Peran Seorang Konsultan Franchise

Tak dipungkiri, industri franchise membutuhkan jasa konsultan franchise. Sebab, peran seorang konsultan franchise sangat penting. Dia tidak hanya berperan men-set-up sistem franchise saja, tapi juga ikut berperan dalam mengarahkan sebuah usaha menjadi franchise. Seorang konsultan juga ikut meningkatkan keunggulan sebuah bisnis, dari business opportunity menjadi usaha franchise.

Untuk itu, tidak mudah menjadi konsultan franchise. Dia harus menguasai beberapa bidang keilmuan dan kalau bisa punya akreditasi dan pengalaman. Jadi tidak bisa seorang konsultan franchise itu asal-asalan. Jangan sampai belum punya pengalaman apa-apa sudah menjadi konsultan. Seorang konsultan tidak cukup hanya memperoleh ilmu franchise dari buku saja. Dia juga tidak cukup hanya bekerja di perusahaan franchise.

Setidaknya, seorang konsultan franchise memiliki sertifikat semacam Certified Franchise Executive dari International Franchise Association (IFA), atau serifikat lainnya yang berbobot dari luar negeri. Martin Mandelson, seorang pakar franchise dari Inggris pernah berkata kepada saya, mencari konsultan yang bagus itu ya di Amerika adanya. Perkataan dia betul sekali menurut saya. Karena pusat franchise memang di sana.

Ada beberapa bidang yang harus dikuasai oleh konsultan franhise menurut saya. Pertama, dia harus menguasai bidang franchise, ada pengalaman di bidang  franchise. Kalau tidak ada dia harus ambil program franchise 2,5 tahun. Kedua, dia harus menguasai ilmu marketing, karena bagaimanapun franchise ilmu bermula dari konsep pemasaran. Ketiga, dia menguasai ilmu manajamen.   

Sebaiknya, seorang konsultan juga harus dari seorang franchisor terlebih dahulu. Atau dia juga bisa dari seorang franchisee terlebih dahulu. Seperti ketua IFA sekarang, Aziz Hashim. Dia adalah Chairman IFA yang dulunya franchisee yang sukses mengembangkan usaha franchise. Dia seorang imigran dari Pakistan, dan menetap di Amerika lalu mendirikan bisnis NRD Holdings pada 1996. Pada 2014, dia mendirikan NRD Capital, yang fokus pada konsep bisnis waralaba serta menawarkan peluang untuk para franchisee.

Jika menilik hal tersebut tentunya tidak mudah, karena nantinya konsultan punya tanggung jawab dalam hal pengelolaan management, marketing, lalu ke usaha franchise. Beberapa pertanyaan seperti Is your bisnis marketable? Is Your Bisnis Cloneable? Is Your Bisnis Manageable? Is Your Bisnis Profitable? Harus diketahuinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mesti dikuasai oleh konsultan franchise. Kalau sebuah usaha tidak bisa menjawab itu, berarti bisnisnya tidak franchisable.

Nah, untuk menguasai persoalan-persoalan itu memang tidak mudah. Butuh latar belakang yang mumpuni dan skill yang berbobot. Tak heran jika saat ini semakin jarang saja jasa konsultan franchise di Indonesia. Sebab seorang konsultan franchise memang punya keistimewaan sendiri. Wajar saja jika jasanya relatif mahal.

Saya juga mengingatkan kepada para konsultan franchise untuk tidak hanya mencari uang saja dari jasanya. Tapi dia juga punya tanggung jawab moral, punya etika yaitu ikut mengarahkan usaha kliennya menjadi usaha unggulan. Sehingga industri franchise bisa terus tumbuh dengan sehat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Ciri Khas (Keunikan) Itu Harus Diciptakan di Banyak Lini
Suatu usaha yang ingin diwaralabakan harus memiliki persyaratan dan kriteria. Setidaknya menurut PP No. 42 tahun 2007, pasal 3 disebutkan 6 kriteria antara lain, pertama, memiliki ciri khas usaha, ked
Read More
Master Franchise Atau Monopoli?
Di dunia franchise kita mengenal istilah master franchise. Master franchise adalah Penerima Hak ekslusive dari franchisor untuk mengembangkan merek usahanya dalam satu negara. Selain menjadi kepanjang
Read More
Franchise dan Ekonomi Kerakyatan
Banyak istilah ekonomi yang berkembang dewasa ini. Diantaranya adalah istilah ekonomi kapitalis, ekonomi liberal, ekonomi pembangunan, ekonomi sosialis, ada pula ekonomi kerakyatan. Model ekonomi yang
Read More
Berkorban Demi Konsumen di Masa Krisis
Ekonomi Indonesia tengah mengalami penurunan satu tahun terakhir ini. Beberapa perusahaan mengambil kebijakan yang tidak populis seperti stop berekspansi, menaikkan harga jual produk, mengurangi ukura
Read More