Ayam Geprek Mbok Moro, Restoran Berkonsep Butik dari Jogja

Bisnis ini menawarkan produk ayam tepung yang di hancurkan dan diberi sambal. Bedanya dengan ayam penyet adalah Ayam Geprek lebih hancur. Ayamnya jenis ayam kemtucky. Jenis makanan ini banyak sekali beredar di Yogyakarta tetapi kebanyakan menyasar pelanggan segmentasi C yaitu dengan mengandalkan harga murah saja.

Ayam Geprek Mbok Moro hadir dengan konsep yang berbeda yaitu konsep restoran butik. Tidak hanya sekadar menjual makanan saja tetapi juga pelayanan dan packaging-nya. Salah satu contoh dalam hal packaging yaitu melalui desain interiornya, yang dibuat menarik dan instagram-able.

Mbok Moro berdiri 3 Maret 2013, berawal dari niat sang pemilik yang sebelumnya memiliki usaha online untuk membuat suatu usaha yang lebih berkah.

“Maka kami mengawali Mbok Moro dengan pendekatan agama khususnya agama Islam. Pertimbangan kami, dari segi jenisnya yaitu bisnis kuliner, karena kami percaya setiap hari orang membutuhkan makan. Karenanya bisnis ini ‘relatif’ mudah diterima,” kata Auf, General Manager, Mbok Moro.

Di samping itu, dari segi makanan yang dijual, menu ayam sudah familiar untuk semua kalangan.

Ide Mbok Moro sendiri berawal dari menjamurnya warung ayam ‘geprek’ kaki lima yang di Yogyakarta sejak tahun 2011 hingga 2012.

“Kami melihat bisnis ini mempunyai pasar yang cukup besar. Mbok Moro bisa berarti dua. Pertama, seorang simbok-simbok (ibu-ibu) bernama Moro. Dimana kami mencoba mengangkat icon wanita Jawa agar ada lokal identitasnya. Kedua, datanglah, kalau dalam bahasa Jawa Mbok Moro adalah ajakan untuk datang,” papar Auf.

Dengan persaingan kuliner yang sengit di kota Jogja, bisnis ini mampu bertahan dan terus eksis sampai lebih dari tiga tahun. Padahal, jika dilihat dari lokasi outletnya, Mbok Moro berada di daerah selatan Kota Yogyakarta yang relatif lebih sepi dari daerah padat kuliner di utara Kota Jogja, seperti Seturan dan Gejayan. 

“Kami sekarang memiliki 4 outlet yaitu di Durenan, outlet Ambarbinangun, outlet Pugeran dan Outlet Terban. Dua outlet milik pribadi dan dua lagi milik investor. Dalam mengembangkan outlet kami sama sekali tidak menggunakan dana pinjaman dari bank. investornya pun juga tidak meminjam dari bank,” ucap Auf lagi.

Keunikkan bisnis ini sangat jelas terlihat yaitu pertama, dari konsep makanan yang dijual. Dimana menggabungkan unsur western dengan eastern yaitu Ayam kentucky digeprek di cobek batu.

Kedua, jumlah cabe yang bisa diminta sebanyaknya oleh konsumen. Ketiga, memberikan FREE REFILL untuk teh dan nasi. Keempat, mempunyai saus otentik sendiri dengan citarasa yang berbeda dan sulit ditemukan di tempat lain.

“Sampai saat ini terdapat tujuh jenis saus dan terus kami kembangkan ke depannya. Ada juga produk bernama Lele Katsu. Jika biasanya kita mengenal lele hanya di warung pecel lele, di Mbok Moro lele bisa naik kelas menjadi Lele Katsu,” kata Auf.

Dari segi pelayanan, Mbok Moro mengembangkan SDM agar dapat melayani sekelas pelayan restoran cepat saji. Tempatnya juga didesain dan dirancang agar konsumen nyaman untuk nongkrong meskipun sedang makan besar. Desain interiornya menjadi salah satu kekuatannya.

Biasanya konsumen sembari menunggu makanan datang bisa berfoto-ria. Mbok Moro juga memasang pigura-pigura yang berisi kalimat-kalimat lucu, tetapi sebenarnya adalah nasehat untuk berbuat baik. Contohnya seperti tulisan: “Nasi yang paling nikmat adalah NASIhat ibu”; “Bisa jadi berkahmu ada di nasi terakhir, bisa jadi Jodohmu terhalang semester akhir”.

Informasi lebih lanjut terkait investasi bisnisnya bisa anda baca Majalah Franchise versi cetak edisi November 2016.

Julhan Sifadi

 

 

 

Delovely Beauty Clinic, Klinik Kecantikan Premium Dengan Pelayanan Maksimal
Klinik kecantikan saat ini memang sudah menjadi kebutuhan bagi kaum hawa. Tak sedikit dari pebisnis klinik kecantikan yang menawarkan berbagai treatment dengan harga terjangkau. Salah satunya adalah k
Read More
Usung 3 Konsep Greenpreneur, Socialpreneur dan Profitable
Inovasi atau mati! Begitulah ungkapan bisnis yang sering dilontarkan para pakar dan praktisi bisnis. Terlebih lagi bisnis yang bergerak di bidang jasa. Jika tidak ingin kehilangan pelanggan, maka Inov
Read More
De Wave Spa and Reflexology, Pendatang Baru di Bisnis Spa
Di industri waralaba, bisnis ini boleh dibilang baru tetapi ia adalah pemain lama di bisnis spa. Didirikan oleh Indra Krisma, sejak 2008 di Yogyakarta, dan mulai dimitrakan pada tahun 2012. Saat ini
Read More
What's Up Cafe, Cafe kekinian yang akan difranchisekan
Terlahir lantaran banyaknya penikmat mie instan, Café ini mampu menaikkan derajat mie instan dengan menyajikan fasilitas dan suasana yang cozy. Tahun ini What’s Up Cafe menawarkan peluang
Read More