Memberdayakan UKM Menjadi Usaha Unggulan

Indonesia memiliki sektor bisnis UKM yang sangat besar sebagaimana negara-negara maju seperti Amerika, Singapura, China, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa. Harus diakui, UKM lah yang menjadi faktor penting penunjang ekonomi di suatu negara. Saat krisis 2008, Indonesia bisa selamat karena salah satu faktornya memiliki sektor UKM yang kuat. Sehingga ekonomi domestik tetap bergerak meski sektor bisnis ekspor-impor melemah.  

Tak heran jika beberapa institusi keuangan banyak yang menggarap sektor UKM untuk mengucurkan dana, baik berupa pinjaman, kredit, maupun kerja sama. Institusi-institusi  tersebut saya lihat tengah getol menggarap sektor UKM, baik untuk memberikan pinjaman maupun bekerja sama.

Namun satu hal yang menurut saya kurang diperhatikan adalah pola kerja sama apa yang cocok untuk membantu UKM? Menurut saya ini penting, karena kalau hanya sekadar memberikan pinjaman saja akan kurang efektif. Karena bagaimana pun dana yang dipinjamkan harus dikembalikan oleh UKM. Nah, tugas institusi tersebut adalah membantu mereka (pemain UKM) untuk maju menjadi usaha yang ungggulan.

Lalu bagaimana caranya? Banyak pola dan skema yang bisa dijadikan cara untuk membantu UKM. Menurut saya ada dua jalur. Satu produk yang bisa diarahkan ke lisensi. Tapi sebelumnya dia bisa angkat untuk menjadi agen atau reseller. Kedua, pola micro franchising. Jadi bisa diarahkan ke BO dulu, baru nanti ke arahnya micro franchising. Mungkin tahap awal kita arahkan ke franchise start-up.

Micro franchising sendiri sudah saya gaungkan sejak beberapa tahun ini. Saya menyarankan kepada pihak perbankan untuk membuat program ini, di mana usaha-usaha yang sudah unggul dan dikenal di daerah bisa dikembangkan, untuk diduplikasi menjadi micro franchising. Usaha-usaha itu memang baru, tapi yang unggulan dan ditangani dengan serius untuk menjadi usaha yang unggulan.

UKM Indonesia bidangnya sangat luas jika bisa diberdayakan menjadi micro franchising. Kulinernya saja sangat beragam dari Aceh sampai manado, atau bidang ethnic specific food. Terus juga minumannnya ada es teba di Minang. Di Makassar ada es Palu Butung. Ada bajigur, wedang ronde di Jawa Tengah, ada cendol juga. Kopi juga bisa menjadi suatu peluang yang menarik. Kopi toraja saja banyak, ada Mandeling, Bali. Java kopi juga ada tersendiri.

Itu semua kan bisa dikembangkan ke arah mirco franchising, keagenan, atau reseller sehingga bisa menambah lapangan pekerjaan. Belum lagi barang kerajinan juga banyak. Menciptakan tas, kerajinan tangan. Gambar padi yang pakai batang padi bikin beca, delman, petani lagi nyangkul, dari batang padi. Itu juga bisa diarakhan ke pola keagenan, reseller atau lisensi.

Selain itu, perbankan juga harus punya program pembinaan dan pendampingan untuk UKM-UKM. Memang di situ dibutuhkan trainer, pelatih bisnis. Tapi trainer yang bagus, jangan yang asalan. Jangan yang masih baru. Orang sekarang cepat bisa jadi konsultan meski belum ahlinya. Jadi harus mencari trainer yang sudah punya sertifikat dan bersertifikasi, misalnya Certificate Franchise Executive dari IFA ( International Franchise Association).

 

 

  

 

 

 

 

Ciri Khas (Keunikan) Itu Harus Diciptakan di Banyak Lini
Suatu usaha yang ingin diwaralabakan harus memiliki persyaratan dan kriteria. Setidaknya menurut PP No. 42 tahun 2007, pasal 3 disebutkan 6 kriteria antara lain, pertama, memiliki ciri khas usaha, ked
Read More
Persiapan AFI Gelar World Franchise Summit 2016
Beberapa bulan kedepan, Asosiasi Franchise Indonesia akan menggelar World Franchise Summit 2016 (WFS). Event ini akan menjadi hajatan terbesar franchise di Indonesia. Acara tersebut akan dihadiri oleh
Read More
Pergantian Master Franchisee, mungkinkah?
Beberapa saat yang lalu ada seseorang yang bertanya kepada kami selaku Asosiasi Franchise Indonesia. Apakah mungkin terjadi pergantian Master Franchisee dari pihak pertama ke pihak lainnya, seperti ya
Read More
Trend Baru di Industri Bisnis dan Waralaba
Banyak perubahan bisnis yang terjadi belakangan ini. Sejak mudahnya akses internet melalui gadget dan smartphone, maka pola belanja konsumen pun banyak yang berubah. Konsumen yang biasanya harus bersu
Read More