Family Business dan Next Generation

Bulan lalu saya melakukan kunjungan ke AJBS Group, perusahaan besar yang memproduksi mur dan baut di Surabaya. AJBS adalah market leader di industri baut dan mur yang sudah berdiri sejak 1966. Perusahaan ini memproduksi 60 ribu jenis baut dan mur. 

Saya melihat lebih dekat bagaimana perusahaan ini dikelola oleh generasi kedua dan ketiga. Meski tergolong perusahaaan keluarga namun AJBS mampu dijalankan secara profesional. Generasi kedua berkolaborasi dengan baik dengan generasi ketiga AJBS.

Dari sana saya melihat, bahwa perusahaan keluarga pun bisa bersaing dengan perusahaan besar jika dikelola dengan solid. Justru perusahaan keluarga lebih punya kekompakan dalam menjalankan perusahaan jika punya visi yang sama dengan generasi kedua.

Di AJBS, filosofi perusahaan yang ditanamkan generasi pertama masih dipegang teguh oleh generasi kedua dan ketiga. “Menjaga Kepercayaan”, itulah filosofi yang melekat di dinding kantor pusat AJBS. Baik generasi kedua maupun ketiga menghayati betul filosofi ini.

Generasi kedua, meskipun cenderung lebih modern dalam mengembangkan bisnisnya tidak kemudian menyimpang dari prinsip bisnis pendahulunya. Mereka tetap memegang terguh prinsip bisnis yang dikembangkan generasi pertama dan kedua.

Prinsip kerja memang tidak berubah, tapi model kerja boleh berbeda. Tak ubahnya generasi muda pada umumnya, model kerja generasi ketiga AJBS juga mengedepankan efektivitas dan kecepatan dalam mengelola perusahaan dengan melibatkan IT dan teknologi. Mereka ingin perusahaan berjalan dengan sistem.

Generasi ketiga ini mulai membangun sistem Microsoft GP dalam mengelola data perusahaan. Selain itu, mereka juga mengubah jalur distribusi konvensional dengan membuat distribusi baru yang lebih modern lewat jalur franchise. Lewat merek RJ Steel, generasi ketiga mengembangkan sistem franchise.

Terbukti, mereka berhasil mengembangkan RJ Steel hingga memiliki 15 cabang yang tersebar di daerah Malang, Pasuruan, Ponorogo,  Palu, Banjarmasin, Kupang, Makassar, Kendari, Gresik, Manado, Yogyakarta, Madiun, Sidoarjo, Babat, Lombok.

Jalur distribusi yang dikembangkan oleh generasi ketiga ini dinilai mampu menumbuhkan bisnis perusahaan, juga omzet bisnisnya. Di tengah banyaknya pesaing dari luar, terutama dari negara China, jalur distribusi ini bisa mendongrak penjualan yang semula hanya lewat jalur biasa seperti keagenan dan distributor.

Dari kunjungan di sana saya memetik pelajaran bisnis, bahwa perusahaan keluarga pun tidak kalah bersaing dengan perusahaan yang sudah Tbk jika dikelola dengan baik dan melibatkan generasi penerus, yang memiliki energi tinggi dalam berinovasi dan membentuk perubahan di lingkungan perusahaan.

Tidak sedikit perusahan keluarga di Indonesia yang justru lebih bertahan lama. Pada 2014, perusahaan audit asal Amerika Serikat, Price Waterhouse Cooper (PwC) melakukan survei mengenai bisnis keluarga di Indonesia. Dari hasil survei tersebut, lebih dari 95 persen perusahaan di Indonesia merupakan bisnis keluarga.

 

 

 

 

 

 

Berburu Produk di Lokasi Non Strategis
Dalam bisnis, lokasi dianggap sebagai salah satu syarat utama untuk menunjang kesuksesan bisnis. Tanpa lokasi yang strategis mustahil sebuah bisnis akan bisa sukses. Bayangkan, apakah Mc Donald’
Read More
Menggali Potensi Kewirausahaan di Jawa Timur
Bulan lalu, Majalah Franchise Indonesia bersama Neo Organizer dan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), menggelar pameran franchise atau Info Franchise & Business Concept (IFBC) di Surabaya. Bertempat d
Read More
Menjaga Image dan Trust di Bisnis Waralaba
Belakangan ini saya melihat beberapa merek franchise dan BO tersandung kasus hukum. Kasus hukum tersebut terjadi karena adanya konflik dengan franchisee maupun calon franchisee. Dari beberapa kasus ya
Read More
Bisnis itu Simpel, Mulailah dengan Market Base yang Besar
Gairah bisnis di Indonesia terus tumbuh, terutama di sektor UMKM atau bisnis yang menyasar segmen menengah bawah. Beberapa dari mereka ada yang berhasil mengembangkan bisnisnya hingga besar. Namun tid
Read More