand yang dimilikinya sudah terdaftar paten dengan mengantongi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Pringsewu tidak hanya menawarkan menu yang lezat, higienis dan halal. Tapi lebih dari itu adalah pengalaman pelanggan saat bersantap di jaringan resto Pringsewu, dengan menonjolkan unsur Surprising kepada pelanggan yang hadir di Pringsewu, antara lain dimanjakan dengan keramahan layanan, view hijau, surprising sulap, ulang tahun, welcome dance atau sajian musik.

Pihaknya mematok Franchisee Fee Rp 250 juta (5 tahun) untuk Pringsewu Resto dan Rp 150 juta untuk Mie Pasar Baru. Paket investasinya ditawarkan sebesar Rp 1,25 miliar hingga Rp 1,75 miliar untuk Pringsewu Resto dan Rp 500 juta untuk Mie Pasar Baru,mencakup biaya kemitraan, peralatan dan bahan baku (di luar tanah dan bangunan). Payback periode dijanjikan bisa dinikmati investor mulai 15-30 bulan.

Bambang mengatakan ranchisee akan mendapatkan pre operational support, training sumber daya, administrasi keuangan dan marketing. Selain itu, setiap tiga bulan juga dilakukan monitoring dan pendampingan operasional untuk menjaga standar usaha.

Alvin Pratama

 

Nao Kao Thai Tea, Meraih Pundi-Pundi Laba dari Thai Tea Lokal Otentik
Melihat peluang pasarnya yang semakin terbuka lebar, Nao Kao Thai Tea tak mau ketinggalan merebut pasar thai tea. Dengan berbagai macam varian rasa yang update, merek ini pun siap unjuk gigi. Bisnis
Read More
Chelsea Kembangkan Bisnis Waralaba di Surabaya
Klinik kecantikan saat ini memang sudah menjadi kebutuhan bagi kaum hawa. Tak sedikit dari pebisnis klinik kecantikan yang menawarkan berbagai treatment dengan harga terjangkau. Salah satunya adalah k
Read More
Chicken Run, Memanggang Laba Usaha Ayam Panggang
Dengan konsep gerai yang unik, ditambah dengan produk yang berkualitas, serta diinisiasi oleh pembalap ternama tanah air, Chicken Run bisa menjadi pilihan menarik bagi calon investor. Pertengahan bul
Read More
Nasi Uduk Duile, Peluang Bisnis Nasi Uduk Khas Betawi Yang Omzetnya “Duile”
Mengusung brand Nasi Uduk Duile, Novi Tri Hendarta telah memiliki tiga mitra dan satu gerai pusat yang tersebar di Tangerang. Bagaimana peluang bisnisnya? Siapa yang tak tahu kuliner yang satu ini, t
Read More